Starla memegang erat kotak bekal yang sengaja ia buat. Bahkan gadis itu rela bangun lebih awal dari biasanya hanya untuk menyiapkan bekal yang akan ia berikan kepada seseorang. Saat ini, starla tengah terdiam di ambang pintu kelas yang tertutup. Gugup. Itulah yang saat ini ia rasakan. Berkali kali ia menghembuskan nafasnya mencoba menenangkan diri.
Sudah hampir satu Minggu ia dan angkasa tak bertegur sapa bahkan bertemu pun tak pernah padahal mereka satu sekolah. Tentu saja itu karena starla yang selalu berdiam diri di kelas enggan menemui sang mantan kekasih. Iya, starla belum siap bertemu dengan angkasa karena hal itu membuat nya merasakan sesak. Apalagi, saat ini terdengar kabar tentang angkasa yang berpacaran dengan bulan.
Selama itu pula starla menderita. Maka saat ini ia bertekad untuk mendapatkan Angkasa kembali.
Bad Starla.
"Oke starla, Lo tinggal masuk dan kasih kotak bekal ini." Monolog starla.
Gadis itu mulai melangkah membuka pintu yang tertutup rapat. Starla terdiam ketika melihat pemandangan yang membuat dirinya merasakan sakit di ulu hati. Disana, dimeja paling pojok. Angkasa tengah bercanda bersama bulan. Tapi seharusnya starla tak harus merasakan sakit. Lelaki itu kini bukan siapa siapa lagi baginya.
"Ngapain kesini?" Suara yang terkesan dingin membuat lamunan nya buyar. Pandangan gadis itu bertemu dengan tatapan tajam milik angkasa.
Rasanya saat ini ia ingin pergi saja. Namun ia mengingat tujuan awalnya; membuat angkasa kembali lagi kepadanya. Bodoh? Ya, starla memang bodoh. Seharusnya ia tak perlu susah payah membuat sang mantan yang sudah menyakiti nya itu kembali. Namun karena cinta sialan ini membuat Starla harus merobohkan ego dan mempertaruhkan harga dirinya.
"Umm, Angkasa ini buat Lo" Starla meyodorkan kotak bekal kepada Angkasa.
Angkasa menyeringai. Tanpa mengatakan apapun, ia mengambil kotak bekal yang disodorkan starla. Hal itu membuat Starla tersenyum senang. Namun berbeda dengan Bulan yang justru menatap tak suka ke arah starla.
"Loh angkasa ngapain nerima punya starla. Padahal aku udah bawa makanan kesukaan kamu." Seru bulan seraya mengerucutkan bibirnya sebal.
Prak!
Starla membeku menatap kotak bekal yang di lempar angkasa. Membuat isinya berserakan di lantai. Ia menatap tak percaya ke arah angkasa yang kini memasang wajah tak bersalah.
"Angkasa..."
"Gausah ngasih gue kaya gitu lagi. Gak butuh."
"Seenggaknya, kalo Lo ga suka jangan di buang." Starla berbicara dengan suara parau. Gadis itu berjongkok mengambil kotak bekal yang tergeletak. Padahal tadi, ia mengira angkasa akan menerima.
Senyum remeh tercetak. Bulan bersedekap dada seraya menahan tawa melihat Starla yang menderita. Uh, lihat lah wajah gadis itu yang berlinang air mata. Kesenangan tersendiri bagi nya melihat Starla menderita. Karena memang ini lah tujuan awalnya.
"Bodoh. Lo berharap angkasa bakal kembali hanya dengan kotak bekal murahan itu?" Sarkas bulan.
Starla bangkit. Ia menatap angkasa sekilas lalu melangkah pergi meninggalkan kelas yang mulai ramai itu. Rasa nyeri menjalar ke dalam hatinya. Perlakuan angkasa tadi membuat dirinya sadar bahwa ia harus menyerah dan melupakan sosok lelaki itu yang selama ini mengisi hari harinya.
"Risa."
Starla tersenyum ketika melihat punggung Risa. Ia mengusap air mata nya lalu mulai berlari menghampiri gadis itu.
"Lo mau kemana?" Tanya Starla.
Risa hanya melirik sekilas dan kembali melangkah meninggalkan Starla yang terdiam karena terabaikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGKASA ✔
Fiksi Remaja(END) Mereka pikir pertemuan itu hanyalah ketidaksengajaan. Namun, semesta sepertinya gemar sekali bermain main. Garis takdir yang begitu nyata membuat skenario kisah rumit antara Angkasa dan Starla di pertemuan kedua mereka. Ketika Gadis Lugu sep...
