Keheningan melingkupi ruangan bernuansa hitam putih itu. Hanya suara detak jarum yang terus bergerak menjadi satu satu nya pemecah keheningan. Namun, berbeda jauh dengan di luar, tepat nya di ruang tv. Disana, suara tawa menggema.
Mereka terdengar sangat bahagia. Sampai mereka tak menyadari bahwa di ruangan ini seseorang terluka. Dia iri? Tentu saja. Siapa yang tidak iri dengan kehangatan sebuah keluarga? Rasa nya menyakitkan ketika Ia ada namun di anggap tak ada.
Angkasa tersenyum miris, Tangan lelaki itu terulur mengambil bingakai Foto yang terletak di atas nakas. Lamat lamat dia memandangi Foto itu, semua kenangan yang pernah terjadi berputar di pikiran bak sebuah film usang.
"Mom, how are you? Bagaiamana rasanya berada disana?" Tanya nya kepada foto seorang wanita cantik bergaun merah maroon itu.
Setiap orang memiliki titik lemah nya bukan? Mereka yang terlihat bahagia nyata nya memiliki seribu luka. Layak nya sebuah topeng. Mereka menutupi segala luka dengan seulas senyum. Harus berpura pura bahagia agar luka yang menganga tertutupi.
Seseorang bisa terlihat kuat di depan banyak orang. Namun tidak saat tengah seorang diri.
Angkasa menyimpan kembali bingkai foto itu. Dia tidak menangis, hanya saja luka yang terpatri di hati nya kian membesar.
Tok Tok.
Tok Tok.
Suara pintu terbuka membuat Angkasa mengalihkan pandangan nya. Tatapan lelaki itu kian mendatar ketika tau siapa yang baru saja membuka pintu.
"Gak ada yang ngizinin lo masuk." Sarkas Angkasa dengan nada dingin kepada seorang gadis yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Maaf kak, tapi kata ayah kak Angkasa di suruh ke ruang kerja sekarang" Jelas Gadis berusia tiga belas tahun itu seraya meremat jari mungil nya karena merasa gugup.
"Pergi."
*****
Angkasa terdiam sejenak di depan pintu ber cat putih itu. Jujur saja, Ini adalah kali pertama dia memasuki ruangan ini. Angkasa mendengus, ketika memikirkan hal hal apa yang akan di bicarakan nanti.
Ceklek
"Ada apa?" Tanya Angkasa kepada Pria paruh baya yang tengah fokus kepada berkas berkas nya.
"Masuk Angkasa, ada yang ingin ayah sampaikan."
Duduk di salah satu kursi. Angkasa hanya diam. Lelaki ini menunggu apa yang akan di ucapkan pria paruh baya di hadapannya. Keadaan diruangan ini cukup hening.
Adrian menyodorkan sesuatu membuat Angkasa menaikan sebelah Alisnya. Ia mengambil kertas itu dan mulai membaca nya.
"Maksud anda apa?" Tanya Angkasa, Ia melempar kertas ini ke Meja.
"Setelah lulus ayah akan mengirim mu ke luar negri." Jelas nya dengan nada tegas seraya menyimpan kaca mata yang bertengger di hidungnya.
Angkasa menatap tak percaya kepada pria paruh baya di hadapan nya.
"Kenapa?"
"Ini yang terbaik, ayah mau kamu lebih fokus ke pendidikan bukan nya geng geng an gak jelas."
"Hanya Itu? Katakan saja jika anda ingin mengasingkan saya agar semua orang tak tau kalau anda mempunyai anak tak berguna seperti saya."
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGKASA ✔
Teen Fiction(END) Mereka pikir pertemuan itu hanyalah ketidaksengajaan. Namun, semesta sepertinya gemar sekali bermain main. Garis takdir yang begitu nyata membuat skenario kisah rumit antara Angkasa dan Starla di pertemuan kedua mereka. Ketika Gadis Lugu sep...
