29. Zero side

11.5K 442 29
                                        

Rintik air hujan berjatuhan membasahi bumi. Seorang lelaki dengan jaket kulitnya berjalan di jalan setapak yang becek mengakibatkan sepatu nya sedikit terkena kotoran. Rambut hitam legam lelaki itu lepek akibat hujan yang tanpa hentinya turun, seharusnya memang tadi ia membawa payung.

Berjongkok di salah satu gundukan tanah. Lelaki itu menggigit bibirnya pelan seraya mengusap papan nama yang menancap di sana. Tidak ada tatapan datar seperti biasanya. Lelaki itu terlihat lemah dengan mata nya yang memburam menahan air mata.

"Hi pah, zero datang sesuai janji." Lirih nya seraya menyimpan setangkai bunga lily di gundukan tanah yang basah.

Zero athala, si pembangkang ini nyatanya hanya seorang lemah yang merindukan sosok ayah. Tidak ada yang bisa dilakukan selain mengunjungi makam sang ayah dan memandangi foto dimana keluarga nya masih lengkap dulu.

Hidup nya seakan di permainkan oleh takdir, kisah cinta nya tak berpihak dengannya. Dan ketika sang ayah yang terbunuh oleh orang tak dikenal. Bunda nya memilih menikah lagi dengan seorang pria yang nyatanya adalah ayah dari sahabatnya, Angkasa.

Fuck.

Hidup dan takdirnya tak jauh dengan si bajingan angkasa.

"Zero minta maaf, kemarin zero bentak bunda." Cicit nya "Maaf belum bisa menjadi apa yang papah inginkan."

Lelaki itu mengepal kan tangannya. Dia marah pada dirinya sendiri, dimana ia tak bisa mengendalikan emosi.

"Zero kangen papah." Cicit lelaki itu "Semenjak papah meninggal zero sendirian, bunda gak pernah ngasih perhatian ke zero. Dia sibuk sama keluarga baru nya." Ia berucap lirih.

Dia menghela nafas sejenak "Zero harus pulang. Nanti malam jangan lupa mampir ke mimpi ya pah, zero kangen." Kata nya seraya terkekeh hambar.

Setelah nya ia mulai meninggalkan tempat itu, membelah jalanan yang ramai menggunakan kuda besi kebanggannya. Seperti biasa, dia memacu kecepatan motor di atas rata rata, tidak memperdulikan pengendara lain yang menyumpahi nya. Karena bagi zero, itu adalah kesenangan yang membangkitkan sisi lain di dirinya.

Namun saat di jalanan yang sepi, seseorang dengan motor hitam menghadang jalannya. Membuat ia harus memberhentikan motor nya dengan mendadak.

Sialan.

"FOR FUCK SAKE, SINGKIRIN MOTOR LO SIALAN!" Bentak zero marah, tak tau kah dia bahwa saat ini zero sedang dalam mood tidak baik.

Seseorang itu membuka helm full face nya. Seringai muncul di wajah lelaki itu. Ah, si sialan theo.

Dengan geraman tertahan, zero mendekati theo yang tadi tiba tiba mengadang motor nya. Lagipula, untuk apa lelaki itu Mengganggu Seingat zero dia sudah tak ada urusan dengan lelaki kejam itu.

"Hi zero. We meet again." Ucap nya dengan nada santai seraya bersedekap dada.

"Apa urusan lo." Kata nya dengan tangan terkepal.

"Calm down dude. Saat ini gue mau kita bicara tanpa kekerasan." Kata nya seraya bersedekap dada.

Zero mengangkat sebelah alisnya "Bicara tentang apa?"

Ada hening sejenak.

"Gue udah cape sama semua ini. Mungkin sekarang saat nya lo tau rahasia apa yang udah gue sembunyiin selama ini." Lanjut nya "Gue pembunuh. Gue ngebunuh ayah lo pake hand gun tepat di jantung."

Zero mematung.

Bugh!

Bugh

ANGKASA ✔ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang