°Chapter 39

64 9 1
                                    

Tiba di depan rumahnya, Sasa menoleh ke belakang dan menatap Candra yang tengah berada di dalam mobilnya.

"Mm ... makasih ya kak karena udah repot-repot anterin pulang," ucap Sasa sedikit tersenyum ramah, lalu diangguki oleh Candra.

Setelah Candra menginjak pedal dan melaju pergi, Sasa pun mengernyit heran. "Bentar dulu. Dia tau alamat rumah ini dari mana ya?"

Menggeleng-geleng, Sasa memilih masuk dan tidak ingin ambil pusing. Sudah banyak hal yang membuatnya meringis, ia tidak akan menambahnya lagi. Sekarang lebih baik ia membersihkan dirinya dan mengganti seragamnya yang bau lepek.

Seusai membersihkan diri, Sasa kembali termenung di atas tempat tidurnya. Meski Candra mengatakan sudah memaafkannya, namun bagi Sasa belum cukup jika ia tidak mendengar pengampunan dari Cakra.

Dilanda kegundahan, Sasa tidak tau harus senang atau sedih ketika papahnya dimasukkan ke dalam sel. Mungkin ia harus bahagia karena berkat kejadian ini, kini sang mamah mulai memerhatikan dirinya. Salah satunya perihal penyakitnya ini.

Tok! Tok! Tok!

Suara Andin pun terdengar memanggilnya dari luar. "Sayang, dokter Akira udah datang."

"Iya, Mah."

Ya, mamahnya itu mulai menyewa seorang psikiater handal untuk membantu memulihkan psikologinya. Hal ini karena rasa bersalah Andin yang menguar ketika mengetahui bahwa sang putri lagi-lagi menjadi korban bullying di sekolah.

"Hai, bagaimana kabar kamu?" tanya dokter wanita tersebut dengan ramah. Gigi gingsulnya menambah kesan manis di wajahnya.

"Hmm, lumayan." Sasa duduk di sofa, memandangi dokter Akira yang masih berbenah, mencari sesuatu di dalam tas imutnya.

"Seperti yang sudah-sudah ya. Coba kamu rileks dulu. Tarik napas dan hembuskan pelan." Dokter Akira memberikan instruksi dan diikuti oleh Sasa. Ketika ia mendapatkan benda yang sedari tadi ia cari, dokter Akira pun menekan speaker berbentuk apel itu.

Alunan melodi piano yang terdengar menenangkan. Sasa yang sedari tadi menyimpan unek-uneknya, kini perlahan merasa ringan. Instrumen lembut yang diputar oleh dokter Akira membuatnya merasa rileks dan ingin tidur. Sasa memejamkan mata.

"Sasa, mengambil barang tanpa sepengetahuan pemiliknya itu adalah perilaku yang kurang baik. Kamu adalah anak baik bukan?"

Tampaknya dokter Akira mencoba memberikan semacam sugesti pada Sasa. Karena, pada dasarnya penyakit psikologi tidak memiliki obat. Dia pun hanya bisa menekan dan mengubah pola pikir Sasa agar keinginannya mengambil barang tanpa izin bisa berkurang secara berangsur-angsur.

"Iya," jawab Sasa.

"Karena kamu sudah tahu. Berarti boleh dong kalau mulai sekarang, semua yang kamu inginkan harus pinjam dulu ke pemiliknya. Begitu pula kalau lagi pergi ke tempat umum. Apa pun yang kamu mau harus bayar. Itu baru mencerminkan anak baik. Nah, dalam hitungan mundur tiga sampai satu, kamu akan bangun. Tiga ... dua ... satu ...." kata dokter Akira dan ditutup jentikan jari. Sasa pun tersadar.

"Review coba, jangan lupa subscribe dan tinggalin jejak berupa komen dan vote."

Guyonan dokter Akira membuat Sasa tertawa kecil. Bahkan sejak hari pertama, dokter ini terasa begitu akrab. Mungkin karena tuntutan profesi, di mana seorang psikiater harus terlihat ramah agar pasien tidak ketakutan ketika akan menjalani terapi psikologi.

"Makasih banyak ya, dokter Akira." Andin terlihat melambaikan tangan ketika mengantar dokter Akira sampai ke depan pintu rumah. Sasa yang di sampingnya juga ikut mengucapkan salam perpisahan.

My Boy is a Hacker (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang