"STARLA!"
Starla mendongak menatap orang yang baru saja memanggil nya dengan nada tak santai. Ia menyerit bingung ketika melihat wajah panik dari gadis cantik di hadapaannya ini. ditambah dengan peluh yang membasahi di pelipis nya. Oke, Starla mulai penasaran, untuk apa gadis ini memanggilnya.
"Apa?"
"Risa di bully." Kata nya dengan nafas tak beraturan.
Tubuh Starla terdiam kaku. Kilat amarah tercetak jelas di manik mata gadis Ini. Tangannya mengepal kuat, dengan gerakan cepat Starla mulai bangkit. Ia berlari keluar kelas meninggalkan gadis yang tadi memberikannya informasi.
Namun tak lama starla kembali masuk menuju kelas. ia memperlihatkan cengiran nya "Risa di mana sekarang?"
"Toilet."
Starla mengagguk mengerti. Dia mulai berlari di sepanjang koridor, rasa khawatir mulai menyerang nya. Tak ada yang boleh menyakiti Risa. Gadis itu lebih dari seorang teman. Risa adalah sahabat sekaligus saudara yang berharga untuknya. Jika selama bersekolah disini Risa selalu melindungi nya dari cibiran siswa disini maka sekarang gilirannya untuk melindungi gadis itu.
Kerumunan yang dipadati siswa siswi membuat Starla yakin bahwa di sana ada Risa yang terlibat. Tanpa permisi, Starla mulai menerobos masuk ke kerumunan itu.
Starla membola ketika melihat risa yang terduduk di lantai toilet dengan baju basah kuyup. Padahal tadi, dia berfikir Risa bisa melawan mereka yang membully. Namun itu hanya bayangannya saja, Risa terlihat sangat ketakutan dengan tubuh yang bergetar.
Tanpa pikir panjang Starla mulai maju. Dengan berani ia mulai mendorong salah satu gadis dari tiga orang yang membully Risa. Ia juga menjambak rambut Calista tanpa ampun, sampai membuat si empunya mendongak.
"Jangan pernah ganggu sahabat gue!" Gertak Starla.
Calista tersenyum miring "Lo lupa dengan peringatan gue waktu itu?" Tanya Calista.
Starla Terdiam. Dia sangat ingat apa yang di ucapkan beberapa waktu lalu. Namun ia malah tak mengindahkan peringatan itu, sampai akhirnya Risa lah yang menjadi korbannya.
"Atau lo gak peduliin peringatan gue? Sepertinya iya." Lanjut nya "Sekarang lo tau kan, gue gak pernah main main sama ucapan waktu itu. Jadi, jangan pernah anggap remeh seorang Calista. Karena gue bisa lakukan yang lebih dari ini ke sahabat lo dan ke diri lo juga."
Setelah kepergian Calista, kerumunan pun ikut bubar. Starla segera berjongkok untuk membantu risa berdiri. ia terlihat sangat kacau dengan rambut acak acakan nya. Starla jadi merasa bersalah akan hal ini.
"Maaf Risa." Cicit Starla.
Risa hanya tersenyum sebagai jawaban. Starla mengerti, gadis ini butuh waktu. Dengan perlahan ia mulai membantu risa berdiri dan membawa nya menuju Uks.
*****
Ruangan serba putih dengan bau obat obatan yang menyeruak masuk ke indera penciuman membuat starla ingin beranjak dari tempat ini. Namun itu tak mungkin dilakukan, sebagai sahabat yang baik, ia harus menemani risa yang saat ini tengah terduduk dibrankar dengan teh hangat ditangan.
"Gue punya trauma." Seru Risa, hal itu Membuat Starla mendongak menatap sahabatnya dengan penuh tanya.
"Dulu waktu smp, gue selalu jadi bulan bulanan satu sekolah. Mereka ngejek bahkan ngebully gue karena gue gendut. Mereka selalu nyudutin gue, dan waktu itu gue jadi anak yang pendiam. Gak ada yang mau temenan sama gue. Bahkan guru guru pun gak ada yang ngebela. Saat itu juga gue berambisi buat ngerubah penampilan. Gue bener bener diet ketat sampai sakit gara gara telat makan."
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGKASA ✔
Teen Fiction(END) Mereka pikir pertemuan itu hanyalah ketidaksengajaan. Namun, semesta sepertinya gemar sekali bermain main. Garis takdir yang begitu nyata membuat skenario kisah rumit antara Angkasa dan Starla di pertemuan kedua mereka. Ketika Gadis Lugu sep...
