Tapi pergerakan Shaka tertahan saat suara bu Firda terdengar menyuruh dirinya untuk berhenti. Maka dengan sangat malas nya, Shaka membalikkan tubuhnya guna menatap guru yang bahkan sudah berkacak pinggang sekarang.
"Saya rasa itu masih kurang untuk hukuman anak sekelas. Apa lagi ini kelas 12, yang artinya sudah harus banyak fokus sama ujian kenaikan, penentuan buat lulus untuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kalian itu harusnya bisa lebih disiplin lagi, apalagi soal waktu dan tugas. Jadi untuk itu, saya tambah hukuman kamu dengan membersihkan seluruh lingkungan sekolah setelah hukuman kamu sebelumnya selesai. Dan ingat, ini peringatan terakhir buat semuanya, kalian harus bisa lebih disiplin dalam hal apapun itu,Jangan pandang enteng. Sekarang, kamu keluar." Shaka tak ingin banyak protes. Sudah cukup Shaka mendengarkan guru tak punya hati itu berceramah panjang lebar.
Tapi sekali lagi langkah nya terhenti saat seseorang tiba-tiba saja buka suara.
"Maaf bu, tapi saya marah dengan keputusan ibu Firda yang terhormat dalam memberikan hukuman. Ibu itu guru, harusnya guru itu kalau anak didik ya salah di tegur baik-baik, hukumannya pun harus mendidik, jangan kayak gini. Kalau kayak gini sama aja kayak ibu mau bunuh anak orang." Shaka langsung menoleh ke arah tempat duduk Radit yang kini sudah berdiri menatap tak suka ke arah bu Firda yang bahkan masih bisa tersenyum angkuh di depan itu.
"Saya setuju bu! Itu sama aja kekerasan. Coba kalau saya yang suruh ibu kayak gitu, lari lapangan yang luasnya 28m×15m sebanyak seratus empat puluh lima kali, habis itu lanjut bersihin toilet cowok lantai satu dan dua yang total keseluruhan nya ada 20. Setelah itu bersihin lingkungan sekolah yang luasnya kagak main-main. Apa ibu sanggup lakuinnya seorang diri?" Itu sena yang menyahuti. Sudah cukup selama ini mereka diam saat bu Firda memberikan mereka hukuman yang benar-benar gila.
Di tempatnya bu Firda bahkan tak melunturkan sedikitpun senyum angkuhnya itu, membuat beberapa murid mengumpati dirinya yang tak tahu malu karena sampai di tegur murid.
"Kalian belain dia? Cih! Silahkan. Lagi pula ini kelas saya, saya berhak kasih hukuman ke anak murid saya yang tidak taat dengan aturan." Jawab bu Firda dengan santainya.
Hal itu membuat Ragil yang sedari tadi mencoba tak peduli pun akhirnya tersulut emosi. Dia menggebrak meja, membuat anak sekelas langsung terkejut.
" Maaf kalau saya tidak sopan sama ibu, maaf juga kalau sekarang rasa hormat saya kepada ibu juga hilang. Kami siswa di sekolah untuk belajar baik-baik, untuk di didik dengan cara yang benar. Kalau salah di tegur baik-baik, di berikan hukuman yang sewajarnya. Ibu mikir gk sih, kalau misalnya hukuman ibu itu bisa bikin orang sekarat! Dari dulu kami siswa diam sama sikap ibu yang senang banget lihat anak murid nya yang menderita. Saya tau ibu ini guru di sini, tapi ibu juga harus tahu dong gimana harusnya sikap guru terhadap murid. Selama ini kami juga diam dan tak melaporkan sikap ibu ini karena kami menghargai ibu sebagai guru kami, sebagai pengajar di sini. Tapi hari ini, kesabaran saya cukup sampai di sini, saya tidak terima jika teman sekelas saya yang bahkan baru sekali terlambat mengerjakan tugas, kini harus menanggung hukuman gila dari ibu." Tegas Ragil, bahkan wajahnya kini memerah menahan amarah.
Tidak bukan tanpa alasan Ragil seperti ini. Dia sudah terlanjur kesal dan kehilangan kesabaran terhadap guru di depannya ini. Seorang guru yang gila hormat, yang selalu cari muka di depan guru-guru dan kepala sekolah, tapi jika berhadapan dengan murid akan berubah menjadi monster jahat yang tidak punya hati.
Sikap gila guru itu benar-benar tersimpan rapat walau beberapa murid sering jadi korban dari sikap semen menanya itu. Bahkan Alvian–yang merupakan kakak kandung Ragil dan alumni sekolah ini pun sempat mengalami koma selama tiga hari karena hukuman dari guru di depannya ini.
"Kalau kalian mau bantu dia silahkan saja, saya tidak peduli. Kelas saya akhiri saja, hukuman tetap di jalankan jika tidak ingin orang tua kalian saya panggil dan nilai akhir kalian saya kosongkan." Semua mendecih tak suka setelah kepergian bu Firda. Entahlah mereka sendiri tidak tau kenapa bu Firda bertindak sebegitu jauhnya dalam memberikan hukuman.
" Dasar guru gila! " Umpat anak sekelas, sedangkan Shaka di tempatnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat pembelaan teman-teman sekelasnya itu. Sedikit terkejut, tapi tak bisa di pungkiri perasaannya menghangat. Karena sejak dulu, Shaka tak pernah merasakan kepedulian dari sahabat yang tulus, karena yang selama ini dia dapatkan hanyalah ujaran kebencian yang membuat ia menutup dirinya untuk orang-orang sekitarnya.
Shaka kembali membalikkan badannya, guna menjalankan hukumannya yang harus segera di selesaikan, tapi untuk yang kesekian kalinya, langkahnya lagi-lagi harus terhenti karena suara nyaring Sena.
"Jan! Jangan gila lo! Hukuman nya sekelas yang nanggung, bukan cuman lo doang." Ujar Sena yang membuat Shaka harus mengangkat sebelah alisnya.
"Kita semua kerjain hukumannya bareng-bareng. Gak ada tapi tapian." Ucap Radit yang kini sudah berdiri di samping Shaka.
"Terserah. Tapi gue gak butuh orang yang nolongin nya gak ikhlas." Tanggap Shaka dengan nada datar ya, kemudian kembali membawa langkah santai nya menuju lapangan basket.
****
Semua siswa kelas 12 Ipa 1 itu berhasil menyita seluruh perhatian anak-anak kelas lain yang kebetulan saat itu sedang melakukan pembelajaran di lingkungan sekolah.
Shaka sedikit terkejut kala melihat ternyata semua teman-teman nya ikut juga.
"Ck! Gue harap semua ikhlas, kalu gk bisa balik ke kelas sekarang."
"Ya Allah, Jan! Kita niat bantu lho, lagi pula Hitung-hitung kerja bakti, sekaligus bikin kenangan sebelum lulus kan." Sahut Reni.
"Hm"
"Yaudah ayo, masa cuman bengong di sini doang, lari yok, Hitung-hitung olahraga pagi." Ujar Radit yang sudah bersiap untuk memutari lapangan basket sekolah.
"Gk. Ini salah gue, jadi biar gue yang jalanin hukuman larinya, terus yang lain bersihin toilet sama halaman sekolah, kalau hukuman gue udah selesai, nanti gue bantuin. Udah gak ada yang protes kalau mau bantuin gue." Entah sadar atau tidak sadar, ucapan Shaka yang kelewat panjang menurut mereka, berhasil membuat anak kelas 12 itu berdecak kagum. Luar biasa bukan, seorang Shaka berbicara panjang lebar kepada mereka.
"Bentar, tapi lo yakin? 145 kali putaran?" Pertanyaan yang di lontarkan Ragil hanya mendapatkan anggukan kecil dari Shaka.
Yang lain sejujurnya ingin protes, tapi tahu betapa keras kepala nya Shaka, membuat mereka urung.
"Yaudah. Tapi kalau gak kuat jangan di paksain, anak-anak cowok lain siap gantiin hukuman lari lo." Ucap Ragil, yang sekali lagi hanya di balas dengan anggukan kecil dari Shaka.
"Yaudah,kerjain sekarang biar cepat beres."
Tbc
Kagak tau saya makin ke sini makin gak nyambung 😶
Ada yang mo di sampein ke bu firda gak? Kesel gurunya ngehukum kagak pake perasaan 😌
Yaudah, gitu aja yaww. Maapin segala kegajean dari cerita ini.
See you ✨
19.03.21
KAMU SEDANG MEMBACA
𝑀𝑖𝑑𝑑𝑙𝑒 𝐶ℎ𝑖𝑙𝑑 ✓
Ficção AdolescenteFamily-brothership Ini tentang dia, tentang Shaka. Tentang si tengah dari tiga kembar. Shaka namanya, sosok dingin, irit ngomong dan sering di juluki sebagai papan tripleks oleh Rafka, kembarannya yang punya selisih satu jam lebih adik darinya. B...
