°Epilog

120 6 0
                                    

Ini hanya sebuah ungkapan kecil dari hati yang paling dalam

Untukmu, lelaki yang pernah singgah dihatiku, meski sebentar

Kau tahu, aku tidak pernah menyangka jika akhir dari semuanya akan seperti ini

Kau lelaki hebat yang pernah kutemui, kau teman kecilku yang kuat, kau seorang introvert yang memiliki sisi lembut didalamnya. Aku tak ingat bagaimana kita bisa berteman dulu. Rasanya aku merindukan semua yang pernah kita lalui sewaktu kecil

Kehadiranmu adalah mentari bagiku. Cahaya bagi hidupku yang kelam

Tapi, mengapa takdir Tuhan lain? Tuhan tak mengizinkan kau untuk bersamaku lebih lama lagi.

Aku kelabu tanpamu.

Terima kasih telah hadir dihidupku. Terima kasih untuk selalu ada dibelakangku, melindungiku.

Candra.... aku merindukanmu

"Sasa" panggil seseorang

"E-eh iya" jawabku mengusap airmata yang sejak tadi sudah turun

"Lo nangis?"

"Enggak kok. Siapa yang nangis, cuma kelilipan" elakku

"Lagi kangen ya" ucap dia seraya mengusap puncak kepalaku

Aku hanya mengangguk lemah dan air mataku kembali turun tanpa diperintah

"Candra nitipin elo ke gue bukan untuk nangis, Sa. Tapi untuk bahagia"

"Kenapa harus Candra. Kenapa Candra yang harus dipanggil duluan? Harusnya gue, gue yang penyakitan, gue pantes mati! Tapi kenapa Candraa.. kenapa harus Candra.." entah mengapa, pagi ini aku begitu emosional. Dia merengkuh dan memelukku. Aku menangis dalam peluknya.

"Nangis aja, Sa. Terkadang kita perlu menangis jika itu bisa membuat kita lebih baik" dia terus mengusap punggungku, menenangkan.

"M-makasih... Dam" jawabku disela-sela tangisku

Damara. Lelaki itu yang kini ada untukku. Candra telah menitipkanku pada Damara. Damara memiliki sisi yang kurang lebih sama dengan Candra, itulah mengapa aku merasa cepat nyaman dengannya. Damara benar-benar menjagaku dengan baik.

"Sasa" Damara melepaskan pelukannya dan beralih menarik kedua tanganku.

Aku mengangkat wajahku dan memandang Damara yang lebih tinggi dariku itu.

"Izinin gue untuk menjaga lo lebih dari ini. Izinin gue untuk menyayangi lo lebih dari ini. Izinin gue untuk terus sama lo lebih dari ini, Sa." Damara lalu bersimpuh dihadapanku "Clarissa Nazela Askara, will you marry me?" Terlihat ketulusan dan keyakinan dalam diri Damara.

"Haha bercanda lo. Lo mau khianatin sahabat lo sendiri?" ucapku mengejek Damara

"B-bukan..."

Dengan mantap aku mengangguk dan menjawab "Ya, Dam"

Damara terlihat bingung.

Aku langsung memeluknya dan berteriak "YAA DAMARAA GUE MAUU!!!"

Damara terkejut lalu mengeratkan pelukannya.

Suara riak sungai dan hembusan semilir angin menambah sisi romantis sore itu. Semua orang yang ada disana bertepuk tangan berteriak mengucapkan selamat dan juga mengabadikannya dengan gawai mereka.

Candra, kau melihatnya kan?
Temanmu berani melamarku
Haha bukankah dia pengkhianat?
Aku menerimanya. Dia sama denganmu, dia mengingatkanku tentangmu
Terima kasih telah mengirim Damara untukku. Bahkan untuk saat terakhir pun kau masih berusaha melindungiku, Candra

My Boy is a Hacker (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang