Naruto mengerutkan keningnya saat seberkas cahaya matahari membayangi kelopak matanya. Perlahan netra sebiru samudera itu nampak, ia menoleh ke samping, tempat dimana semalam wanita cantik itu terlelap.
"Hinata.." gumamnya pelan, ia tak mendapati wanita itu disampingnya. Sisi futton itu sudah kosong, selimut yang mereka kenakan semalam sudah terlipat rapi di atas bantal.
Setelah mengumpulkan seluruh kesadarannya, ia bangkit berdiri dan melangkah keluar kamar. Baru beberapa langkah ia dari pintu kamar, aroma harum masakan langsung menyeruak masuk ke rongga hidungnya.
"Sayang, kau memasak?" Pria bersurai pirang itu cukup terkejut saat mendapati Hinata sudah berdiri di balik counter dapur sambil mengaduk isi panci di atas kompor.
Hinata sangat terkejut saat mendengar suara baritone itu memanggilnya. Refleks ia menjatuhkan sendok ditangannya ke lantai.
Naruto membungkuk dan mengambilkan sendok itu dan memberikannya pada Hinata. "Maaf mengagetkanmu." Ia menoleh ke arah kompor dan mendapati Hinata memasak sup dengan sisa bahan makanan yang diberikan Bibi Kurenai kemarin.
Hinata tak menghiraukan pria itu dan kembali fokus pada supnya.
Naruto mengambil segelas air lalu menenggaknya. Ia kemudian berdiri di dapur sambil menatap istrinya lekat-lekat. "Hinata, besok jadwal untuk memeriksakan bayinya kan?"
Wanita hamil itu menghentikan gerakan tangannya yang tengah mengaduk sup. Ia kemudian mengangguk pelan. Ia pikir Naruto lupa atau mungkin tidak peduli soal pemeriksaannya.
"Kita ke rumah sakit ya." Ujar Naruto dengan lembut, ia melangkah mendekat ke arah istrinya lalu memeluk tubuh wanita hamil itu dari belakang.
Hinata menghela napas pelan dan hanya bergeming. Saat ini ia tengah mengalami gejolak emosi yang berkecamuk. Hatinya berbisik ingin memaafkan Naruto, namun isi kepalanya menolak dengan keras hal itu. Ia tidak bisa menghapuskan rasa sakitnya begitu saja. Rasanya terlalu sulit untuk bisa baik-baik saja setelah apa yang terjadi beberapa waktu lalu.
"Apa kau suka tinggal di sini?" Naruto mematikan kompor dan mengeratkan pelukannya pada wanita hamil itu.
Hinata menggeleng pelan "Naruto-kun.."
"Hm?" Naruto mengecup lembut pundak wanita itu seraya menghirup aroma menenangkan dari leher jenjangnya.
"Ceraikan aku saat bayinya lahir." Pinta Hinata dengan suara parau.
"Aku tidak akan melakukannya. Kita baru saja menikah." Naruto tahu bahwa Hinata belum dapat menerima dirinya.
"Biarkan aku mengurus bayinya sendiri, terus melihatmu seperti ini terasa sangat menyiksa untukku." Jujur Hinata masih ingat semua penolakan yang pernah pria itu berikan padanya dan bayi ini. Bagaimana pria itu mengatakan hal-hal menyakitkan di saat ia tengah membangun sebuah kepercayaan yang begitu rapuh, kemudian dengan mudahnya dia menghancurkannya begitu saja.
"Hinata, katakan padaku bagaimana cara agar kau kembali percaya padaku dan mencintaiku seperti dulu. Haruskah aku berlutut di kakimu atau bagaimana? Katakan apapun yang bisa membuatmu mengerti bahwa aku masih sangat mencintaimu. Kata-kataku di telepon waktu itu adalah kesalahan. Aku kalut sekali dan berpikiran tidak rasional, aku mengakui semua kesalahanku. Tapi aku mohon sekali lagi, maafkan aku, sayang." Naruto tak tahu harus bagaiamana lagi. Dirinya sudah siap jika memang harus memohon ratusan atau ribuan kali pada wanita itu.
"Aku lelah.. aku hanya ingin hidupku kembali seperti dulu, seperti saat aku belum mengenalmu." Ujar Hinata di tengah kepedihan yang tengah ia coba telan bulat-bulat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lie
RomansaSatu kebohongan untuk menutupi kebohongan lainnya, hingga tanpa sadar mereka berada di titik buntu. Di penghujung segala kebohongan itu mereka harus menghadapi sebuah pertanggung jawaban atas apa yang telah mereka lakukan. Meski harus berpisah, mesk...
