Bolehkah kita seperti dulu lagi?
***
Disinilah Marvel berada, di pinggir kolam renang rumah Bella. Setelah menyetujui ajakan Alvin ke rumahnya, lelaki itu langsung menyuruh Albert mengantar mobilnya ke rumah Bella. Albert hanya mampir sebentar membahas Salsa yang kini perbuatannya sudah diungkap. Salsa akan mendapatkan hukuman dari pihak sekolah nantinya. Besok sudah diliburkan mengingat hari ini adalah penerimaan raport kenaikan kelas.
Sekarang, lelaki remaja itu hanya menunduk memandang birunya air dalam kolam renang. Bukan airnya yang biru melainkan warna ubin dari kolam renang tersebut. Lelaki yang biasanya selalu memecah hening sekarang hanya diam. Ia ingin bercerita dengan Bella tapi apa daya. Mereka sama-sama keras kepala dan tak mau memulai obrolan. Menghela nafas akhirnya Marvel buka suara.
"Bisa kita kayak dulu lagi? for today, I promise." Bella, gadis itu rasanya ingin menangis. Seperti dulu? Tentu saja ia mau. Tapi apakah ini akan berhasil melupakan Marvel? Keadaan ini tak akan mampu melupakan Marvel dari pikirannya.
"Oke." Dengan keberanian lebih gadis itu menyetujui. Ia hanya ingin merasakan tulusnya cinta Marvel. Untuk hari ini saja tidak salah kan?
"Sini." Lelaki remaja itu merentangkan tangannya. Ia ingin semua ini jadi permulaan, ia dan Bella kembali menghangat. Rasa cinta tak sedikitpun hilang dari hati keduanya. Mereka adalah dua insan yang harus merasakan sakit yang amat mendalam.
Bella langsung beranjak memeluk Marvel. Rasa rindunya sedikit demi sedikit terobati. Walau hanya hari ini, bolehkah ia bahagia? Hanya hari ini. Gadis itu kini sudah merasakan hangatnya pelukan Marvel. Gadis itu meneteskan air matanya, ingin rasanya mengadu tapi ia tak bisa. Yang ia lakukan hanya mengadu pada sang kuasa.
"Aku kangen Bel. Kangen semua kenangan kita dulu, walaupun banyak kenangan jeleknya."
"Aku juga. Boleh nggak sih kita kayak gini. Sampai besok, lusa, 10 tahun kemudian, 20 tahun kemudian. Selamanya. Forever." Gadis itu tak bisa menahan air matanya lagi, ia menangis sesenggukan dipelukan Marvel. Lelaki yang sudah memegang kunci hatinya.
"Berdoa. Salah satu cara supaya Tuhan mau menyatukan kita. Semua ini salah aku Bel, aku yang perlakukan kamu nggak baik dulu." Lelaki itu mengangkat wajah kecil Bella, mengusap air mata yang menetes dari pelupuk mata gadisnya. Gadis yang berhasil mencuri hatinya. Memberi kecupan singkat di hidung mancung Bella.
"Aku tau masalah kamu Vel. Siapapun kamu, aku tetep sayang sama kamu. Bolehkan aku peluk kamu terus. For today, i promise." Lelaki remaja itu mengangguk, tak hanya hari ini saja. Ia ingin kebahagiaan dan kebersamaannya dengan Bella berlangsung selamanya.
"Kamu jangan jauhin aku lagi." Lagi dan lagi, air matanya seperti diperas habis. Lelaki itu juga meneteskan air matanya, ia tidak menangis tetapi air mata itu turun sendiri dengan lancangnya. Ada apa ini? Ia yang harusnya menjadi penyemangat Bella malah ikut meneteskan air matanya.
Gadis itu berjengit kaget saat tubuh Marvel seperti tak bertenaga. Lelaki itu menutup matanya, pelipisnya berkeringat. Lelaki itu pingsan, dipelukan Bella. Spontan gadis itu langsung memeluk erat tubuh Marvel. Masalahnya sekarang mereka berada di pinggir kolam renang.
"Kakak! Tolongin Bella Kak!" Merasa tak ada yang datang, akhirnya ia kembali mengeluarkan suaranya. "Kakak!" Setelah panggilan kedua, tampak seorang lelaki berjalan ke arahnya dengan jari tangannya yang sibuk menari diatas layar ponsel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gadis Suruhan (END)
Ficção AdolescenteWARNING⚠️⚠️ •DILARANG KERAS PLAGIAT! •CERITA INI HANYA ADA SATU YAITU PUNYA SAYA. JIKA TIDAK PERCAYA, KALIAN BISA CARI JUDUL BAHKAN TAGS DARI CERITA SAYA. •KALAU ADA CERITA YANG PERSIS SEPERTI PUNYA SAYA, SILAHKAN DM SAYA. •Revisi bertahap *** Tak k...
