Anda tampak muda sekali di photo ini wahai om adam 😱
Nina POV
"Kamu mulai kerja?"
Aku tidak menghentikan langkah ataupun menoleh ke asal suara yang terdengar dari belakang ketika aku berjalan menuju ruang rias.
"Nina"
Mungkin karena aku tidak mengubris pertanyaannya, Adam menghalau jalanku dengan berdiri tepat di hadapanku.
"Minggir" Ucapku ketus dengan mendongak tinggi dan pandangan sengit.
"Ok" Sahut Adam dengan kedua tangan naik ke atas melewati bahu lalu tubuhnya bergeser ke samping.
"Ngapain elu ngikutin gue?" Tanyaku ketika menyadari Adam berjalan di samping.
"Ruangan saya kan di sana" Tunjuknya ke arah sebuah ruangan yang berada di ujung lorong sambil tersenyum.
Senyumannya lebar, pria yang berpakaian sangat kasual ini terlihat ganteng.
Lagi-lagi aku berpikir, kapan sih Adam terlihat jelek?
"Sejak kapan elu jadi penata rias? Oh, elu ngegantiin posisi gue ya selama gue vakum?"
"Nina" Adam menarik pergelangan tanganku sehingga aku berhenti melangkah.
"Ngapain sih pegang-pegang?" Tanyaku kesal.
"Oh, kamu maunya dicium?" Adam menghabiskan jarak di antara kami dengan menundukkan tubuhnya.
"Gila!" Ucapku sembari mendorong tubuhnya sekuat tenaga.
Adam terkekeh. Terlihat jelas kalau dia sangat senang bisa menggodaku.
"Masih aja galak, padahal kita udah bertukar cairan di mulut, apa kita harus bertukar cairan yang lain ya biar kamu gak galak lagi?"
Mataku melebar, wajahku memanas mendengar perkataannya barusan. Berteman dengan Dewi memberikan sedikit manfaat, aku tahu maksud kata 'cairan yang lain' dari perkataan Adam.
Pasti cairan yang dihasilkan kontos dan memes.
Aku menepuk kening mengusir pikiran kotor yang tiba-tiba terbesit.
"Mulut elu tuh ya" Aku mendelik, mencoba bersikap lurus di mulut padahal otakku barusan belok ke arah mesum.
"Selama kamu gak ada, Dewi ngajarin saya banyak hal" Ucapnya bangga.
"Amit-amit" Kataku lalu kembali melanjutkan langkah menuju ruang rias.
"Nina" Panggilnya lagi, tangannya kembali memegang pergelangan tanganku.
"Lepasin gak!" Bentakku kasar.
"Saya tau kamu suka dan menikmati ciuman kita kemarin" Adam menunduk dengan suara berbisik.
"Dih, kepedean" Sangkalku cepat.
"Gara-gara elu mama gue sama bang Toni bertingkah aneh" Rahangku mengetat sambil menghentakkan tangannya.
Gak habis pikir karena bang Toni dan ibu bersikap tenang setelah mendengar ceritaku walaupun tidak mendengar ceritanya sampai habis.
"Mereka gak bersikap aneh, justru senang"
Keningku mengernyit dalam mendengar perkataannya.
"Senang?" Aku mengulang kata yang dia ucapkan.
"Senanglah, saya bisa bikin kamu jadi gak takut lagi bersentuhan" Kebanggaan terdengar jelas keluar dari mulutnya.
"Kata siapa?" Tanyaku dengan bersedekap setelah berhenti melangkah.
"Kata saya barusan" Mata Adam mengarah ke dadaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelupa
HumorWarning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 6/3/21 - 31/7/21
