WARNING⚠️⚠️
•DILARANG KERAS PLAGIAT!
•CERITA INI HANYA ADA SATU YAITU PUNYA SAYA. JIKA TIDAK PERCAYA, KALIAN BISA CARI JUDUL BAHKAN TAGS DARI CERITA SAYA.
•KALAU ADA CERITA YANG PERSIS SEPERTI PUNYA SAYA, SILAHKAN DM SAYA.
•Revisi bertahap
***
Tak k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Senyum Marvel terukir jelas saat melihat banyaknya tulisan tangan yang menempel dalam buku yang ada di tangannya. Ia seperti menyelami kehidupan Bella yang bahagia, banyak ungkapan kebahagiaan yang ditujukan kepada Bundanya dulu. Banyak aduan menarik yang Bella lontarkan lewat buku diary-nya. Berharap tidak ada aduan menyakitkan dilembar berikutnya.
'Bunda, Bella habis cium anak orang di sekolah. Tapi nggak sengaja kok, Bella berani sumpah.'
Masih ingat saat pertama kali pertemuan Bella dan Marvel di koridor sekolah? Rasanya Marvel marah sekali dulu, tapi tidak untuk sekarang, bahkan lelaki itu tersenyum geli saat membaca kalimatnya.
"Kan jadi kangen." Gumamnya seraya menutup buku diary berwarna pink tersebut. Kepalanya menggeleng seraya memancarkan senyumnya.
"Kangen siapa?!" Audi melirik lelaki remaja disampingnya, apa putranya sehat? Awalnya Audi tak perduli, dia kira putranya hanya tertawa sekilas, ternyata berlanjut.
"Oh, nggak Ma."
"Kamu kesurupan?" Tanya Audi penasaran, tangannya dengan sigap menyentuh dahi hingga pipi putranya.
Marvel dengan cepat menepis tangan Mamanya. "Astaga Mama! Berdosa banget jadi orang." Sarkasnya. Matanya menyipit memandang Mamanya yang menatapnya tajam.
"Stop baca bukunya, bantuin Mama urusin laporan dulu!" Ujar Audi sambil kembali fokus pada banyaknya kertas di hadapannya. Marvel menaruh buku pink itu di meja. Tangannya mulai menyentuh bolpoin dan kertas dihadapannya. Macbook yang tadi sempat menganggur ia sentuh lagi.
Marvel medesis. "Kenapa aku nggak berangkat sekolah aja sih tadi." Gumamnya kesal. Kalau saja ia berangkat sekolah tadi, pasti sekarang ia sedang memandang wajah cantik kekasihnya, niatnya tak berangkat sekolah hari ini karena Marvel ingin malas-malasan di rumah.
"Nyesel? Baguslah! Makanya disuruh sekolah jangan bandel." Audi merasa puas sekali. Pagi tadi ia hampir dibuat darah tinggi karena menyuruh putranya ke sekolah, sekarang lelaki itu mengeluh karena dipaksa mengerjakan pekerjaan Mamanya.
"Apa?!" Sarkas Audi saat Marvel mencuri pandang ke arahnya. Audi juga melihat diam-diam Marvel meraih ponselnya dan memasukkannya ke saku hoodie yang dikenakan lelaki itu.
"Nggak kenapa-napa. Mama cantik deh, Marvel ke toilet ya bentar." Marvel beranjak, baru beberapa langkah meninggalkan sofa sialan itu suara Mamanya kembali menginterupsi.
"Anak ganteng Mama, di toilet nggak ada jendela buat kabur. Duduk!" Marvel membuang nafas pasrah, ia pun kembali duduk di sofa tadi, disamping macan betina.