-22-

6K 606 14
                                        

Hembusan angin yang menerpa wajahnya, terasa begitu sejuk dan menenangkan. Mungkin pilihan Shaka untuk menenangkan diri di rooftof sekolahnya adalah pilihan tepat.

Membolos satu mata pelajaran untuk hari ini seperti nya tak masalah. Masa bodo dengan statusnya sebagai pemegang juara 1 umum paralel dari kelas 10. Entahlah, Shaka merasa semua juga tak ada gunanya. Usaha nya untuk memberikan yang terbaik dan berharap ada apresiasi besar dari orang tuanya pun hanya seperti angan. Bahkan saat Shaka pulang dengan piala besar di genggamannya, bunda atau pun ayah hanya akan mengusak surai hitamnya, lalu berkata.

"Bagus nak, kalau perlu tingkatkan lagi. Jangan sampai nilai kamu rendah. Karena nantinya, kamu bisa saja nantinya akan menjawab soal kakak atau adikmu kalau mereka berhalangan sekolah."

Lagi, kata itu tertancap kuat di benak anak itu. Tatapan mata tajam nya yang pagi ini menyendu, menyiratkan kekecewaan.

Sekarang, bolehkah Shaka membenarkan semua perkataan hina dan cemooh teman-teman sekolahnya?

Cowok itu melihat ke bawah, tepat ke arah lapangan basket yang pagi ini kosong. Cowok itu tersenyum kecut. Apakah sekarang ia kehilangan akal gara-gara perkataan orang-orang kurang kerjaan itu hingga pikiran mengakhiri hidup itu terlintas lagi di benaknya?

Katakan saja begitu. Shaka sudah kacau dari dulu, dari usia nya yang bahkan belum genap 7 tahun saat itu. Saat untuk pertama kalinya ia merasa dunia kejam, dan saat untuk pertama kalinya ia menjadi peran pengganti.

Shaka memang sudah berkali-kali berpikir mati adalah pilihan terbaik jika ia ingin segera mengakhiri permasalahan hidupnya. Namun Shaka tidak sebodoh itu untuk melakukan perbuatan bodoh itu walau berkali-kali sempat terlintas di benaknya untuk melakukan hal tersebut.

Tes

Tes

Shaka mendongakan kepalanya, guna melihat mega hitam di atas sana. Hujan kembali turun membasahi ibu kota. Akhir-akhir ini memang hujan sering terjadi di ibu kota, membuat beberapa wilayah juga kebanjiran. Shaka tak tahu ini pengaruh sudah berada di bulan-bulan akhir tahun ini, atau memang pengaruh cuaca. Entahlah.

Shaka menghela napas panjang, sebelum akhirnya membawa langkahnya kembali masuk ke gedung sekolahnya dan berjalan santai menuju kelasnya.

Saat tungkai nya berhenti melangkah tepat di depan kelasnya, ia menghembuskan nafasnya lega, mungkin kah jam kedua ini kosong? atau memang gurunya saja yang belum masuk. Entahlah, Shaka tak peduli, setidaknya guru belum sampai di kelas.

Langkah ringan Shaka menuju tempat duduknya, tanpa sadar membungkam teman-teman sekelasnya. Mereka terkejut dengan Shaka yang mereka lihat hari ini. Cowok itu memang masih rapi dengan setelan seragam batik unggulan sekolah mereka, dan jangan lupakan jaket nya yang enggan ia lepaskan. Tapi yang kini menjadi fokus mereka adalah wajah Shaka yang penuh lebam kebiruan, dan luka robek di ujung bibirnya. Mereka mengenal Shaka walau cowok itu begitu tertutup. Sedingin-dinginnya Shaka dia tidak mungkin ikut tawuran atau berkelahi. Kecuali, memang orang itu yang minta cari gara-gara dengan Shaka.

"Jangan lihatin, risih." Suara dingin itu memecah hening yang sempat terjadi beberapa saat. Dan saat suara anak itu terdengar, barulah kesadaran mereka kembali sepenuhnya.

"Apa banget lo, Jan? Muka ganteng gitu, kok bisa bonyok gitu? Di keroyok apa gimana sih? Udah di obatin belum sih? Masih biru-biru gitu." Pertanyaan beruntun dari Radit membuat Shaka tertegun beberapa saat.

Bahkan bunda atau ayahnya tak menanyai perihal luka lebam di wajahnya. Jangankan menanyai, menyadari dirinya tidak baik-baik saja pun seperti nya tidak.

"Gak usah sok peduli." Ketus Shaka. Membuat Ragil yang di samping Radit itu geram sendiri.

"Ck, masih mending di peduliin, lo gak bisa ngehargain orang lain, apa?! Atau emang lo udah mati rasa sampe gak bisa ngerasain kepedulian teman-teman sekelas, hah?!" Bentakan Ragil sukses membungkam Shaka. Cowok itu dalam hati membenarkan ucapan Ragil, tapi sekali lagi, Shaka hanya memendamnya tanpa menyuarakannya.

"Gil, udah ih. Lo enak banget ngomong kayak gitu tanpa lo sadar kata-kata lo mungkin aja bikin Ujan sakit hati tau." Radit memang begitu, tidak mudah terpancing emosi dan tidak mudah termakan egonya. Tapi kadang kala halitu yang membuat Ragil setengah mati kesal dengan satu-satunya sepupu seumurannya dari sebelah papanya itu.

"Lo mikirin banget perasaan dia. Tapi dia bahkan gak pernah ngehargain kita yang berusaha nerima dia apa adanya. Ah tau lah, susah juga kalau mau minta manusia hati batu itu buat ngehargain orang lain." Pasrah Ragil. Cowok itu malas adu debat dengan Radit yang sudah pasti akan menang lagi.

"Lo benar. Gue memang sebodoh itu buat ngehargain perasaan orang lain. Gue tau gue egois karena cuman mikirin perasaan gue sendiri, karena dari dulupun, yang peduli sama perasaan gue dan ngertiin perasaan gue, ya cuman gue sendiri. Sampe gue lupa, kalau harusnya gue juga harus ngehargain perasaan orang lain. Makasih udah bikin gue sadar. Sorry kalau sikap gue memang terlalu beku nanggapin kalian yang coba mendekat." Ujar Shaka panjang lebar, dan setelah kata itu selesai, Shaka langsung membawa tas nya bergegas keluar kelas. Meninggalkan mereka yang terdiam dengan pikiran masing-masing.

━━━In the Middle━━━

Kuda besi itu di pacu dengan kecepatan di atas rata-rata, membelah ibu kota yang sekarang tengah di guyur dengan lebatnya hujan. Gerimis yang tadi ia rasakan saat masih di rooftof sekolah, kini berubah menjadi sangat deras. Di tambah gemuruh dari mega gelap di atas sana, benar-benar mewakili perasaan Shaka yang tak mampu untuk ia katakan pada semesta.

Jalanan yang basah, serta sepi, membuat Shaka dengan nekatnya semakin menambah laju motornya. Perasaan Shaka saat ini benar-benar campur aduk, entahlah. Tapi kata orang-orang, semua manusia pasti punya titik lelah dalam hidupnya. Dan Shaka rasa ia berada di titik itu untuk saat ini. Jadi biarkan ia berlari dari kenyataan hidupnya sebentar saja. Setidaknya sampai ia merasa kembali sanggup untuk bangkit menjalani hidupnya yang penuh kepura-puraan.

Shaka semakin gila memacu motornya, hingga tanpa sadar, ada sebuah truk melaju kencang dari arah berlawanan.

Cittttt!

Brakkk!

Semua terjadi begitu saja. Helm full face yang di kenakan cowok itu terlepas. Bau anyir darah memenuhi indra penciumannya. Shaka tak menyalahkan siapa saja atas kejadian naas yang ia alami, termaksud sopir truk yang memilih kembali melanjutkan truk itu dan meninggalkan dirinya yang terkapar lemah di atas jalanan basah ini.

Binar mata cowok 17 tahun itu merdepu, menatap angkasa di atas sana yang terlihat gelap. Cowok itu tau, semua ini terjadi karena kesalahannya, jadi tak ada yang berhak di salahkan di sini. Air mata yang sedari dulu Shaka bendung akhirnya luruh, bersamaan dengan rasa sakit yang semakin menghujami tubuh ringkih nya.

Mata itu hampir tertutup sempurna, namun saat pandangannya yang buram menangkap seseorang berjalan tergesa kearahnya, membuat Shaka kembali tersadar, benar kata Ragil, dia terlalu mati rasa untuk menyadari banyak nya orang yang peduli kepadanya.

Maka, di ujung kesadaran nya itu, ia sempatkan untuk tersenyum tipis menatap seseorang yang mengenakan setelah jas dokter itu.

"J ... jangan bilang apapun sama bunda atau ayah, dok ..." Lirih Shaka pelan pandangannya semakin memburam, hingga akhirnya gelap itu berhasil merenggut semua kesadarannya. Membuat pria setengah baya yang menjabat sebagai salah satu dokter di rumah sakit Medika yang pernah menangani Shaka saat alergi dulu kalang kabut bukan main. Ia khawatir.




Tbc....

Assalamualaikum!

Shaka lagi istirahat doang, jadi gak usah khawatir 😌

Adegan di akhir kek emang udh sering ya, tapi mo gimana lagi ide sya ke situ soalnya 🙏

Okeh, dh gitu aja dulu ya, semangat puasanya...

See you...

14.04.21

𝑀𝑖𝑑𝑑𝑙𝑒 𝐶ℎ𝑖𝑙𝑑 ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang