35. Apologize

12.2K 418 5
                                        

Seperti yang diucapkan dokter kemarin zero sudah dibolehkan pulang. Rasanya lelaki itu senang bukan main, lagipula siapa yang tidak senang saat dibolehkan pulang dari rumah sakit? Saat ini Zero sudah berada tepat di depan rumah nya, lelaki itu berjalan di tuntun oleh sang ayah karena masih sedikit lemas.

"Chelsea kemana yah?" Tanya Zero ketika sang ayah membantunya duduk nya di sofa ruang keluarga.

"Kemah dia, padahal udah ayah suruh ga usah ikut. Tapi bilangnya kalo ga ikut Kemah ga bakal naik kelas."

Zero mengangguk lalu tangannya terulur memakan bolu di hadapannya yang mungkin dibuat oleh pembantu di rumah ini.

"Di depan motor siapa, bi?" Tanya ayah seraya memakan bolu yang tersedia.

Bibi terdiam sejenak lalu tersenyum "Tuan Angkasa kemarin malam pulang dan masuk ke kamar nyonya Tiffany. Mungkin sekarang masih ada di sana." Setelahnya bi reni meminta izin untuk kembali ke dapur membereskan pekerjaan yang belum selesai.

Ketiga orang itu saling menatap, tanpa dicegah senyum bahagia muncul.

"Ayah liat Angkasa dulu."

Adrian - Ayah tiga anak itu bergegas melangkah ke kamar yang sudah lama sekali tak ia kunjungi karena larangan dari Angkasa. Terlihat pintu itu sedikit terbuka pertanda ada seseorang berada di dalam sana.

Membuka kenop pintu secara perlahan, pria paruh baya itu tersenyum ketika melihat anaknya yang tertidur meringkuk dengan figura Tiffany berada dalam dekapan. Melangkah dengan hati hati, ia mendudukkan tubuhnya ditepi ranjang seraya menatap ke arah Angkasa.

Memang pada dasarnya Angkasa sangat sensitif dengan suara sekecil apapun, lelaki itu terbangun seraya mengucek pelan matanya.

Terkejut kala melihat sang ayah berada di hadapannya. ia bahkan hampir menjatuhkan figura bunda nya.

"Bukan kah super hero tidak menangis?" Pria itu tersenyum kecil kala melihat air mata Angkasa yang justru menetes.

Dan selanjutnya adalah Angkasa yang menangis menumpahkan segala nya di bahu lebar sang Ayah. Mengucapkan kata maaf berulang kali. Suara nya serak bahkan Angkasa menangis sesegukan.

"Maaf, harusnya dari dulu Angkasa menurut." Lirihnya.

Sang ayah terkejut, namun tak lama ia tersenyum menampilkan raut bahagia. Lengannya mengelus lembut pundak Angkasa "Tidak apa, ayah memaafkan mu. Selalu."

"Terimakasih, Ayah."

Hatinya menghangat kala panggilan itu kembali menyapa telinga nya setelah sekian lama. Rasa bahagia tak terbendung lagi. Anaknya, yang sedari dulu selalu berselisih paham kini telah kembali seperti saat dulu.

"Angkasa bukan anak baik ya, yah? Waktu bunda sakit keras Angkasa sebagai anaknya gak tau dan Angkasa juga bersikap semena mena sama ayah. Maaf. Ayah boleh pukul Angkasa atau apapun itu. "

"Dari pertama kamu lahir ke dunia sampai saat ini ayah selalu bangga sama semua hal baik yang kamu lakukan. Bagi ayah, kamu hebat. Ayah juga minta maaf kadang suka kasar dan jarang memperhatikan Angkasa"

Angkasa menangis. Karena pada kenyataannya Angkasa benar benar merindukan figur sang Ayah. Saat ini, tidak ada Angkasa yang dingin serta kejam, hanya ada sosok lemah yang menumpahkan segala emosi dan rasa sakit yang selama ini tertahan. Dan di mata Ayahnya, Angkasa tetaplah sosok anak kecil yang harus ia lindungi sebagaimana mestinya.

"Menangis saja, jangan terlalu memaksakan diri untuk terlihat kuat."

Mata lelaki itu terlihat sembab, dia sudah tak menangis namun masih enggan melepaskan dekapan sang ayah. Rasanya ia terlalu merindukan semua ini.

ANGKASA ✔ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang