°Chapter 7

106 17 0
                                    


Sedangkan di lain tempat seorang gadis yang tak lain adalah Sasa sedari tadi masih menunggu jemputan oleh supir pribadi keluarganya, Pak Jono. Ia pun mulai merasa gelisah karena saat ini cuaca mendung. Sasa pun melangkahkan kaki jengjangnya berniat untuk menunggu sang sopir di halte saja karna cuaca yang semakin mendung dan rintik hujan yang mulai membasahi bumi

Dan disinilah ia sekarang, menunggu supir pribadinya di halte yang lumayan jauh dari pekarangan sekolah. 15 menit sudah Sasa menunggu supir pribadinya yang sedari tadi tidak kunjung datang dan di saat ia akan membuka handphone nya, ternyataaa---

"Sial! Kok bisa mati sih? Aduh gimana ni lagi butuh juga hp pake mati segala," kesal sasa karena HP nya mati kehabisan baterai.

Sasa yang kesal mau tak mau akhirnya memasukkan ponsel nya kedalam tas yang ia kenakan dan disaat itu tak sengaja matanya melihat ada seorang pria yang sedang berlari ke tempat dimana Sasa sekarang berada. Pasti kalian tau siapa pria itu, Yap! Itu Cakra. Ia berjalan ke arah Sasa.

"Oi, nungguin siapa lo?" tanya Cakra sok akrab.

"Bukan urusan lo," jawab Sasa yang begitu ketus dan tak berminat untuk meladeni manusia aneh satu ini, karena ia masih takut perihal masalah spidol tadi siang di koridor sekolah.

"Gue tebak pasti lo lagi nungguin jemputan kan?" ucap Cakra sambil menaik naikkan sebelah alisnya.

"Udah gue bilang bukan urusan lo!! Lo budek ya? Apa pura-pura budek hah?!!" kata Sasa dengan suara yang lumayan tinggi.

"Ya, ya terserah lo dah, tapi gue beneran nanya. Lo disini nunggu jemputan?" tanya cakra sekali lagi.

Yang ditanya hanya memutar bola matanya malas dan enggan untuk menjawab pertanyaan manusia yang ada dihadapannya saat ini.

Cakra kesal, pertanyaannya tidak di jawab oleh gadis itu.

"Lo diem berarti iya. Kalau gitu ayo, lo gue anter. Gue yakin jemputan lo gak bakalan dateng dan sebentar lagi hujan. Lagian jam segini gak ada angkutan umum atau taksi yang lewat di sekitar sini," ucap Cakra panjang kali lebar menawarkan Sasa untuk pulang bersamanya.

"Gak, gue gak peduli," ketus Sasa.

"Emangnya lo mau nunggu sendirian disini nanti ada ---"

JDERR!!

Deketika ucapan Cakra terpotong karena suara kilat yang menyambar.

Sasa yang mendengar suara kilat itu pun tersentak dan segera menutup telinganya gamang. Melihat reaksi Sasa yang seperti orang ketakutan, Cakra pun tersenyum sinis.

"Tuh. Langit aja ngasih isyarat biar lo pulang bareng gue."

Sasa mencebik dan tak lama setelah itu ia menjerit karena petir kembali menyambar.

JDERR!!

"Mama!"

Cakra berjongkok dan menatap Sasa yang meringkuk di sudut halte bus. "Lo phobia sama suara petir kan?" tanya Cakra dan bersamaan dengan itu, rintik hujan mulai turun dan membasahi jalanan yang sepi.

"Yakin gak mau gue anter?" desak Cakra yang tampaknya enggan menyerah.

"Yaudah iya! Gue pulang bareng lo, tapi ingat ini karena TERPAKSA bukan karena gue mau dianter pulang sama lo," sarkas Sasa mengucapkan kalimatnya ke Cakra dan menekankan kalimat _terpaksa_

"Oke. Terserah lo deh mau ngomong apa," ujar Cakra yang menjulurkan tangannya untuk membantu Sasa berdiri.

Akhirnya dengan terpaksa dan dengan perasaan kesal yang memuncak Sasa menyetujui untuk pulang bersama Cakra.

My Boy is a Hacker (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang