Suasana hening di dalam ruangan besar penuh buku itu membuat keadaan terasa begitu menegangkan. Dua orang pria duduk bersebrangan di sofa, sebuah meja kayu eboni menjadi penghalang diantara mereka.
Hiashi berdehem pelan, terlalu banyak hal yang berkecamuk di kepalanya. "Jadi kau Uzumaki Naruto?"
Naruto menatap ke arah pria paruh baya itu, dirinya mengangguk "benar."
"Hinata sudah menceritakan semuanya padaku." Hiashi menatap kepulan asap dari dalam cangkir kaca berisi teh hijau yang baru saja pelayan antarkan kemari.
Naruto menundukan kepalanya, menunjukan rasa penyesalan atas semua kesalahannya. "Maafkan aku atas semua yang terjadi enam tahun lalu."
Tanpa bisa dicegah, emosi yang masih teredam di dalam dada Hiashi kembali membuncah. "Kenapa harus putriku?" Ia menatap tajam ke arah pria muda itu. "Kenapa harus Hinata?"
Naruto terdiam, tentu saja yang ia dapatkan adalah kemarahan. Memang apa yang ia harapkan setelah semua yang ia lakukan pada Hinata? Berharap Ayahnya menerima semua ini dengan hati lapang? Oh, teruslah bermimpi.
"Sampai detik ini, aku menyesal pernah membiarkannya pergi ke Hokkaido." Hiashi mencoba mengendalikan emosinya agar tak meledak-ledak.
"Aku mengerti." Jawab Naruto dengan tatapan sendu. "Jangan sesali keputusanmu, ini adalah kesalahanku karena mengacaukan segalanya di Hokkaido."
"Tentu saja itu kesalahanmu. Jika saja kau tidak menghamilinya dan membawanya kabur entah kemana mungkin semua tidak akan jadi seperti ini." Hiashi menatap tajam ke arah pria itu.
"Aku begitu kalut dan tak bisa mengambil keputusan dengan benar saat itu." Ia akui semua kesalahannya, memang dirinyalah yang meminta Hinata untuk ikut dengannya ke Sapporo dan melarikan diri.
"Aku ayahnya, apa kau tak pernah menghargai keberadaanku. Bukankah seharusnya saat semua itu terjadi, kau datang padaku dan menjelaskan semuanya. Minta dia menjadi istrimu dengan benar dihadapanku, bukan menikahinya secara diam-diam dan lari dari tanggung jawab?" Tanya Hiashi dengan nada dingin yang terdengar ambigu.
Naruto merasa tertohok, benar apa yang Ayah Hinata katakan, harusnya itu yang ia lakukan. "Saat itu kehamilannya sudah begitu besar, usianya tujuh bulan dan kami terlalu takut untuk mengatakan yang sesungguhnya. Kondisi Hinata juga sangat mengkhawatirkan saat itu, jadi aku tak ingin menghancurkan hatinya lagi namun kami justru mengikuti ego dan memutuskan untuk menetap di Sapporo."
"Apa kau tahu, aku mencarinya ke seluruh penjuru Hokkaido enam tahun lalu. Hinata, putriku satu-satunya. Meski aku selalu bersikap keras padanya, itu semata-mata hanya karena aku ingin melindunginya. Tapi semua sia-sia, kau tetap berhasil mengacaukan segalanya." Hiashi bernapas tercekat. Ia mengambil napas panjang untuk meredakan emosinya.
"Maafkan aku, aku tahu semua kesalahanku, bahkan aku merasa begitu malu duduk dihadapanmu sekarang. Tapi aku ingin berusaha memperbaiki semuanya." Naruto berucap dengan sungguh-sungguh, dirinya juga merasa begitu emosional. Bahkan untuk berujar, suaranya sedikit bergetar.
"Memperbaiki?" Tanya Hiashi dengan alis terangkat "apa itu alasanmu datang kemari?"
"Kali ini, aku ingin memintanya dengan benar dihadapanmu. Izinkan aku bersama Hinata." Naruto menatap mata amethyst pria paruh baya itu.
"Kau masih menginginkannya?" Tanya Hiashi dengan raut tak terbaca.
"Meski kami menikah karena terdesak kehamilannya, tapi aku benar-benar mencintainya." Naruto berujar dengan tulus, ia selalu menyesali semua sikap keras dan brengseknya pada Hinata selama ini. Tapi yang jelas, seluruh hidupnya telah berubah sejak hidup bersama wanita itu. Ia semakin mengenal Hinata, semua yang ada pada diri wanita itu ia menyukainya. Ketulusannya, pribadinya dan semua yang ia lihat pada diri Hinata membuatnya jatuh cinta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lie
RomanceSatu kebohongan untuk menutupi kebohongan lainnya, hingga tanpa sadar mereka berada di titik buntu. Di penghujung segala kebohongan itu mereka harus menghadapi sebuah pertanggung jawaban atas apa yang telah mereka lakukan. Meski harus berpisah, mesk...
