Hari ini starla bertekad untuk menemui angkasa, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Karena jujur saja, starla sudah cukup lelah mengejar lelaki itu yang jelas jelas sudah tak mengharapkan nya lagi. Walaupun ada sedikit rasa tak rela melihat angkasa dengan gadis lain. Starla harus mencoba mengikhlaskan nya, karena bagaimanapun saat ini bahagia seorang angkasa bukan lagi dengan dirinya.
"Lo liat angkasa?" Tanya starla kepada seorang siswa yang ia tahu adalah teman sekelas angkasa.
"Tadi pas jam pelajaran angkasa cabut sama temennya, mungkin mereka ke rooftop." Starla tersenyum; benar, tempat favorit angkasa itu rooftop, kenapa sampai tak terpikirkan oleh nya.
Setelah mengucapkan terimakasih starla segera pergi menemui angkasa. Ia harus membicarakan sesuatu dengan lelaki itu dan mungkin setelah ini kedua nya tak akan lagi akrab seperti dulu, ah atau mungkin mereka akan menjadi orang asing.
Starla menggigit bibir nya pelan, ia kini sudah berada di depan pintu yang menghubungkan dengan rooftop sekolah. Namun sialnya, rasa gugup menyerang. Bagaimana jika angkasa membentak nya dan malah mengusir starla. Oh ayolah, hentikan pikiran buruk itu.
Menghembuskan nafasnya, starla dengan berani namun sedikit gemetar mulai membuka pintu dengan perlahan. Mata bulat nya menangkap sosok angkasa yang tengah terduduk membelakanginya di sofa usang dengan mata yang terpejam.
Menggigit bibir nya pelan, starla berjalan mengendap berharap angkasa tidak menyadari keberadaan nya.
"Ngapain?"
Suara datar itu berhasil membuat starla terdiam bak seorang pencuri yang tertangkap basah. Dan lagi, tatapan dingin itu terlihat asing bagi starla. Ia seperti melihat sosok angkasa pada awal mereka bertemu. Dingin dan tak tersentuh.
"Pergi!"
Starla menggeleng, ia berjalan mendekati lelaki itu lalu berdiri di hadapan nya.
"Gue mohon, untuk kali ini aja lo dengerin gue. Gue janji ini terakhir kali nya. Untuk besok dan seterusnya gue gak akan ganggu lo lagi" Starla berucap lirih seraya menatap penuh harap kepada angkasa.
Angkasa menyerit, namun tak lama lelaki itu mengangguk perlahan.
"Angkasa lo tau? gue sayang banget sama lo. Lo cowo pertama yang bisa buat gue jatuh sejatuh-jatuhnya. Gue berhenti ya, maaf kalo selama ini buat lo gak nyaman. Gue cape, mereka semua bener gue emang bodoh. Gak seharusnya gue ngejar ngejar lo yang statusnya udah mantan" Starla terkekeh sumbang disertai air mata nya yang perlahan turun.
"Lo tenang aja, setelah ini gak ada lagi yang bakal ganggu lo. Gue juga bakal berhenti ngasih lo bekel dan segala yang gak berguna lainnya. Dan bulan, gue harap lo bahagia sama dia"
Starla tersenyum namun tak bisa di pungkiri hati nya nyeri kala angkasa hanya diam bahkan mengalihkan pandangan. Starla cukup sadar tak ada lagi harapan bagi nya untuk menggapai angkasa menjadi miliknya lagi. Maka dengan langkah gontai starla berjalan meninggalkan angkasa yang masih terpaku.
"Starla"
Langkah gadis itu terhenti namun enggan untuk berbalik. Ia terlalu malu menunjukan wajah nya yang basah dengan air mata.
Namun tanpa di duga angkasa menarik bahu nya membuat gadis itu terbelalak kala angkasa menyembunyikan tubuh mungil starla dalam dekapan hangat lelaki itu. Angkasa memeluknya.
"Jangan, jangan pergi"
Tidak ada yang bisa dilakukan starla selain menangis, tubuh gadis itu bergetar. Ia menumpahkan segala rasa sakit nya tanpa peduli baju lelaki itu basah oleh air mata miliknya. Angkasa sialan benar benar membuat perasaan nya berantakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGKASA ✔
Teen Fiction(END) Mereka pikir pertemuan itu hanyalah ketidaksengajaan. Namun, semesta sepertinya gemar sekali bermain main. Garis takdir yang begitu nyata membuat skenario kisah rumit antara Angkasa dan Starla di pertemuan kedua mereka. Ketika Gadis Lugu sep...
