Rafka baru saja menerima telpon dari kembarannya. Entahlah, emosi anak itu sepertinya tidak stabil.
"Ka, itu di makan atuh seblaknya." Suara Rio terdengar, membuyarkan semua pikirannya.
"Gak mood gue. Au dah, gue balik aja." Ketus Rafka yang setelahnya langsung bergegas meninggalkan sahabat-sahabatnya yang memekik lantang namanya. Tapi Rafka seakan tuli, anak itu terlanjur kesal dengan apa yang di ucapkan oleh Shaka barusan.
Namun, saat anak itu tiba di gerbang sekolah, tubuhnya seketika menegang melihat tiga orang yang ia kenal betul siapa. Itu Evan dan dua orang temannya yang waktu tempo hari mengira dirinya adalah Rafa.
"Halo Rafka!" Sapa Evan dengan senyum yang dibuat semanis mungkin, namun di mata Rafka itu menyeramkan.
"L-lo tau?"
"Ck, apa sih yang gak gue tau? Gue tau kok, lo punya kembaran, dan yang waktu itu ngehajar gue, pasti namanya Shaka." Rafka bungkam. Bagaimana Evan bisa tau?
"Gak usah pusing nyari jawaban yang gak bakal gue kasih tau. Intinya lo tuh jangan terlalu baik deh sama kembaran lo. Apalagi waktu itu lo belain dia di depan orang tua dan musuh gue, si Rafa itu. Karena nyatanya, justru hari ini saudara lo itu hancurin hari bahagia lo." Ujar Evan sambil tersenyum meremehkan. Rafka sendiri tentunya terkejut bukan main, bagaimana orang di depannya ini bisa tau semua.
" Jangan mau di begoin deh. Sama aja kayak si Rafa. Aduhh, lo tuh juga punya hak kali sama Ayah lo, gak melulu harus mereka berdua yang di prioritasin. Lo jangan diam aja, sekali-kali buka suara itu perlu, biar mereka juga sadar."
"Cih, tau apa lo soal hidup gue?" Rafka berdecih sinis. Dasar, gara-gara orang di depannya ini emosinya semakin membara.
"Tau, walau gak banyak. Gue tau lo iri sama saudara kembar lo itu. Udahlah gak usah pura-pura bilang gak iri tapi dalam hati iri banget. Ah tau lah, malas gue, gue cabut duluan, pikirin kata-kata gue tadi baik-baik. Dadah~" Rafka mengepalkan tangannya kuat saat melihat punggung tegap orang itu yang perlahan hilang bersamaan dengan motor yang digunakan orang itu.
Dasar, kenapa dia malah kemakan dengan kata-kata sampah yang di ucapkan orang itu!
∴━━━In the Middle━━━∴
Shaka menghela napas kasar. Ini sudah terhitung tiga bulan setelah kejadian mereka bertiga bertengkar hebat dan semuanya benar-benar berubah setelah itu.
Tak ada pagi yang rusuh oleh pertengkaran Rafa dan Rafka, tak ada pula suara lembut Ayah dan Bunda yang akan mengisi suasana pagi. Semua berubah. Mulai dari Rafa dan Rafka yang semakin irit ngomong, di tambah pertengkaran kecil Ayah dan Bunda yang masih terus menyalahkan atas kejadian waktu itu. Shaka benar-benar tak habis pikir, kenapa bisa semuanya semakin rumit seperti ini, padahal masalah ini bisa saja di selesaikan secara baik-baik. Namun sekarang, semuanya terlalu menjunjung tinggi rasa gengsi itu dan mengubur dalam rasa peduli antar satu sama lain.
Terbukti dari bagaimana, saat kejadian tiga bulan lalu, saat Ayah dan Bundanya pulang ke rumah tengah malam, dan mengetahui fakta bahwa mereka bertiga bertengkar hebat, Shaka yang di marahi habis-habisan oleh Ayah hanya diam, dan saat itu Shaka tau, ada sosok lain yang memperhatikan dari jauh, ingin menolong tapi gengsi itu terlalu tinggi.
Jujur, Shaka merasa kosong selama tiga bulan terakhir ini. Tak ada candaan seperti biasa, semua orang benar-benar berubah dan lebih memfokuskan diri kepada kepentingan pribadi masing-masing.
Dan tahun kemarin pun, rasanya berakhir dengan harapannya yang pupus gara-gara kesalahpahaman itu. Tak ada liburan keluarga seperti biasa, atau sekedar saling meluangkan waktu bersama di ruang tv seperti dua tahun yang lalu.
"padahal dua hari lagi, masa masih berantem kayak gini sih?" Gumam Shaka yang menatap sendu ke arah langit sore yang sedikit berwarna jingga itu.
Shaka tau, saat ini usahanya memang belum berhasil, tapi ia yakin, usahanya untuk memperbaiki semuanya tidak akan sia-sia, dan ia akan menjamin itu.
"Shak, masuk. Bentar lagi maghrib." Datar, suara Rafa yang lembut bersirat kasih sayang itu hilang hanya karena kejadian itu. Rafa yang katanya ingin memperbaiki semua masalah dengan Rafka pun, pada akhirnya memilih menyerah karena sang adik yang memasang tembok tinggi yang sulit untuk ia tembus.
"Iya. Ajakin Rafka sekalian." Ujar Shaka menanggapi. Entahlah, ini perasaan Shaka atau emang adanya seperti itu. Saat semua orang memilih egois dan menjadi irit dalam hal berbicara, justru dirinya mencoba untuk bisa mencair tidak kembali membeku.
"Hm." Dehema singkat itu menjadi penutup percakapan antara dua insan dengan wajah serupa itu. Dan lagi, Shaka hanya bisa menghela napas lelah. Terlampau jenuh menghadapi situasi seperti ini.
∴━━━In the Middle━━━∴
Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Hanya ada dentingan antara sendok dan garpu yang saling beradu, tanpa ada satu orang pun yang membuka suara. Bahkan rasa kehangatan yang biasanya terpancar pun, benar-benar menghilang, berganti dengan sunyi, sepi dan canggung.
Lagi, entah untuk yang kesekian kalinya, Shaka menghela napas panjang. Kesal dengan keadaan dan orang-orang di depannya.
"Aku, udah." Selalu seperti ini. Rafka yang akan bangkit dan menyelesaikan acara makannya terlebih dahulu, lalu meninggalkan meja makan yang kembali hening.
"Ayah juga udah, Ayah duluan ke kamar." Jujur, mendadak mood makan Shaka jadi berantakan. Ia yakin, pasti dirinya lah yang akan paling akhir meninggalkan meja makan hanya untuk merekam bagaimana satu persatu anggota keluarga nya menyudahi acara makan malam lalu kembali ke kamar masing-masing.
"Kalian berdua habiskan makanannya. Kalau udah taruh aja di belakang, Bunda masuk dulu." Nahkan, sekarang ia justru semakin terjebak dengan rasa canggung bersama Rafa.
Dan tepat, di detik ke dua puluh setelah Bunda berlalu, Rafa bangkit dari duduknya, berpamitan singkat kepada Shaka, mengatakan bahwa ia sudah menyudahi makan malamnya.
"Ck!" Decakan kesal itu keluar begitu saja dari labium si tengah.
"Gitu aja terus sampe mampus kemakan gengsi!" Gerutu Shaka yang kemudian membawa piring kotor nya ke belakang, dan berinisiatif untuk mencuci semua piring kotor itu dan membersihkan meja makan yang kotor karena ulah si bungsu yang dengan asal-asalan mengambil lauk dan berakhir membuat meja makan berantakan.
Dan sekali lagi, memang cuman Shaka yang berusaha memperbaiki semuanya.
Tbc...
Assalamualaikum!
Gak tau nulis apa, pendek banget pula...
Hhh, dahlah, cuman mau bilang, mending prepared aja ya, bentar lagi ending, wkwk 🤭
Cepat amat ya? Tapi ya mo gimana juga, ide saya mentok sampe situ doang 😂
Udh ya, Mangatsss puasa nya hari ini...
See you
19.04.21
KAMU SEDANG MEMBACA
𝑀𝑖𝑑𝑑𝑙𝑒 𝐶ℎ𝑖𝑙𝑑 ✓
Teen FictionFamily-brothership Ini tentang dia, tentang Shaka. Tentang si tengah dari tiga kembar. Shaka namanya, sosok dingin, irit ngomong dan sering di juluki sebagai papan tripleks oleh Rafka, kembarannya yang punya selisih satu jam lebih adik darinya. B...
