BRAK!
Pintu itu mendenting keras setelah Candra menutupnya dengan penuh kekuatan.
"Cih ...." decaknya sembari menjatuhkan diri ke kasur.
Candra masih terus membayangkan bagaimana Cakra--kembarannya itu memberikan jaket kepada Sasa dan pergi berboncengan menembus hujan. Hanya berdua saja mereka di atas motor itu.
Bukankah itu pemandangan yang cukup romantis? Lalu kenapa Candra harus jengkel melihat itu?
Atau jangan-jangan ....
***
"Thanks udah nganterin gue," kata Sasa ketus seraya menyodorkan helmnya kepada sang pemilik.
"Iye sama-sama. Elah senyum napa sih. Muka udah kayak baju belum disetrika. Kusuttt amatttt ...." sindir Cakra mendramatisir.
"Suka-suka gue lah! Muka-muka gue ngapa lo yang ribet heh?!" semprot Sasa dengan cepat, bahkan ia melupakan titik koma pada ucapannya.
"Anjirr, selo dong beb. Cantik-cantik kang ngegas, ih. Aing gak suka. Ntar cantiknya ilang loh."
Sasa hanya memutar bola matanya muak. Cakra terus dan terus saja menggoda dirinya. Dia benar-benar menjengkelkan! Padahal waktu itu--di cafe--sikapnya begitu dingin dan sekarang?
Tidak beretika dan beradab sama sekali.
"Najissssss! Mending lo pulang sekarang ato gue panggilin Jefri?"
"Hah?! Jepri? Jepri nikol?!" kilah Cakra pura-pura bego.
Sasa menarik napas dalam-dalam dan memekik dengan penuh tenaga.
"Jefriiiiiiii!"
Guk! Guk! Guk!
Ya, Jefri adalah anjing peliharaan Sasa.
"Oh, shit." Cakra mengumpat pelan, sementara Sasa sudah melipat tangannya pongah.
"Jadi, mau pulang sekarang sebelum Jefri gigit lo?"
Senyum tengil pun tampak menerbit dikedua sudut bibir Cakra kali ini.
"Ekhem ...." dehamnya sembari mengusap rambut ke atas dan memasang wajah terkeren yang ia miliki, namun justru menjijikkan bagi Sasa.
"Lo perhatiann yak sama gue? Takut si Jefri lukain gue 'kan?"
Lagi, Sasa mencebik karena kepercayaan diri Cakra yang melangit.
"Males banget merhatiin lo. Udah buru pulang," pungkas Sasa lelah, akhirnya ia mendorong punggung Cakra--meminta agar cowok itu segera meninggalkan rumahnya.
"Yaudah, gue balik. Awas kangen," tangkas Cakra dengan kerlingan genit untuk Sasa.
"Najisudih, cuih! Cuih! Jijay anjir. Udah kek om-om pedo lo, sialan!" sarkas Sasa.
"Haha, canda kok." Cakra pun memutar kunci motornya. "Gue pulang dulu ya, cantik."
Sebelum mendapatkan teriakan dari Sasa untuk kesekian kalinya, Cakra langsung melaju pergi dengan tawa yang begitu puas.
"Banjing," gumam cewek itu menatap punggung Cakra yang perlahan menghilang.
Langkah kaki Sasa pun memasuki rumahnya dengan helaan napas yang begitu berat. Alasannya hanya satu, rumahnya yang selalu sepi seolah tak berpenghuni.
Orang tuanya selalu saja sibuk bekerja. Mereka bahkan jarang meluangkan waktu hanya untuk familytime dan hal itu membuat Sasa merasa terasingkan.
Sesampainya di kamar, cewek dengan rambut panjang itu merasa ada yang aneh di tubuhnya dan saat ia melihatnya ....

KAMU SEDANG MEMBACA
My Boy is a Hacker (Completed)
Fiksi Remaja[Sudah terbit di Laskar Publisher, novel masih bisa di pesan lewat Shopee, link ada di bio profil.] Ini bukan kisah cinta biasa. Ini adalah kisah cinta Clarissa Nazela Askara, gadis berparas cantik yang menderita kleptomania. Tentang Candra Clovis B...