33. Bertahan

13.1K 419 13
                                        

Pintu yang terbuka mengalihkan atensi banyak orang yang kini tengah menunggu dengan cemas. Salah seorang dari mereka berdiri menuju dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi. Raut wajah nya terlihat khawatir, takut terjadi sesuatu dengan seseorang yang berada di dalam ruangan sana.

"Bagaimana dokter?"

"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Saat ini pasien dinyatakan koma dalam rentan waktu yang tidak di tentukan. Peluru yang terdapat di dekat jantung pasien sepertinya bukan peluru biasa, setelah kami telisik terdapat racun yang entah apa menyebabkan jantung pasien sempat tidak berdetak. Pasien juga sempat pendarahan saat operasi tadi. Berdoa saja agar pasien cepat sadar" Penjelasan sang dokter membuat seluruh persendian lelaki itu lemas seketika.

Setelah sang dokter pergi, isak tangis dari sosok wanita paruh baya terdengar. Sosok anak semata wayang yang selama ini ia jaga dengan penuh kasih sayang terbujur kaku di brankar rumah sakit dengan banyak nya alat yang terpasang.

"Andai saat itu saya tidak mengizinkan Starla berdekatan dengan mu. Mungkin semua ini tidak akan terjadi" Sarkas sang wanita paruh baya.

"Maafin Angkasa, bunda"

"Tidak, jangan memanggil saya bunda dan jangan pernah mendekati starla lagi"

"Pergi!"

"Tapi - "

"SAYA BILANG PERGI!"

Angkasa tersentak, lelaki itu menunduk lalu perlahan berjalan pergi seraya menatap ke arah ruangan Starla. Melangkah lunglai dengan pandangan kosong membuat lelaki itu sesekali menjadi pusat perhatian di sana.

Dia ingin melihat Starla nya. Jika bisa, angkasa bersedia menggantikan gadis kesayangannya yang saat ini tengah melawan sakitnya seorang diri. Andai saat itu dia lebih cepat menyadari jika sebuah peluru akan melesat ke arah mereka. Mungkin saat ini Starla nya baik baik saja.

Flashback

Zero tersenyum melihat kakak tiri nya itu bahagia dengan seseorang yang dicintai nya. Namun kala ia menoleh ke arah bulan. Lelaki itu terbelalak panik. Bulan tengah mengarahkan pistol ke arah starla.

"STARLA!"

Zero yang ingin mendorong bulan agar tembakan nya meleset namun dia justru  di tarik paksa oleh seseorang yang di yakini bawahan gadis licik itu membuat tubuhnya terlempar ke arah tembok.

Dor!

Terlambat.

Tubuh mungil itu mengejang kaget kala peluru melesat dengan begitu cepat sebelum starla sempat menghindar. Nafasnya tersendat dalam dekapan hangat Angkasa. Rasa nyeri menjalar ke setiap tubuh gadis itu, rasanya menyakitkan.

"Angkasa"

"Iya, sayang tetap buka mata kamu, Oke. Aku mohon" Kata Angkasa dengan suara yang bergetar, mendekap erat tubuh Starla. Tidak peduli dengan darah yang mulai merembes ke baju miliknya.

"Sakit"

"BAJINGAN, PANGGIL AMBULAN CEPET!"

"Tunggu sebentar mereka akan memanggil ambulan. Tetap bertahan, jangan tinggalkan aku."

Angkasa mengecup berkali kali kening gadis itu. Menghapus air mata yang tersisa di di sudut mata Starla secara lembut. Padahal nyatanya, tanpa disadari, Angkasa juga meneteskan air mata nya. Cairan bening itu seakan berlomba lomba keluar dari pelupuk mata lelaki itu.

"Angkasa cengeng." Lirih Starla disertai kekehan yang bahkan tidak terdengar kala merasakan air mata lelaki itu mengenai keningnya.

Rasanya menyakitkan.

ANGKASA ✔ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang