BAB 19

13 8 10
                                        

Day 4 - Part 1

Hari masih gelap, tetapi aku sudah rapi mengenakan seragam sekolah. Seperti biasa, duduk di taman asrama sambil menatap langit. Aku memangku kotak bekal yang isinya sama seperti kemarin, dua sandwich yang aku minta secara khusus di kantin asrama. Aku berniat untuk tidak ikut sarapan di asrama. Aku butuh waktu luang untuk memikirkan apa yang baru terjadi kemarin. Terutama tentang Kak Valerie, dan maksud ia membawa peluru sungguhan.

Aku mengambil satu sandwich dari kotak bekal dan menggigitnya. Kenapa Kak Valerie ingin melukaiku? Apa salahku? Aku bahkan baru mengenal Kak Valerie saat ia bertengkar dengan Feby. Dan hari ini aku harus menjalankan misi mendamaikan Kak Valerie dengan Feby. Mau tidak mau, aku harus menyampingkan masalahku dengan Kak Valerie yang terjadi secara tidak langsung. Aku sama sekali tidak ingin membuat masalah dengan siapa pun. Tetapi kenapa justru masalah yang mendatangiku?

"Hei, Lin!" sapa Feby.

"Hei, tumben kamu udah bangun jam segini."

"Enak aja, aku emang biasanya bangun jam segini, tahu!"

"Kamu tidak ke kantin?

"Kamu sendiri?"

Aku mengangkat kotak bekalku. "Aku sarapan ini, di sini."

Feby mengangguk paham. "Nanti. Kalau jam segini, makanannya belum siap. Paling sepuluh menit lagi."

"Oke."

"Lin, soal Kak Valerie dan...."

"Aku tahu. Terima kasih ya, kamu sudah mau membantuku."

"Tetapi, maaf aku tidak bisa mengungkap aksi Kak Valerie, kalau aku melakukan itu, timku bisa kena masalah. Aku tahu apa yang Kak Valerie lakukan sangat berbahaya, tetapi... aku harap kamu paham."

"Iya, tidak masalah. Kita juga belum tahu, kan, alasan pasti Kak Valerie melakukan itu."

"Yang pasti dia berniat buruk padamu, Lin."

"Belum tentu. Terkadang, ada banyak hal yang tidak bisa kita pahami dalam sekejap."

"Kondisi Zafar bagaimana? Dia baik-baik saja, kan?"

"Iya, dia aman kok. Eh, aku penasaran, kapan kalian membahas rencana penyelematanku di babak dua?"

"Saat Zafar izin ke toilet. Ingat, kan? Nah, saat itu aku sedang tidak bersama Kak Daran dan Kak Valerie, terus dia menarik paksa aku untuk mengikutinya. Awalnya aku tidak percaya dengan perkataan Zafar, ya, walaupun aku tahu Kak Valerie menyebalkan, tetapi aku tidak yakin dia bisa senekat itu. Ya karena ini menyangkut keselamatan sahabat aku, apalagi Zafar berani mengambil rencana yang merugikan timnya, maka mau tidak mau aku harus percaya dan mengikuti rencananya."

Aku tersenyum terharu. "Terima kasih banyak, Feb. Kamu memang sahabat terbaik aku."

"Tidak usah dibesar-besarkan, kalau aku ada di posisi kamu pun, pasti kamu akan melakukan hal yang sama, kan? Jadi ini wajar untukku."

"Kamu yakin sekali dengan itu," kataku bercanda.

Feby menatapku sebal. "Aku tahu kamu bercanda, dan aku sedang tidak ingin menanggapinya."

"Kamu ada masalah lain? Cerita saja, aku siap mendengarkan."

"Masih tentang Kak Valerie."

Aku teringat sesuatu. "Hari ini kalian akan berdamai."

"Aku tidak yakin. Masalahku dengannya semakin membesar."

"Kenapa memangnya?"

"Entahlah, dia terlihat semakin tidak suka denganku. Padahal, aku berkontribusi banyak atas kemenangan kemarin. Kak Daran mengapresiasi itu, tetapi tidak dengan Kak Valerie. Sepertinya dia tahu, aku mengetahui rencananya dan, ya, aku berhasil menggagalkan itu."

Enigma TersembunyiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang