Tum.pul
Udah itu aja komen tante 😆
Adam POV
"Kamu ngapain?" Tanyaku bingung dengan mata mengarah pada tangan perempuan yang sedang meriasku.
Awalnya telapak tangannya itu berada di lututku lalu lama-lama semakin naik ke paha dengan gerakan merayap.
"Pe...pegel, memangnya gue gak boleh bertumpu di lutut elu?" Perempuan itu menjawab dengan tergagap sambil menarik telapak tangannya lepas dari pahaku dan meninggalkan jejak panas di sana.
Efeknya membuat aliran darah menuju ke satu tempat.
Aku berdeham.
"Oon lu mbak Nina"
Perempuan yang di sebut bernama Nina oleh Dewi itu hanya meringis lalu kembali meriasku.
"Saya minta Dewi yang ngerias saya, kenapa kamu ngotot mengambil alih pekerjaan Dewi?" Tanyaku dengan bersedekap setelah menepis tangannya ketika hendak merapikan alisku.
"Saya gak ngotot ngambil alih kerjaan Dewi, saya cuma nolongin dia karena tangannya Dewi tremor, dia gak bisa megang alat ri..."
"Ngucap lu mbak doain gue tremor" Dewi memotong perkataan Nina sambil memukul pundak perempuan yang lalu menjerit pelan.
"Tremor? Gak bisa megang alat rias tapi masih bisa megang alat kelamin kan Dewi?" Tanyaku sambil mencolek lengan atas Dewi.
"Oh jelas om" Jawab Dewi cepat dengan senyuman lebar.
"Bagus, tangan memang fungsi utamanya itu" Aku mengedipkan sebelah mata menanggapi senyuman Dewi.
"Om Adam selama elu gak ada berguru sama gue mbak, hebat ya dia punya bakat alami juga" Dewi berkata pelan pada Nina.
"Amit-amit kalian berdua memang cocok"
Kulihat Nina bergidik melihat kami bergantian.
"Kamu mau tes tangannya masih bisa megang alat kelamin apa nggak Dewi?" Aku tidak memperdulikan pandangan jijik Nina padaku.
"Wahh, mau banget" Sahut Dewi semangat.
"Nih, mumpung saya turn on, gak tau kenapa bisa tiba-tiba bangun sendiri" Aku bergerak sedikit membetulkan posisi dudukku yang tidak nyaman karena celana bahan yang aku kenakan terasa sesak.
"Beneran om? Kok bisa bangun sendiri?" Aku melihat Dewi melirik Nina dari pantulan kaca.
"Ya beneran, saya memang pelupa, tapi saya bukan pembohong" Punggungku menegak menyadari perkataan yang barusan keluar dari mulutku, rasanya seperti dejavu sudah pernah mengatakan hal tersebut.
"Itu mulu yang di sebut, 'saya memang pelupa, tapi saya bukan pembohong'" Nina menirukan suaraku.
"Masih bangun om?" Tanya Dewi setelah memukul pelan lengan Nina.
"Masih" Jawabku cepat, aku sendiri bingung kenapa bisa turn on seperti ini.
"Bangun gara-gara pahanya tadi di pegang mbak Nina kali" Ucap Dewi.
"Nope, gak mungkin. Saya model professional yang bisa menahan diri untuk tidak turn on selama dalam bekerja" Sangkalku cepat.
Perkataanku benar adanya, selama aku bekerja menjadi model aku tidak pernah merasakan intiku mengeras walaupun rekan photoshoot ku model perempuan yang memakai pakaian minim.
Ataupun scene photoshoot kami berpelukan bahkan sampai saling menempelkan tubuh, organ reproduksiku ini tidak akan mengeras.
"Oh jadi turn on nya kalau lagi gak kerja"
Aku mendengar suara Nina bergumam.
"Gak juga, walaupun lagi gak kerja bareng model perempuan saya jarang turn on" Sangkalku lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelupa
HumorWarning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 6/3/21 - 31/7/21
