Make celana gmn sih dam? Tante sampe ngezoom lagi ngezoom lagi, itu karet kolor apa karet celana yg keluar? Apa ususnya? 😂
Nina POV
"Si om Adam emang gak ada kerjaan ya mbak?" Bisik Dewi sambil menyolek lenganku.
"Hari ini dia kan gak ada pemotretan lagi, ngapain coba ke kantor jadi tiap hari?"
"Kaya yang punya kantor aja, pak Toni aja gak gitu-gitu amat, ya mbak Din?"
Aku melirik pria berkaus putih lengan panjang di padu dengan celana warna senada yang duduk di sofa belakang kami.
Adam tampak khusyuk menunduk menatapi layar handphonenya sedari tadi.
Manusia pelupa itu memang gak ada kerjaan, sejak pagi dia mengikuti kemana pun aku pergi dan membujuk agar aku mau menyepakati permintaannya.
Gara-gara bang Toni dan mulut Dewi memberitahukan soal Anwar, pria itu jadi tahu persoalan hubungan asmaraku yang aneh.
Selama hampir setahun aku berpacaran dengan Anwar sudah beberapa puluh kali aku memutuskan hubungan dengannya.
Kenapa aku bisa sampai seperti itu karena tidak tahan dengan sifat pemalasnya, bayangkan saja sampai usianya yang ketiga puluh tiga tahun, dia tidak mempunyai pekerjaan tetap.
Anwar hanya mengandalkan kekayaan keluarganya.
Aku sudah berkali-kali menyarankan untuk membuka usaha ini itu tapi memang dasar orangnya pemalas, tidak mau berusaha dan tidak berbakat bisnis, baru jalan sebulan dia sudah bosan menjalankan usaha.
Dan akhirnya keluarganya menyerah, kalau di hitung-hitung sudah ratusan juta atau mungkin sudah mencapai angka milyaran modal usaha yang hangus begitu saja.
Ngeri kalau di bayangin, coba kalau keluarganya menuntut Anwar mengganti uang modal usahanya terus Anwar meminta aku ikutan melunasi, uang dari mana coba?
Jadi istri juga belum udah memikul membayar hutang bersama-sama.
Bang Toni sering menasehatiku agar putus dengan Anwar, katanya mumpung masih pacaran, pria seperti dia tidak bisa menjadi kepala keluarga, rasa tanggung jawabnya tidak ada.
Bagaimana mau menafkahi anak istri kalau pekerjaan saja tidak punya.
Dan yang bikin kesal setiap kali aku putus dengan Anwar, pria itu akan selalu menelponku terus-terusan sepanjang hari sampai aku menjawabnya.
Kalau aku tidak menjawab telepon darinya Anwar pasti pagi-pagi sudah berada di teras rumahku memohon untuk kembali.
Akhirnya aku menerimanya kembali karena malu pada orang tuaku, pikirnya mereka masalah seperti ini kenapa tidak bisa aku selesaikan secara baik-baik.
Tapi bagaimana caranya menyelesaikan secara baik-baik kalau tiap kali putus pria ini pasti merengek meminta kembali.
Kalau aku bilang sudah mempunyai kekasih baru dia tidak percaya malah memintaku untuk memperkenalkan pria tersebut padanya.
Bang Toni pernah menyarankan aku menyewa jasa seorang kenalannya yang katanya membuka jasa menjadi kekasih bohongan atau apalah.
Kalau tidak salah namanya Bima, ketika aku menghubungi nomor kontak yang diberikan bang Toni, Bima bilang sudah pensiun dari beberapa bulan yang lalu.
Terlambat.
"Sudah selesai ya?" Tanya model pria berkulit gelap dengan logat bahasa Indonesia yang terdengar aneh menyeretku kembali ke alam nyata.
Aku mengangguk padanya.
"Terima kasih" Pria tinggi itu berdiri, lalu menepuk pundakku.
"Hehehe kocak ya denger suaranya" Dewi terkekeh setelah model itu keluar ruangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelupa
HumorWarning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 6/3/21 - 31/7/21
