-26-

6.2K 623 66
                                        

Hiruk pikuk jalanan ibu kota sore ini sedikit membuat Shaka jenuh. Di tambah lagi ada Ragil yang sedari tadi tidak bisa diam di sampingnya, benar-benar membosankan, ia jadi ingin segera sampai rumah dan mengistrahatkan tubuhnya.

"Eh Jan, seriusan belok sini kan?" Tanya Radit memastikan. Shaka nampak mengangguk santai.

"Gila, ini kan komplek elit." Celetuk Ragil yang takjub dengan beberapa rumah mewah yang mereka lewati.

"Stop, sini aja." Ucap Shaka tiba-tiba membuat Radit langsung menginjak rem mendadak.

"Eh seriusan? Rumah lo yang mana?" Tanya Ragil sambil mengamati rumah-rumah sekitar.

"Dua rumah dari sini, udah gak papa. Maksih buat tumpangannya. Kalau berbaik hati, jemput gue besok ya, motor gue kata bang Adrian masih di bengkel. Udah ya, dahh makasih. Assalamualaikum." Ujar Shaka cepat, kemudian langsung terbirit keluar dari mobil, meninggalkan Ragil dan Radit yang cengo.

"Tumben tuh anak banyak ngomong. Ah udahlah, putar balik, udah mau malam, mama bisa marahin gue kalau pulang malam." Radit mengangguk mendengar ucapan Ragil barusan.

━━━In the Middle━━━

Dengan langkah tertatih, Shaka membawa berjalan menuju rumahnya. Tepat saat ia sampai di depan pintu rumahnya, cowok itu menghela napas panjang, bersiap menerima apapun yang akan di perlakuan orang tuanya untuk nya.

Tok

Tok

Tok

Shaka menahan napas nya untuk beberapa saat. Pintu depan rumah itu terbuka, sosok laki-laki parubaya itu nampak terkejut, sesaat sebelum amarah itu kembali memuncak.

PLAKK!

Shaka bungkam. Sudah ia duga ini akan terjadi, tapi jujur ia tak pernah berpikir jika tamparan dari sang ayah kali ini terasa jauh lebih menyakitkan.

Memang harusnya sedari awal Shaka tak usah menaruh harap yang berlebih. Harusnya dari awal Shaka tau, ia bukan Rafka ataupun Rafa. Harusnya, harusnya Shaka cukup sadar akan hal itu.

"Jangan karena ucapan Bundamu pagi itu kamu kayak gini! Gara-gara kamu, saya dan Bundamu jadi bertengkar! Apa kamu senang, hah?!" Jujur, bukan ini yang ingin Ardan katakan. Tapi saat melihat wajah putra tengahnya yang pulang ke rumah setelah seminggu menghilang, jujur membuat emosinya kembali naik ke permukaan.

"GARA-GARA KAMU, SAYA DAN BUNDAMU HARUS BERTENGKAR DI DEPAN RAFKA DAN RAFA! GARA-GARA ANAK BERANDAL KAYAK KAMU YANG KERJAANNYA KELUYURAN MULU KAYAK ORANG YANG GAK PUNYA RUMAH! KENAPA PULANG? MASIH INGAT RUMAH?! DASAR!" Suara bariton Ayah yang meninggi membuat Shaka memejamkan matanya dan yang otomatis mengundang banyak pertanyaan di enak tiga orang yang tengah duduk santai di muka tv.

Karena penasaran dengan apa yang terjadi, tiga orang itu mempercepat langkah mereka untuk ke pintu utama rumah mereka dan betapa terkejut mereka melihat Ayah yang tengah memarahi Shaka habis-habisan.

"Ayah kenapa sih? Ayah bahkan belum dengar penjelasan dari aku. Ini untuk dua kalinya Ayah berani angkat tangan Ayah buat nampar aku! Ya aku memang anak berandal di mata Ayah, dan hanya sekedar anak tengah yang gak pernah bisa sesepesial abang sama adek aku." Entah dorongan dari mana, Shaka akhirnya buka suara setelah selama ini memilih diam.

Bugh!

"Lo apa-apaan, sih?! Baru pulang udah berani naikin suara lo di depan Ayah." Emosi Rafa ikut tersulut melihat Shaka yang seperti itu.

𝑀𝑖𝑑𝑑𝑙𝑒 𝐶ℎ𝑖𝑙𝑑 ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang