Malam ini begitu cerah oleh cahaya bulan yang menerangi, secerah senyum arsen yang membawa sebuket bunga dan satu keranjang buah buahan. Di samping nya ada Reynand yang berjalan dengan muka datar meratapi nasib mengapa dia harus terus bersama bocah prik ini.
"Menurut lo si Zero bisa bangun gak?." Tanya Arsen yang dihadiahi decakan malas Reynand.
"Dia cuma kebentur tembok bukan lumpuh" Katanya datar.
Reynand memasuki ruangan VIP tempat dimana zero di rawat "Selamat malam, om dan tante" Kata Reynand di balas senyum ramah kedua orang itu.
Kedua lelaki itu berjalan mendekati Zero yang tengah terduduk di brankar dengan sepotong apel yang di potong oleh adik perempuan nya. Sepertinya lelaki itu sudah lebih baik dari terakhir kali mereka bertemu.
"Hi, chelsea udah lama gak ketemu, makin cantik aja" Sapa Arsen kala melihat gadis itu tengah asyik memotong apel untuk sang kakak.
"Kakak siapa ya?"
Dan setelahnya adalah suara tawa dari Reynand dan Zero. Arsen hanya menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Karena memang selama ini Arsen tau Chelsea dari Angkasa yang waktu itu memperlihatkan poto gadis itu kepada anggota nya dulu.
"Gimana keadaan lo?"
"Sedikit pusing, tapi udah mendingan"
"Syukur deh. Kita kesini ngewakilin Anggota yang mau ngejenguk lo. Oh, ini buat lo. Jujur gue gak tau mau bawain lo apa jadi gue sama Reynand berinisiatif beli bunga sama buah buahan" Ucap Arsen seraya tersenyum canggung.
"Thanks bro, titip salam juga buat geng Tigor" Seru Zero yang diangguki oleh Arsen.
"Lo kapan keluar dari rumah sakit?" Tanya Reynand.
"Dokter bilang sih besok gue udah bisa pulang"
"Kalian teman Angkasa?" Suara seorang pria paruh baya mengalihkan atensi kedua lelaki itu.
"Ah, iya om. Kita temen Angkasa"
Pria itu tersenyum lalu menepuk pelan bahu kedua anak muda di hadapannya "Om minta maaf kalau dulu sering ngejelekin kalian"
"Santai aja om, lagian kita ngerti kok gimana khawatir nya seorang ayah ketika tau anak nya terjerumus ke hal yang tidak baik"
"Ngomong ngomong Angkasa kemana?"
Reynand mengembuskan nafas nya pelan "Kami juga tidak tau, kemarin Angkasa bilang mau ngejenguk bareng tapi tadi kita telfon dia gak angkat, mungkin karena dia masih butuh waktu sendiri. Apalagi belakangan ini banyak masalah yang menimpa Angkasa"
Raut khawatir terlihat jelas di antara wajah yang muali menua itu "Saya dengar kalau kekasih nya masuk rumah sakit"
"Starla, dia koma"
Tatapan terkejut dilayangkan oleh pria paruh baya itu.
"Angkasa terpuruk, seseorang yang membuatnya kembali menjadi dirinya sendiri tengah terbaring di rumah sakit. Belum lagi sekarang kedua orang tua Starla melarang Angkasa menemui Anaknya. Arsen harap om dan tante bisa menjadi penyemangat untuk Angkasa. Buat dia yakin kalau selama ini om dan tante juga menyayangi Angkasa"
************
Untuk pertama kali setelah beberapa tahun lamanya Angkasa menetapkan hati nya untuk memasuki sebuah kamar yang sudah lama tidak terjamah siapapun. Ruangan penuh cerita menyenangkan bersama sang bunda dan ayah nya dulu. Namun, setelah kepergian bunda nya, ruangan itu sedikit terasa hampa. Hingga Angkasa memutuskan untuk melarang siapapun memasuki kamar ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGKASA ✔
Teen Fiction(END) Mereka pikir pertemuan itu hanyalah ketidaksengajaan. Namun, semesta sepertinya gemar sekali bermain main. Garis takdir yang begitu nyata membuat skenario kisah rumit antara Angkasa dan Starla di pertemuan kedua mereka. Ketika Gadis Lugu sep...
