Bola mata cowok itu sedikit bergerak ke arah sumber suara. Di sana, ada Damara yang tampak memerhatikannya dengan penasaran.
"Dari mana aja lo? Ditungguin jug--eh, itu apaan di tangan lo?" tanyanya yang sebenarnya cuma basa basi.
"Lo bego?" jawab Candra sarkas, lalu menarik satu kursi dan segera menekan tombol power pada komputer di depannya.
"Gue tau itu jaket, Bambang. Maksudnya punya siapa? Gak biasanya lo bawa jaket ke sekolah." Damara sedikit mencondongkan tubuhnya ke samping--mendekati Candra.
"Punya siapa?" tanyanya pelan dan terlihat curiga.
Candra menoleh sinis dengan alis yang menukik sebelah. "Punya Cakra."
"Hah?! Kok bisa punya Cakra ada sama--ahk! Maksud gue, lo udah baikan sama Cakra?" tanya Damara berusaha kalem, namun kali ini dengan kekepoan yang teramat.
"Sasa yang nganterin ke gue."
Lima kata itu sontak membuat jiwa penasaran Damara semakin berkoar-koar.
"Sasa? Siapa, Dra? Kok bisa dia ngasih ke lo? Kenapa gak langsung ke Cakra aja? Hah? Hah? Hah?" berondong Damara bersama rasa penasaran yang meledak-ledak, membuat Candra pening bukan main.
"Harus banget gitu gue ceritain kronologinya?"
"Iya!"
"Males."
Candra lebih memilih--beralih pada komputer yang telah menyala di depannya. Lebih baik ia mengabaikan Damara yang masih saja meruntukinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya kesal.
Ya, Candra kepanasan mengetahui kedekatan saudara kembarnya itu dengan Sasa, si gadis yang sempat tidak sengaja ia temui di cafe waktu itu.
Tetapi ....
Apa alasannya? Candra juga masih bingung dengan sikapnya sendiri.
"Woi, Dra!"
Candra meringis sembari menutup telinganya. Damara tiba-tiba berteriak di daun telinganya dengan suara sumbang. Hal itu benar-benar menjengkelkan dan ia tidak suka diusik saat sedang memikirkan sesuatu.
"Bisa kecilin suara gak? Kalo gendang telinga gue sampe bolong, gue tuntut lo."
"Bisi kicilin siiri gik? Kili ginding tilingi gii simpi biling, gii tintit li. Hiiii," ulang Damara penuh nyinyiran.
Ctak!
Jari Candra menekan enter dengan kasar, lalu menoleh pada Damara seolah-olah gerakannya barusan adalah sebuah gertakan.
Damara tampak menelan salivanya dengan susah payah. Takut? Tentu saja!
Siapa yang tidak mengenal Candra Clovis Bamantara? Selain dikenal sebagai ketua komite kedisiplinan, Candra juga adalah salah satu siswa berbakat kesayangan para guru di sekolah tersebut. Bahkan, kepala sekolah secara terang-terangan mengatakan ingin mengadopsi Candra menjadi anaknya karena keahlian luar biasanya dalam bidang komputer.
Bisa dibilang, mencari masalah dengan Candra sama saja dengan hengkang dari sekolah.
"Gue diem. Oke?"
Sedikit puas dengan keputusan Damara, Candra pun tersenyum sinis dan kembali berkutat dengan layar monitor di depannya.
"Oh, iya."
Candra menghela napas panjang. Dua kata pembuka dari Damara sudah pasti diikuti pertanyaan dan pertanyaan itu tentunya akan bercabang-cabang.
"Gue mau nanya sesuatu ke lo."

KAMU SEDANG MEMBACA
My Boy is a Hacker (Completed)
Teen Fiction[Sudah terbit di Laskar Publisher, novel masih bisa di pesan lewat Shopee, link ada di bio profil.] Ini bukan kisah cinta biasa. Ini adalah kisah cinta Clarissa Nazela Askara, gadis berparas cantik yang menderita kleptomania. Tentang Candra Clovis B...