Setelah makan, minum obat dan beristirahat, Shaka merasa tubuhnya sedikit jauh lebih baik dari pada tadi pagi.
"Shak, udah enakan?" Suara Rafa terdengar pelan, setengah berbisik karena di ruangan ada ayah dan bunda.
"Hmm."
Seperti biasa, Shaka hanya membalas dengan deheman.
"Shaka sama Rafa bantuin bunda beres-beres bareng adek ya." Ujar bundanya lembut, yang langsung di balas anggukan kecil oleh mereka. Rafka sendiri ia tengah duduk santai, sambil memperhatikan dua saudara kembarnya yang lebih tua dari nya itu tengah membereskan barangnya.
"Semangat, yok gue baik nih pake Semangatin kalian." Celetuk Rafka dengan raut muka nya yang menyebalkan. Membuat dua kembar itu berdecak kesal.
"Anjir lo!" Umpat Rafa. Rafka di tempat nya sudah tertawa puas, untung saja infus anak itu sudah di lepas, jadi tak masalah.
"Udah udah bang, bahasanya jangan keseringan ngumpat. Lebih baik kalau ngomongnya yang baik-baik atau lebih baik diam dari pada ngumpat, nambahin dosa." Tegur bunda, membuat Rafa hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Maaf bunda. Abisnya sih, dia asik bnget katawain aku sama Shaka." Adu Rafa membuat ayah dan bunda geleng-geleng kelapa.
"Kalian tuh sama aja ya semua." Ujar ayah pelan.
"Gak, Shaka mah beda. Orang nya aneh, suka ngancem, terus irit ngomong, sekalinya muncul bawelnya, ngomong kayak kereta api, terus susah di tebak. Pokoknya deh aneh." Celetuk Rafka sambil melirik sekilas ke arah Shaka yang tak merespon ucapannya Sedikit pun. Menoleh pun tak ada.
Ayah dan bunda yang mendengar itu, lantas saling melempar pandang, sebelum akhirnya tersenyum tipis.
"Ya memang sikap kalian beda sayang. Kalau sama semua yang ada ayah sama bunda dong yang bingung mau bedain kalian gimana." Jawab bunda dengan senyum hangat yang selalu menjadi candu untuk mereka.
"Bunda cantik deh kalau senyum." Cetus Rafa, ayah menatap tajam ke arah Rafa.
"Cewek nya ayah jangan di godain dong." Ketus ayah, bunda hanya terkekeh pelan.
"Dih posesif amat!"
"Biarin. Yang penting gak boleh ada yang godain cewek ayah selain ayah seorang." Rafka di tempatnya sudah terkikik geli melihat ekspresi bundanya, yang entah menahan malu atau apa.
"Hahaha, ayah ayah. Tapi bagus sih, jagain bunda terus yaa, janji sama kita." Ujar Rafa, ayah dan bunda tersenyum, kemudian merentangkan tangannya, bermaksud membuka pelukan untuk putra-putra nya.
Rafa dan Rafka yang mengerti, langsung saja menghampiri ayah dan bundanya. Saling berpelukan. Sungguh definisi keluarga bahagia bagi Shaka yang hanya jadi penonton aksi berpelukan itu. Shaka ada di sana menjadi bayangan yang lagi-lagi tak terlihat.
"Bunda sama ayah janji buat kalian." Balas bunda dan ayah bersamaan. Dan kemudian memberikan kecupan di pipi anak kembar itu.
Hati Shaka rasanya hancur. Akh Shaka membencinya, membenci diri nya yang menaruh rasa iri kepada kedua kembaran nya itu, benci melihat adegan yang mengharuskan dirinya mundur.
"Harus nya memang cuman dua, hanya si sulung dan si bungsu tanpa harus ada penengah." Batin Shaka tersenyum kecut. Saat seperti ini, Shaka ingin mendekat, ikut bergabung, merasakan dekapan hangat ayah dan bunda yang sudah lama tak pernah ia rasakan. Ah lebih tepatnya yang sejak lama selalu ia coba hindari.
" Woy, ngelamun bae lo, sini ih. Lagi ada acara peluk-pelukan kok lo gak gabung." Seru Rafka yang membuat lamunan Shaka buyar.
Shaka menarik kurva tipis, saat netranya menangkap hangat yang terpancar di balik manik mata sang bunda.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝑀𝑖𝑑𝑑𝑙𝑒 𝐶ℎ𝑖𝑙𝑑 ✓
Teen FictionFamily-brothership Ini tentang dia, tentang Shaka. Tentang si tengah dari tiga kembar. Shaka namanya, sosok dingin, irit ngomong dan sering di juluki sebagai papan tripleks oleh Rafka, kembarannya yang punya selisih satu jam lebih adik darinya. B...
