Baru tulang rusuk yg kliatan udah bikin dewi aw aw aww, bijimana klo bsk2 dewi liat om adam photoshot di atas tempat tidur eaaaa 😆
Nina POV
Sudah seminggu sejak kejadian di tempat parkir berlalu, Anwar tidak pernah lagi menerorku dengan puluhan bahkan ratusan telepon darinya.
Lebih anehnya lagi mantan kekasihku itu, eh sebentar, Anwar sudah bisa di bilang termasuk sebagai mantanku belum ya?
Biar enak, anggap saja dia sudah menjadi mantan.
Sejak kejadian itu, mantan kekasihku itu tidak pernah sekalipun menunjukkan batang hidungnya ke rumahku.
Aneh, seperti bukan Anwar saja. Aku sih bersyukur, aku anggap hubunganku dengannya sudah berakhir.
Dan lebih bersyukur lagi berakhirnya hubunganku dengan Anwar itu tidak berakhir tragis.
Tragis dalam artian bukan atas campur tangan Adam.
Kalau iya, tragis sekali hidupku berakhir menjadi asisten pria pelupa itu.
Mataku berbinar melihat Dewi datang dengan satu tangan menenteng plastik isi 2 gelas kopi dan tangan satunya lagi menenteng kardus makanan.
"Syukur ya, rejeki perawan-perawan sholehah" Ucapnya sembari meletakkan makanan dan minuman itu di meja rias.
"Sholehah? Mulut sama otak mesum kaya elu sholehah Dew?" Tanyaku dengan pandangan sarkasme.
"Mulut sama otak boleh mesum tapi kan kelakuan gak mencerminkan apa yang ada di otak gue mbak" Jawab Dewi santai.
"Gak mencerminkan apaan? Gak inget sama mata elu waktu kita liat photoshoot nya Adam, jelalatan kaya mau makan dia mentah-mentah"
"Terus ngeliatin dia pas ketiduran, mata elu udah kaya mau ngegelinding keluar"
"Serem gue ngeliat elu Dew" Lanjutku lagi.
"Ya udah lupain soal sholehah, rejeki perawan ajalah" Dewi masih saja memberikan alasan.
"Gue gak yakin juga elu masih perawan secara mulut sama otak elu tiap detik mikirnya gak jauh dari alat-alat reproduksi manusia" Aku melayangkan pandangan sangsi padanya.
"Ya ampun mbak, mulut elu sadis bener deh, gue masih perawan, orang-orang yang tipenya kaya gue ini cuman berani ngomong doang"
"Belom berani praktekin teori-teori yang udah hapal di luar kepala" Lanjut Dewi.
"Terserah elu deh Dew, ngomong-ngomong ini dari siapa?" Tanyaku menyudahi argumen yang mungkin tidak akan selesai sampai kapan pun kalau kami teruskan.
"Dari Leo mbak" Jawab Dewi lalu mengambil satu gelas kopi dan memberikannya padaku.
Semakin lama semakin betah kerja di sini, model-modelnya pada baik-baik, padahal setahu aku bule-bule itu jarang loh yang mau mengeluarkan uang untuk mentraktir makan orang lain.
Biasanya mereka kalau makan ya bayar sendiri-sendiri.
Ah, mungkin gak semua bule, buktinya ekspat-ekspat yang menjadi model di majalah fashion ini sangat-sangat royal.
"Itu bule baik bener dehhh, seneng banget beliin kita jajanan mulu, ini apaan?" Tanyaku lalu berdiri dan mengambil kotak kardus.
"Brio apa tadi tuh si Leo bilang, ada prancis-prancis nya gitu kalo gak salah" Jawab Dewi sambil nyengir.
"Brioche french toast" Ralatku setelah melihat isinya.
"Nah itu, kalo gue taunya french kiss yang ngelibatin lidah, hehehe..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelupa
HumorWarning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 6/3/21 - 31/7/21
