Day 12 | Part 4
Karena kejadian tadi, aku dan Radit sepakat untuk bermain dengan Hici terlebih dahulu selama lima menit ke depan. Berusaha membuat Hici terbiasa dengan keberadaanku.
"Sebenarnya tadi Hici sudah aku beri makan, tetapi sepertinya tidak masalah kalau dia makan lagi sekarang."
"Memang biasanya masalah?" tanyaku yang sedang memberi makan Hici.
"Kuda di sini memiliki jam makannya masing-masing di bawah tanggung jawab dokter hewan yang berpengalaman. Itu dilakukan supaya kuda di sini sehat dan terjamin."
Aku mengangguk. "Di sini, kamu bertugas menangani berapa kuda? Atau hanya Hici saja?"
"Tiga kuda dengan jenis yang sama."
"Oh, begitu. Apakah dulu Hici adalah kuda liar? Maksudku, sulit atau tidak membuat Hici menjadi jinak?"
"Sebenarnya, aku orang baru di sini. Tiga kuda yang menjadi tanggung jawabku sudah pernah diurus oleh orang lain. Jadi, aku hanya tinggal melanjutkan."
"Kamu termasuk yang cepat akrab dengan Hici, atau tidak?"
"Termasuk cepat, mungkin alasan utamanya karena aku sudah terbiasa dengan kuda."
"Kamu memelihara kuda?"
"Tidak, aku hanya sering membantu pamanku yang tergila-gila dengan kuda."
Aku mengangguk paham. "Mengurus kuda itu, susah ya?"
"Gampang kalau terbiasa."
"Iya juga, sih."
"Sudah, mari kita lanjut berlatih. Usahakan untuk tidak terlalu tegang atau panik seperti tadi."
"Siap!"
Aku menaiki kuda dengan tenang, melakukan segala instruksi yang dikatakan Radit sebelumnya. Dan berakhir lancar tanpa hambatan.
Aku melirik Radit yang terlihat puas. "Bagus! Sekarang turun, perlahan namun pasti."
Aku menurut, berpegangan dengan pelana dan turun dengan sangat pelan. Lagi-lagi berjalan mulus. Akhirnya aku berhasil mempraktekan hal pertama yang harus Radit ajarkan dengan baik di percobaan kedua.
"Nice! Sekarang cara menunggangi kuda. Seperti yang kita lihat, teman-temanmu sudah mulai melakukan itu. Bahkan, Aldric terlihat lihai dalam melakukannya," kata Radit sambil memandang Aldric.
Aku ikut melempar pandangan ke arah Aldric dan tersenyum seketika—ikut senang dengan pencapaiannya.
"Kalau dilihat dari gesturnya menunggangi kuda, sepertinya ia sudah terbiasa dengan hal ini. Zafar juga, tetapi kalau mereka berdua dibandingkan, Aldric memiliki nilai plus."
"Apa nilai plus yang dimiliki Aldric?"
"Dia sudah tidak kaku dan lincah. Sedangkan Zafar, walau lancar dalam menunggangi kuda, masih terlihat gestur kekhawatiran yang entah karena apa. Mungkin karena dia belum terlalu terbiasa dengan kuda."
Aku mengangguk. Sepertinya Radit ialah pengamat yang handal. Karena segala yang ia katakan tentang Aldric dan Zafar dapat diterima dengan nalarku yang awam tentang hal ini.
"Baik, kita mulai ya. Kamu perhatikan ini dengan seksama."
Radit mulai menaiki Hici. Ketika sudah duduk nyaman, ia menggenggam tali kekang dengan kedua tangannya.
"Cara memegang tali kekang ini adalah dengan meletakkan ibu jari di bawah tali dan empat jari menggenggam di atas tali," jelas Radit.
Aku mengangguk paham.
KAMU SEDANG MEMBACA
Enigma Tersembunyi
Novela JuvenilSejak keikutsertaan Ralin dalam pertandingan HC Looking for Talents yang terkenal dan berlokasi di sekolahnya, ia menjadi terjebak dalam sebuah Kelompok Pejuang Keadilan yang disingkat KPK. KPK memiliki tujuan untuk mengungkap enigma yang telah dima...
