Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 2

17.9K 1.8K 37
                                        

Jay masih fokus dengan pekerjaannya. Tapi, otaknya tak sepenuhnya fokus pada table diagram perusahaan yang selalu melesat naik. Pikir Jay sudah biasa ia lihat omsetnya selalu melambung tinggi. Namun yang jadi masalah disini adalah, Taeri. Yap, hot duda ini terbayang terus akan wajah perempuan yang baru ditemuinya tadi.

Gila, Taeri bawa pengaruh besar buat Jay!

"Sialan, kenapa jadi uring-uringan gini sih gue?" Gumam Jay seraya menyisir rambutnya kebelakang dengan jari. Tak lama setelah itu, pintu ruang kerjanya diketuk seseorang.

"Daddy?"

Itu si sulung, ia menyembulkan kepalanya setelah membuka pintu kamar. Jay menoleh ke arah pintu, tersenyum ketika Mark sudah duduk dihadapannya.

"Yes boy?"

"Dad.."

Jay kembali menatap laptopnya, ia hanya berdeham menanggapi suara sang anak. Jay tau pasti setelah ini ada suatu hal yang entah apa itu, tapi berakhir tak baik. Lihat saja..

"Dad, uang... daddy masih banyak kan?"

Ketikan tangan Jay berhenti sebentar, ia mengernyit waktu dengar ucapan Mark. Tentu uangnya masih banyak, sampai Mark punya anak tujuh turunan juga aset Jay masih terus bertumpuk. Kemudian ia menatap anak itu, "kenapa emang, kak?"

"Eummm.. gini loh dad.."

"Gini apa?"

Mark masih diam, ia memainkan jari-jarinya diatas meja kerja Jay. Mark tuh takut buat bilang, tapi jika diam saja tidak kelar-kelar masalahnya. Mark andilau, antara dilema dan galau!

"Daddymarkmintamotor"

Jay mengerjap beberapa kali, ia mengucak telinganya dengar ucapan Mark tadi. Anaknya ini ngomong atau ngeRap? Cepat banget..

"Kamu ngomong apa sih?"

Mark berdecak kesal, "Daddy ngga denger?"

"Ya gimana mau denger, kamu ngomong kecepetan"

"Mark minta motor, dad..." Cicit Mark pelan, namun masih terdengar olehnya.

"Hah? Kok minta motor? Buat apa? Kan kaka udah punya" Jay agaknya kaget sama permintaan Mark, buat apa minta motor lagi sedangkan motor dia saja sudah tiga. Dan semuanya keluaran terbaru.

Mark hanya nyengir, ia menggaruk pelipisnya, "hehe motornya bukan buat aku, dad. Tapi buat temen"

"Kenapa buat temen? Mending buat kamu" Jay agak ngegas ngomongnya, bikin Mark sedikit mendesis, "soalnya ban motor dia aku peretelin, dad"

Kan! Udah ketebak!

Jay menghela nafasnya pelan, ia mencoba sabar (lagi) menghadapi anaknya "motor apa yang harus diganti? Biar daddy hubungi anak buah daddy"

"Ducati"

"WHAT?!?"

Mark membolakan kedua matanya, ia takut lihat wajah terkejut Jay "daddy jangan marah, Mark janji ngga ngulanginnya lagi" Ucapnya mengacungkan dua jarinya.

"Mark! Kamu mau tau ngga? Daddy tuh ngga marah, daddy cuma ngga nyangka aja sama ulah kamu" Jay menggeleng kemudian.

"Yaudah ganti yaaa dad.. pleaseee~" Sebenarnya Mark jijik sendiri dengan kelakuannya seperti ini. Dia kan laki, masa bujuk daddynya harus begini banget. Menggenggam sebelah tangan Jay terus dielus-elus gitu, hih~ Mark tak akan melakukan ini lagi jika tak penting-penting banget.

Jay merespon dengan gelengan, "no, daddy ngga mau beliin yang baru. Ganti sama salah satu motor kamu"

"Ngga bisa, dad! Mark ngga mau!" Tolaknya menggeleng cepat.

Step Mother For Jung's (✔)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang