Warning: Cerita nya bakal panjang, aku harap kalian ga bosen, hehe.
Rasanya ia tak bisa lagi mendeskripsikan bagaimana bahagia nya ketika pada akhirnya Starla mulai menginjakkan kaki di negara kelahirannya itu. Gadis itu tersenyum kecil melangkah di bandara yang ramai dengan koper yang ia bawa. Dengan tak sabar ia mencari supir yang di pesan langsung oleh orang tua nya.
"Nona Starla, kan?" Seru seorang pria paruh baya yang sangat Starla kenal. Saat SMA dulu pria itu lah yang pernah menjadi supir pribadi nya.
"Apa kabar, pak? Udah lama banget Starla gak ketemu sama bapak." Kata nya dengan senang.
"Saya baik non, terakhir ketemu sekitar tujuh tahun lalu waktu non Starla masih pake seragam sekolah." Ucap pria paruh baya itu diiringi kekehan pelan.
"Mari masuk ke mobil. Sini, biar saya saja yang bawa koper nya. " Ujar sang supir seraya membuka kan pintu untuk Starla. Ia memberikan koper nya kepada pria itu.
Starla memandangi setiap keadaan di jalan yang dilewati mobil yang di tumpangi nya. Jantung nya berdegup dengan kencang, ada rasa gugup dan takut. Takut ketika Angkasa tak mau bertemu dengannya lagi.
"Em, maaf sebelum nya, saya lupa nanya. Ini langsung pulang ke rumah saja atau bagaimana?" Tanya supir itu.
Starla berfikir sejenak.
"Langsung ke rumah Angkasa ya, pak."
*****
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan sebuah pagar rumah mewah yang menjulang tinggi. Starla menatap rumah itu sejenak. Gadis itu masih mengumpulkan keberanian untuk turun.
"Tunggu sebentar, pak." Titah Starla kepada pria paruh baya itu.
"Semangat, non." Ucapnya kala melihat Starla yang sudah membuka pintu mobil, gadis itu bersiap untuk keluar.
Starla mengagguk lalu tersenyum. Kaki nya melangkah menuju seorang satpam yang berjaga di rumah itu. Starla ingat pria bertubuh tegap yang kini tengah menatapnya. Ia pernah bertemu sekali saat berkunjung ke rumah Angkasa dulu.
"Permisi."
"Loh, ini teh pacar nya tuan Angkasa? Starla, kan nama nya?" Satpam itu bertanya dengan penuh excited membuat Starla mau tak mau mengagguk, padahal sebenarnya ia tak tau apakah diri nya masih berstatus pacar Angkasa atau bukan.
"Iya pak, saya Starla. Eum, Angkasa ada di rumah?" Tanya Starla.
"Waduh, di rumah sepi, neng. Tuan sama nyonya lagi pergi. Sedangkan Angkasa sama Zero ke basecamp katanya sih kumpul kecil kecilan."
Bahu Starla melemas tak semangat. Jika dia pergi ke basecamp, Starla harus siap bertemu teman teman Angkasa.
"Kalau begitu saya pergi dulu, terimakasih, ya pak." Pamit Starla yang di angguki langsung oleh sang satpam.
Starla memasuki mobil dengan wajah murung. "Gimana?"
"Angkasa gaada, katanya sih lagi kumpul di basecamp." Jawab Starla.
"Sekarang gimana? Mau langsung pulang aja atau ke basecamp nya Angkasa?"
Dia ingin pulang sebenarnya, tubuh nya sedikit merasa lelah akibat perjalanan jauh yang di tempuh. Namun, rasa ingin bertemu Angkasa begitu besar. Dan satu masalah lainnya, ia tak mengingat begitu jelas jalan menuju basecamp Angkasa.
******
"Yakin, mau pulang sekarang?" Tanya seorang lelaki yang masih tak rela melihat Angkasa pulang. Ya, bagaimana tidak, bos nya ini termasuk workaholic ketika bekerja. Hal itu membuat mereka susah sekali untuk berkumpul.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGKASA ✔
Novela Juvenil(END) Mereka pikir pertemuan itu hanyalah ketidaksengajaan. Namun, semesta sepertinya gemar sekali bermain main. Garis takdir yang begitu nyata membuat skenario kisah rumit antara Angkasa dan Starla di pertemuan kedua mereka. Ketika Gadis Lugu sep...
