senyummu adalah canduku
***
"Ayah..." Bella menggantungkan kalimatnya, ia tak yakin bisa menceritakannya. Tapi ia tak ingin melihat Alvin kecewa, sekali lagi, ia harus kuat. Itu hanya masa lalu kelamnya yang sudah tak ia pedulikan lagi. "Ayah gak peduli sama aku kak," ungkapnya. Nadanya terdengar sangat lirih dan penuh luka.
"Tapi Kalo kita sekeluarga kumpul, kayaknya ayah lo baik deh." Alvin mengingatnya, jelas sangat ingat. Bagaimana mungkin sosok yang merawat Bella berubah jadi monster. Padahal saat di depan keluarganya ia sangat baik, entah itu kepada Bella maupun Alvin yang bukan anaknya sekalipun.
"Iya baik, banget malahan. Tapi..." Bella tidak kuat melanjutkannya rasanya sudah sangat menyesakkan, buliran air mata mulai mengalir lagi. Sungguh sangat menyakitkan mengetahui orang yang disayangi begitu jahatnya. Mencoba tak memperdulikan semuanya namun ternyata hatinya tak tahan.
"Tapi kenapa Bel?" Tanya Alvin tak sabaran, ada rasa tak tega melihat adiknya menangis. Apakah ia terlalu menuntut jawaban? Tapi apa salahnya. Itu tanda perhatiannya kepada sang adik. Tapi kenapa harus begini, sekarang Alvin merasa menjadi orang yang serba salah saat ini.
"Maaf kak, aku nggak bisa." Bella beranjak, menghampiri Neneknya, menangis di atas badan Neneknya yang sudah tak berdaya. Setelah mendengar penjelasan dokter tadi saat ia baru saja datang. Bella merasa menjadi cucu yang gagal menjaga Neneknya, Bella sangat merasa bersalah. Kenapa neneknya harus seperti ini?
"Bangun Nek! Please... Hiks te-temenin Be-hiks lla Nek Hiks.." menangis dan terus menangis. Tangisan luka yang mengundang rasa penasaran Alvin. Pasti ada yang salah dengan adiknya. Apa dia harus menjadi detektif terlebih dahulu agar bisa mengetahui seluruh masalah Bella? Seluruh arti dari tangisan penuh luka Bella. Ada apa dengan Ayah dari Bella, mengapa lelaki itu tak perduli, apa sebabnya?
Tak hanya Alvin yang merasa terpukul dan penasaran melainkan dua orang yang sedari tadi di ambang pintu. Dua orang itu mendengar segala percakapan Bella dan Alvin. Dua orang itu kini sedang menahan amarah, kecewa, dan sedih secara bersamaan. Mengapa hidup malaikat kecilnya sangat rumit. Mengapa tidak dirinya saja, mengapa harus malaikat kecilnya.
'Gue harus cari tau' batin Alvin. Ia beranjak dari duduknya dan seketika mematung tak berdaya melihat Kiran dan juga Vero yang ada di depannya.
"Mam-ma sama Papa d-disini? Se-sejak kapan?" Sial! mulutnya saja sudah sulit berucap, mengapa saat keadaan begini, ada saja anggota tubuhnya yang kaku. Mulut keterlaluan! Makinya.
"Ikut Mama." Kiran berlalu diikuti anak sulung dan suaminya di belakang. Kakinya melangkah menuju cafetaria rumah sakit.
"Duduk Kak." Titah Kiran pada putra sulungnya setelah sampai di salah satu bangku cafetaria. Alvin langsung mendudukkan bokongnya. Perasaannya jadi campur aduk, ia takut Mamanya berasumsi jika Bella menangis karenanya.
"Kenapa Mah." Tanya Alvin hati-hati. Ia takut jika mamanya marah.
"Mama denger dan liat semuanya." Balas Kiran sambil menatap Vero yang sedari tadi hanya diam. Bukannya tidak perduli atau apapun, tapi ia mencoba memberikan waktu untuk istri dan putranya.
"Gak papa." Ujar Vero meyakinkan istrinya supanya bercerita. Mungkin inilah awal yang sebenarnya. Inilah saatnya Kiran membuka siapa jati dirinya, jati diri anak-anaknya. Inilah saatnya ia membuka luka lama, inilah saatnya dia harus mempunyai tingkat sabar yang tinggi.
"Jadi Bella itu..."
***
"Gara-gara lo Can." Alvin mengomeli Candra yang dengan lancangnya menarik lengannya ke taman rumah sakit. Masih mending kalau ada kepentingan. Lah ini, ia malah dititah lelaki kecil itu untuk menemani makan es krim.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gadis Suruhan (END)
Fiksi RemajaWARNING⚠️⚠️ •DILARANG KERAS PLAGIAT! •CERITA INI HANYA ADA SATU YAITU PUNYA SAYA. JIKA TIDAK PERCAYA, KALIAN BISA CARI JUDUL BAHKAN TAGS DARI CERITA SAYA. •KALAU ADA CERITA YANG PERSIS SEPERTI PUNYA SAYA, SILAHKAN DM SAYA. •Revisi bertahap *** Tak k...
