Day 13 | Part 3
Kini, di dalam kamar aku dan Feby tengah sibuk memasukkan beberapa baju yang sempat kami keluarkan ke dalam koper. Bersiap untuk terbang ke Negara Italia nanti malam.
Aku tidak tahu bagaimana cara mendeskripsikan perasaanku saat ini. Aku takut, tapi aku juga tidak ingin rasa takut menguasai diriku dengan sempurna. Aku senang, tapi rasa takut dalam diriku terlalu mendominasi hingga hampir melenyapkan rasa senangku.
"Lin, apakah ponselmu sudah berfungsi?"
"Lima menit yang lalu sih, belum bisa."
Feby menghela napas dengan berat. "Apakah rencana kita akan berhasil?"
Aku menatap Feby, mencoba memahami rasa khawatir dalam dirinya. "Semoga."
"Bagaimana jika gagal?"
"Setidaknya kita sudah berusaha melawan."
Ini semua bermula ketika tadi pagi, pada saat Pak Jack mengendarai mobil menuju tempat asing yang semakin memperjelas ketakutan dalam diriku.
"Pak, ini kita mau ke mana, ya?" tanya Kak Erik.
Pak Jack hanya diam, fokus menyetir mobil. Dari kaca spion depan, aku dapat melihat tatapan tenang namun terasa mematikan dari mata Pak Jack.
"Pak, ini bukan jalan menuju tempat latihan. Pak Jack mau membawa kita ke mana?" Aku memutuskan untuk membuka suara, ikut bertanya.
"Nanti juga kalian akan tahu. Intinya diam saja dan jangan banyak bertanya," Pak Jack menjawab sekenanya.
Tiba-tiba saja Pak Jack menambah kecepatan laju mobil ini entah karena apa.
"Pak tolong pak, kami di sini jauh dari keluarga. Jangan lukai kami!" pinta Nala to the point.
Aku menangkap senyum kecil tercetak jelas di bibir Pak Jack dari kaca spion. "Tidak ada yang ingin melukai kalian. Jangan berpikir yang aneh-aneh."
"Kami tidak akan berpikir aneh kalau Pak Jack tidak lebih dulu bertindak aneh," timpal Kak Daran.
Pak Jack hanya menggeleng kepala heran. Aku memerhatikan ekspresi teman-temanku yang berada di dalam mobil. Hanya Zafar dan Aldric yang terlihat lebih tenang dari yang lainnya. Maksudku, sekilas mereka memang terlihat panik, tapi setelah diperhatikan lebih detail, aku dapat memastikan kalau itu hanyalah topeng. Tapi, kenapa?
Mobil yang dikendarai Pak Jack memasuki perumahan yang terlihat sepi. Beberapa menit kemudian, Pak Jack menghentikan mobil tepat di depan sebuah rumah bercat biru dengan pagar berwarna hitam metalik.
"Kita sudah sampai."
"Ini di mana?"
"Kenapa Pak Jack membawa kami ke sini?"
"Ada sesuatu yang perlu kami semua bahas di dalam," suara itu bukan berasal dari Pak Jack. Tetapi, dari Zafar. Membuat kami semua mengalihkan pandangan kepadanya. Dan dalam sekejap, Zafar sudah menjadi pusat perhatian.
"Kalau kalian tidak bisa percaya dengan Pak Jack, maka percaya saja dengan aku."
"Kamu bukan Tuhan, Zafar!" sahut Frey.
"Aku tahu, tetapi dalam kondisi saat ini, please, just trust me!" Setelah mengatakan itu, Zafar bergerak turun lebih dulu. Disusul Pak Jack di depan.
Kami berdelapan saling tatap.
"Kalian percaya?" ujar Kak Daran.
"Tidak ada pilihan lain. Satu-satunya cara untuk tahu maksud Zafar adalah dengan turun dari mobil," ujar Aldric setelah sekian lama terdiam, lalu bergerak turun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Enigma Tersembunyi
Teen FictionSejak keikutsertaan Ralin dalam pertandingan HC Looking for Talents yang terkenal dan berlokasi di sekolahnya, ia menjadi terjebak dalam sebuah Kelompok Pejuang Keadilan yang disingkat KPK. KPK memiliki tujuan untuk mengungkap enigma yang telah dima...
