"Lo abis ngelakuin apa sama daddy?" Tanya Mark menatap tajam Jeno, "gelakuin apaan?" Tanya balik Jeno tanpa melepas pandangan dari gamenya.
"Ngga usah pura-pura, gue tau semuanya! Semalem lo mabok, kan?"
Iya, sebelum Mark benar-benar tidur ia mendengar keributan dirumahnya dan melihat Jeno habis ditangan daddynya. Namun yang bikin Mark tersentak adalah ucapan Jeno yang sangat keterlaluan. Sebandal-bandalnya Mark, ia tidak pernah bertindak seperti itu pada Jay.
Ia masih mempunyai perasaan untuk tidak menyakiti hati Jay jika harus berbicara sarkas seperti Jeno. Makannya hal itu pula yang membuat Mark sedikit marah pada adiknya.
"Ya, terus?"
"Sialan lo! Gue lagi serius ngajak lo ngomong, Jen!" Ucap Mark membentak Jeno. Ia jengah melihat tingkah adiknya seperti ini, terlalu menggampangkan orang.
"Urusannya sama lo apa sih? Biasanya juga lo cuek sama daddy"
"Gue emang kadang cuek sama daddy. Tapi gue ngga kurang ajar kaya lo!"
Jeno mendengus malas, menatap intens sang kakak "gue, elo, Sungchan, itu ngga ada bedanya. Jadi lo ngga usah merasa paling bener diantara kita. Paham lo?" lalu pergi meninggalkan meja makan tanpa menyentuh sarapannya.
Jay sudah berangkat pagi-pagi sekali kekantornya untuk meeting. Sebenarnya bukan itu sih alasan pertamanya, hanya saja Jay terlalu merasa bersalah jika bertemu anak-anaknya.
***
Taeri hari ini datang tepat waktu. Bahkan sebelum bossnya datang, Taeri sudah rapih duduk dimeja kerjanya. Selang beberapa menit senyum Taeri mengembang ketika Jay berjalan menuju ruangannya.
Taeri pun berdiri, "Sselamat pagi, pak Jay" sapanya dengan ramah sambil menunjukkan senyum terbaiknya.
"Selamat pagi juga, Taeri" balas Jay sedikit tersenyum. Senyum Taeri sedikit turun kala melihat wajah bossnya seperti tidak sedang baik-baik saja.
Apa bossnya ini sakit? Kenapa wajahnya terlihat sedikit pucat, pikirnya.
"Eumm.. maaf sebelumnya, pak. Pak Jay hari ini dalam keadaan baik? Muka bapak terlihat pucat" tanya Taeri. Bukannya mau sok perhatian, tapi ia hanya berusaha baik kepada bossnya. Tanpa berusaha baik pun Taeri memang dasarnya sudah baik.
Jay menaikan alisnya, agak tersenyum canggung "a-ah saya baik, kok. Saya cuma belum ngopi aja makannya wajah saya terlihat seperti ini"
Sebenarnya ucapan Jay itu bisa dibilang benar, bisa juga tidak. Dirinya memang antara belum mendapatkan kafein dan ya... malu-malu karena disenyumin Taeri tentu saja. Tapi ia juga merasa tidak enak dengan badannya mengingat dirinya semalaman tidak tidur, ucapan anaknya terus berputar diotaknya.
"Lebih baik bapak jangan minum kopi dulu hari ini, saya buatkan teh hangat saja bagaimana? Pak Jay mau?" Tawar Taeri. Tentu kesempatan itu tidak Jay sia-siakan, ia mengangguk "boleh, nanti bawakan keruangan saya ya. Terimakasih sebelumnya" Jawab Jay.
Taeri tentu saja dibuat tertegun melihat senyum bossnya. Ia baru sadar jika Jay memiliki cacat pada pipinya dimana itu malah membuatnya semakin terlihat tampan berkali-kali lipat. Oke, Taeri akui dirinya terpesona dengan kharisma Jay.
"Aih, apa-apaan sih?! Ngga-ngga! Dia boss kamu, Ri. Inget itu, dia boss kamu" Taeri bicara pada dirinya sendiri sambil menggelengkan kepalanya. Apa-apaan sih ini, suka kok sama bossnya sendiri(?) Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kantor dapur membuatkan teh sesuai tawarannya.
***
"Tumben diem aja, bisulan tuh mulut?"
Mark menatap malas orang disebelahnya, untung ia sedang menikmati makan siangnya. Kalo tidak, Mark pastikan ia akan menyumpal mulutnya dengan sarung tinju milik daddynya.
"Bacot lo!"
Dery terkekeh mendegarnya, "galak bener, giliran sama Chani aja kicep lo" ledeknya setelah duduk dihadapan Mark.
Bicara soal Dery, anak ini teman sekelasnya Mark sekaligus kakak dari Chani. Sedangkan Chani sendiri adalah kekasihnya Mark. Mereka berdua sekarang lagi ada dikantin, baru selesai pelajaran olahraga. Jeno dan Sungchan tidak ada, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.
"Ohya, mana tuh si beruang kutub? Kangen gue belum ketemu seharian ini sama dia"
"Tadi sih gue liat dia lagi kumpul sama temen-temen cheerleadersnya" Jawab Dery kemudian diangguki Mark. "--eh iya, ngomong-ngomong.. lo lagi selek sama adek lo?" lanjutnya.
"Adek yang mana? Adek gue ada dua nih". Dery berdecak, "--dua-duanya lah"
"Ohh, Jeno sama Sungchan?" Mark mengangguk pelan, "--tau, gue lagi gedek aja sama mereka" lanjutnya sambil memasukan bakso kedalam mulutnya.
"Kenapa? Tumben, biasanya nempel mulu lo bertiga kek biji" Dery agak heran sama Mark. Soalnya kan mereka bertiga ini kemana-kemana selalu barengan, ibaratnya seperti paket komplit lah. Nah sekarang malah sendiri-sendiri, tumben banget pikirnya.
"Gue ngga suka aja sama omongan mereka ke daddy"
"Emang mereka ngomong apaan sama om Jay?"
Mark menghela nafasnya pelan, lalu mulai menceritakan tentang kejadian kemarin. Mark berani cerita ke Dery karena selain orangtua mereka bersahabat, Dery juga temannya sedari kecil. Dery juga merupakan orang yang sangat menghargai persahabatan dan mampu untuk menjaga rahasia. Bahkan Dery juga tau tentang cerita kedua orangtuanya, dari mulai peselingkuhan hingga meninggalnya sang mommy.
"Gila! Gue ngomong kaya gitu bisa digamparin bolak-balik kali sama daddy" pekik Dery setelah mendengar ceita Mark. Ia bergedik ngeri membayangkan posisi mereka bicara seperti itu pada Johnny.
"Meskipun kelakuan gue sama kaya adek-adek gue, sering nyusahin daddy, tapi gue selalu tahan buat ngga ngomong kaya gitu. Tapi emang dasarnya tuh dua bajingan mulutnya kurang ajar, gue takut daddy sakit hati sama omongan mereka"
Dery mengangguk paham, ia mengerti dengan keadaan Mark saat ini. Toh, Dery dan Chani pun mengalami hal yang sama. Johnny juga termasuk workholic, hanya yang membedakan mommy mereka. Chitra termasuk orang yang setia begitupun Johnny, ya.. walaupun kelakuan orangtua mereka ugal-ugalan.
"Tapi.. lo peduli kan sama om Jay?"
Pertanyaan Dery ini tentu membuat Mark agak diam. Jujur ia sangat menyayangi daddynya, hanya saja ia tidak tau bagaimana cara mengungkapkan itu. Sama halnya dengan kedua adiknya, mereka hanya butuh perhatian Jay..
"Najis, kebanyakan mikir lo kaya ngisi kuis!" Dery mengusap wajah Mark, sedangkan ia menatap polos Dery "gue bingung mau ngomong apaan anjir" jawab Mark.
"Sialan, udah berusaha melow si anjing malah ngelawak!" Pikir Dery.
"Bodoamat setan! Noh, hp lo geter" Dery menunjuk ponsel Mark diatas meja dengan dagunya, kemudian Mark melirik dengan mengernyit "nomer tidak dikenal.. siapa nih?" Tanyanya pada Dery.
Anak itu mendengus malas, "mana gue tau. Lo nanya gue, gue nanya siapa? Lagian itu kan hp lo, kenapa nanya gue?" ketusnya.
Dery pikir berteman dari kecil dengan Mark membuat dirinya akan lebih pintar. Namun sepertinya salah, ternyata Mark jauh lebih bodoh dari dirinya.
Mark menempelkan telunjuknya pada bibirnya, mengisyaratkan agar Dery diam. Kemudian dia mengangkat panggilan tersebut, "hallo.."
"..."
"Iya benar ini dengan keluarga Jung, saya anaknya. Ada apa?"
"..."
"Hah?"
"..."
"Oke saya akan kesana, terimakasih informasinya"
"Ada apaan weh?" Tanya heboh Dery setelah Mark memutuskan sambungannya.
"Bokap gue masuk rumah sakit anjir!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Step Mother For Jung's (✔)
Fanfiction[ R E V I S I ] S E L E S A I Jayson Jung, atau biasa dikenal Jay. Seorang duda nan kaya memilih untuk menikahi kekasihnya yang tidak lain adalah sekretarisnya sendiri. Dia memiliki 3 orang putra dengan watak, manner, maupun attitude yang buruk. Ber...
