Jangan lupa ramaikan komentar dan kasih vote, bestie🙌
Happy Reading!
ECCEDENTESIAST
[1.Menindas yang lemah]
''Ketika keadilan hanya menjadi sebuah keformalitasan.''
.
Senin, 08.10
Pagi ini matahari terbit agak lambat dari biasanya. Semua karena awan mendung yang menguasai sebagian langit hingga menutupi terang cahaya matahari. Hari ini seolah sebuah beban yang sangat besar bagi sebagian murid. Hari senin adalah saat dimana semua warga sekolah melakukan upacara bendera. Bukan upacaranya yang menjadi permasalahan. Tapi ceramah seorang guru killer bernama Sudarman.
Semua tengah berdiri di lapangan upacara. kedua tangan dengan posisi istirahat ditempat. Mendengarkan ceramah panjang pak Sudarman yang bagaikan perjalanan dari jakarta sampai london. Terdengar berlebihan memang, tapi itu kenyataannya.
Di tengah tengah barisan upacara, berdiri seorang gadis yang tengah menggerutu sedari tadi. Dia lah si pemeran utama dalam cerita ini.
Seenara Melati Airlangga atau panggil saja Seena. Cewek sableng yang selalu bertingkah semaunya sendiri. Tidak peduli bagaimana sekitarnya memberikan respon, prinsipnya; Yang penting gue seneng, kalau dengan gosipin gue bikin mereka ikut seneng kenapa enggak?
Seena berdiri di belakang dua sosok gadis yang selama ini menjadi sahabatnya.
Namanya Caramel Starla Gaveena atau kerap disapa Cara. Gadis tomboy dengan tinggi 155cm yang selalu terlihat menggunakan gelang berwarna hitam dipergelangan tangan kirinya.
Yang satunya Anggica Pelangi Maudya atau sebut saja Anggi. Cewek feminim namun bersuara melengking. Sebelas dua belas lah dengan gledek. Sifatnya tidak jauh berbeda dengan Seena. Hanya saja dia sedikit lebih pintar dari Seena. Ingat ya sedikit! Anggi juga tipe cewek playgirl. Dan dari ketiganya hanya Anggi yang saat ini punya pacar.
Mereka bertiga sebenarnya beda kelas. Seena dan Cara sudah kelas sebelas sedangkan Anggi masih kelas sepuluh. Namun dengan otak cerdik mereka bisa menyelundupkan Anggi agar bisa berdiri di barisan anak anak kelas sebelas tanpa ketahuan guru. Jelas saja tubuh Anggi yang bisa dibilang bongsor dengan tinggi 162 cm bisa dengan mudah menyamar bersama barisan kakak kelasnya. Sedangkan kedua rekannya masih di bawahnya jauh. Cara dengan tinggi 155 cm dan Seena 157 cm.
Anggi tampak menggerakkan sepatunya sedari tadi. Menggambar di atas angin saking gabutnya. Sudah satu jam lebih ia berdiri di sana tanpa melakukan apapun. Mulutnya gatal ingin berteriak tapi dia masih jaga image.
''Bosen banget.'' gumamnya lirih. Wajahnya memelas dengan dua sudut bibir ditarik ke bawah.
''Coba aja tadi gue bawa makanan, kenyang gue sekarang.'' lanjutnya sambil memegang perutnya yang keroncongan dari tadi. Maklum, dia belum sempat sarapan tadi karena bangun kesiangan.
Cara melirik Anggi lalu berdecak pelan. Kebiasaan Anggi memang sudah sering dia lihat tapi tetap saja membuatnya ingin mengumpat diam diam. Tiada hari tanpa Anggi yang cerewet. Dan itu sudah valid.
''Baiklah anak anak, saya rasa cukup sampai disini. Saya tidak ingin berlama lama karena cuaca sudah mulai panas. Saya tutup sekian, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.'' Seruan dari pak Sudarman menerbitkan senyuman para murid di depannya. Beberapa dari mereka ada yang hanya tersenyum dan ada juga yang bersorak diam diam. Sisanya menjerit senang tanpa peduli tatapan orang orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
ECCEDENTESIAST [✔]
Teen Fiction"Papa pura pura sayang ya sama aku, 15 meniiitt aja. Biar aku tau rasanya punya papa yang sayang sama aku, walaupun cuma pura pura." Seena mengerti seperti apa kehidupan yang ia jalani saat ini. Sebuah kehidupan dengan dirinya sebagai peran utamanya...
![ECCEDENTESIAST [✔]](https://img.wattpad.com/cover/258382010-64-k388515.jpg)