Ruang komputer saat itu sedang sepi. Hanya ada Candra yang tengah melamun menghadap layar komputernya.
Dirinya masih memikirkan perbincangannya tadi dengan pria misterius yang tadi sempat ia kenali wajahnya. Om Radit.
Flashback
"Anda siapa?" tanya Candra tenang.
Langkah laki-laki itu terhenti. "Jangan ikut campur!" sergah pria itu.
"Apa maksud ucapan anda pada Sasa?"
"Sudah saya bilang jangan ikut campur. Kamu cukup sekolah jangan campuri urusan orang lain."
"Urusan Sasa urusan saya juga." Tidak butuh waktu lama satu tinjuan berhasil mendarat di wajah pria itu.
DUAGH!
Pria itu meringis. "Kamu membela seorang anak pembunuh, hah?!" bentaknya.
Candra masih bingung dan belum bisa mengenali siapa wajah di balik masker itu.
"Maksud anda apa?!"
"Asal kamu tau, gadis yang kamu suka itu adalah anak dari pembunuh ibumu!" tegas pria itu.
Candra terkejut. Benar-benar terkejut.
"Bagaimana anda bisa menyimpulkannya dengan mudah tanpa adanya bukti?!" jawab Candra tak kalah tegas. Dia tidak akan terpengaruh dengan mudah tanpa adanya bukti yang kuat.
"Kau perlu bukti? Tanyakan pada papamu siapa orang yang telah menabrak ibumu saat itu," jawab pria itu yakin.
"Anda jangan main-main, tuan!" tekan Candra.
"Datanglah jika kau butuh penjelasan lebih dariku." Pria itu memberikan sebuah kartu alamat pada Candra namun dihempaskan begitu saja oleh Candra.
"Jangan pernah temui atau bahkan mengancam Sasa lagi!" gertak Candra penuh penekanan. Tangannya mengepal kuat.
"Cih!" pria itu berdecih.
Tidak tahan dengan sikap pria di depannya ini, Candra pun bersiap melayangkan tinjunya lagi namun gagal karena pria itu telah lebih dulu menghindar.
Sebaliknya, pria itu berbalik melayangkan tinjunya yang berhasil ditangkap oleh tangan kekar Candra. Candra memelintir tangan pria itu kebelakang lalu menekan bagian bahunya dan menendang kaki pria itu hingga membuatnya jatuh terduduk.
Pada kesempatan itu, Candra langsung menarik ke bawah masker pria itu dan seketika dibuat terdiam saat wajah pria itu sudah terlihat. Dengan cepat pria itu memasang kembali maskernya dan berlari meninggalkan Candra yang masih membeku.
"Om Radit," gumam Candra.
Candra menghela napas berat.
Apa benar itu Om Radit? Apa maksud dari semua ucapannya? Apa benar orang tua Sasa yang menabrak mama? batin Candra bertanya-tanya.Cowok itu menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau memusingkan semua ucapanRadit kemarin. Candra pun kembali memfokuskan pandangannya pada layar monitor.
***
Tet ... tet ... tet ....
"Baiklah pelajaran hari ini cukup. Ibu akhiri dulu. Selamat siang," ucap Bu Anya--guru Biologi
"Siang bu," jawab seisi kelas.
Sesaat setelah Bu Anya keluar, lautan manusia pun terjadi. Semua siswa berhamburan keluar kelas menuju kantin. Sama halnya dengan Sasa dan Sherly.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Boy is a Hacker (Completed)
Roman pour Adolescents[Sudah terbit di Laskar Publisher, novel masih bisa di pesan lewat Shopee, link ada di bio profil.] Ini bukan kisah cinta biasa. Ini adalah kisah cinta Clarissa Nazela Askara, gadis berparas cantik yang menderita kleptomania. Tentang Candra Clovis B...