[12.Berteman?]
''Lo nggak akan tahu sifat asli seseorang sampai lo mau mengenalnya lebih dalam.''
.
Angin malam berhembus semakin dingin di malam yang semakin larut ini. Jam menunjukkan pukul 2 dini hari, tapi tidak ada yang menunjukkan tanda tanda mengantuk dari keduanya. Mereka masih asik dalam kesibukannya masing masing.
Sibuk dalam keterdiaman yang membangkitkan suasana sepi diantara mereka. Meskipun sepi adalah hal yang disukai Samuel, tapi untuk yang kedua kalinya saat bersama Seena, Samuel merasa ia membenci suasana ini.
Samuel sudah mendengar sedikit dari cerita hidup Seena yang tidak bisa dibilang baik itu. Ia takut ia tidak bisa melakukan apapun untuk menghibur hati Seena. Maka dari itu, dengan segala keberanian yang ia punya ia merengkuh pundak Seena lalu ia bawa kedalam pelukannya. Untuk badannya yang jangkung itu, ukuran tubuh Seena sangat mungil dalam dekapannya. Dan gadis itu tidak lagi meronta seperti biasanya.
''Lo mau jadi temen gue?'' Samuel berujar lirih sambil sesekali mengusap punggung Seena yang masih bergetar.
Seena melepaskan diri dari Samuel, ia menatap pemuda itu tajam. ''Lo cuma kasihan 'kan sama gue?''
''Lo mau gue kasihani apa enggak?'' Samuel menghela nafas pelan. ''Nggak semua rasa kasihan itu membuat lo kelihatan rendah, Seen. Itu artinya gue peduli sama lo,''
Tatapan tajam Seena mengendur. Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Samuel yang disambut baik oleh si pemilik bahu. Tidak ada perlawanan atau penolakan seperti biasanya, Samuel justru menikmati saat saat itu.
''Gue selalu benci sama orang yang lihat gue dengan tatapan kasihan. Seolah olah gue itu nggak bisa apa apa di mata mereka. Gue merasa gue nggak berguna banget ngelihat tatapan itu,''
''Apa yang lo lihat belum tentu kenyataan, berhenti lihat sesuatu dari sisi buruknya. Kadang lo harus pikirin kebahagiaan lo dari pada mikirin apa kata orang.'' Samuel menatap lurus objek di depannya.
Teras rumah Al saat ini sangat sepi, hanya ada mereka berdua di sana ditemani lampu remang remang yang sengaja dihidupkan. ''Dan coba lihat sekitar lo, ada orang yang sayang sama lo.'' Lanjutnya pelan.
Seena menarik kepalanya dari bahu Samuel. Ia menatap pemuda itu dengan kedua mata bulatnya yang menggemaskan. ''Lo sayang sama gue?''
''H-hah? Ya e-nggak lah!'' Samuel refleks mendorong Seena menjauh sampai gadis itu hampir tersungkur ke lantai. Untung saja jaket yang di pakai Seena memiliki tudung yang agak mengembang, jadi Samuel langsung menariknya dari belakang.
''LO KATANYA MAU JADI TEMEN GUE, KOK JAHAT SIH?!'' Seperti biasa, Seena itu energik. Bagaimanapun situasinya ia akan selalu punya tenaga untuk menjerit apalagi jika itu berhubungan langsung dengan Samuel.
Samuel lantas membekap mulut Seena, yang benar saja ini 'kan sudah malam. Teriakan gadis itu bisa membangunkan satu rumah, atau bahkan satu RT!
''Jangan berisik ah, dasar bom atom!'' Ucap Samuel sembari menoyor kepala Seena pelan. Gadis itu mencibir tanpa suara. ''Boleh 'kan gue jadi temen lo?'' Lanjut Samuel. Ia menatap Seena lembut, tidak menantang seperti biasanya.
Gadis yang tenggelam dalam jaket Samuel itu hanya diam saja. Pikirannya masih melayang layang memikirkan kedua orang tuanya yang tidak pernah bisa akur. Seandainya ia terlahir menjadi adik kandung Aldebaran, mungkin hidupnya tidak akan sesulit ini. Bukannya ia menyesal sudah dilahirkan oleh keluarga Danis Airlangga, ia hanya sedih akan nasibnya. Kapan ia bisa menemukan kebahagiaan yang selama ini ia cari?
KAMU SEDANG MEMBACA
ECCEDENTESIAST [✔]
Teen Fiction"Papa pura pura sayang ya sama aku, 15 meniiitt aja. Biar aku tau rasanya punya papa yang sayang sama aku, walaupun cuma pura pura." Seena mengerti seperti apa kehidupan yang ia jalani saat ini. Sebuah kehidupan dengan dirinya sebagai peran utamanya...
![ECCEDENTESIAST [✔]](https://img.wattpad.com/cover/258382010-64-k388515.jpg)