Make sepatu mo kmn om? Brangkat sekolah onlen permesuman ya? Ya ga perlu pake sepatu kali, ga kliatan, klo bisa ga pake apa2 biar gurunya (dedew) semangat 🤭
Adam POV
"Elu remesnya lebih kekencengan dari sebelumnya kali mbak?"
"Gila lu, masa gue remes kontos orang kenceng-kenceng"
"Ya kalau gak kekencengan, om Adam gak mungkin sampe pingsan begini"
"Sadis lu mbak, masa kontos kenyal elu remes kenceng-kenceng, di kira squishy kali"
"Beneran Dew gak kekencengan, gue cuma remes sama ngusap-ngusapin pelan doang"
"Tuh kan pake acara ngusap-ngusapin segala, rencananya elu kan cuma ngeremes mbak, karena mau mastiin kesimpulan elu doang"
"Gak tau ah, tangan gue yang bergerak sendiri"
"Sukurin karma, yang tremor beneran malah tangan elu"
"Amit-amit, ngucap lu Dew"
"Dih, kan elu duluan yang doain gue tremor"
"Itu kan cuma alasan gue doang, terus ini Adam mau kita gimanain dong?"
"Gue rasa elu ngeremes sama ngusapinnya pake nafsu sampe om Adam muncrat, karena keenakan, eh pingsan deh"
"Gila lu Dew, masa sampe muncrat, lu liat gak tangan gue ada bekas muncratannya apa nggak?"
"Ya gak liat, mungkin aja elu langsung elap pake tisu basah ngilangin bukti"
Terdengar sayup percakapan suara dua perempuan. Suara mereka sangat berisik.
Aku mencoba membuka mata, terlihat dua sosok samar yang berdiri tidak jauh dari tempatku berbaring.
"Eh, om Adam sadar mbak"
Dua sosok itu mendekat.
"Adam, elu gak kenapa-napa? Mau ke rumah sakit, apa yang di rasa?"
"Saya kenapa Nina?" Tanyaku setelah berusaha duduk lalu memijit pangkal hidungku yang terasa pusing.
Pandangan mataku mengedar, aku berada di ruang rias, yang aku ingat, aku bersama Nina sebelum kepalaku terasa pusing.
Nina mengambil duduk di sampingku dengan mata melebar.
"Elu inget gue?" Tanyanya, Nina tersenyum lebar.
Aku menggangguk.
"Memang kenapa sampai saya gak inget kamu?" Tanyaku.
Senyuman Nina semakin melebar, Nina menarik tanganku dan meremasnya lalu menciumi punggung tanganku.
Aku menatapnya bingung, sejak kapan Nina berani bersentuhan dan malah memulainya duluan?
"Dan dia kalau gak salah rekan kerja kamu, Dewi kan?" Daguku mengarah ke arah perempuan yang berdiri lalu mengambil duduk di atas meja sofa.
"Yahh... kayanya om Adam kembali normal" Suara Dewi terdengar kecewa.
"Heh, orang mah seneng Adam gak kenapa-napa" Nina menepuk lengan Dewi.
"Elu yang seneng karena om Adam balik inget elu" Sungut Dewi.
Aku memperhatikan mereka berdua dengan pandangan bingung.
"Memangnya saya kenapa?"
Sepertinya ada yang terjadi dan aku tidak mengetahuinya.
"Om Adam tadi pingsan selama kurang lebih lima belas menit" Dewi menjawab pertanyaanku.
"Pingsan? Kenapa?" Tanyaku dengan nada bingung yang tidak aku tutupi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelupa
HumorWarning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 6/3/21 - 31/7/21
