duapuluhempat

1K 39 0
                                        

"Aldi mana?"tanya Chiko saat perlombaan telah selesai.

"Gatau juga tadi Acha telpon ga terhubung" Acha mengendikkan bahunya. Mereka tengah berada di taman dekat tempat perlombaan, hanya sekedar untuk jalan jalan

Hanya ada Acha, Chiko, Sinta dan Jordan yang tengah duduk di tempat Abang Abang gerobak yang berjualan

"Aldi lomba"ujar Jordan santai. Alis Chiko menyatu

"Lomba? Lomba apa?" heran Chiko

"Taekwondo" jawab Jordan

"Terus kalian ayah sama mama di sini ngapain?! Kenapa salah satu dari kalian ga ada yang dampingin Aldi lomba ?!" Chiko menggenggam erat tangannya

Urat di lehernya tercetak jelas. Tak habis pikir dengan ayahnya ini

"Mama tadi mau dampingi Aldi, tapi masa ayah kesini sendiri kan" ujar Sinta mencoba menetralkan emosi Chiko

"Ga habis pikir" Chiko pergi dengan dada bergemuruh hebat.

2 Minggu sudah perang dingin antara Chiko dan Aldi terjadi, usaha Chiko meruntuhkan dinding pemisah itu sia sia hanya karena sikap kekanak Kanakan Jordan. Andai pria paruh baya itu bukan ayahnya, mungkin saat ini Chiko akan menghabisi wajah santai seolah tak berdosanya itu

Acha terdiam. Gadis itu pamit undur diri untuk mengejar Chiko yang telah meninggalkan mereka 

*

Chiko bersender pada kepala kasur. Acha merebahkan kepalanya pada paha Chiko

"Acha heran deh" saut Acha tiba tiba

"Hm?" Chiko mengangkat satu alisnya, tak mengerti atas ucapan Acha

"Chiko udah di kasi perusahaan yang jelas ada nih ya. Tapi Chiko malah mau jadi arsitek. Kan ga masuk akal" ujar Acha memainkan kukunya

"Ga gitu"bantah Chiko

"Terus?" Acha mengangkan kedua alisnya

Chiko terdiam. Acha juga terdiam, sepertinya Chiko tak ingin membahas masalah ini. Oke Acha tak akan memaksa. Acha menurunkan kepalanya dari paha Chiko, memeluk boneka beruang besar berwarna biru yang pernah di belikan Chiko. Menenggelamkan kepalanya pada badan besar boneka itu

Dadanya sesak, rasanya ia ingin menangis, ntah mengapa. Pertengkaran antara Chiko dan Jordan membuat pikirannya terganggu

"Cha" Acha semakin menenggelamkan kepalanya. Suara serak Chiko membuat air matanya menetes

Chiko mengelus rambut acha namun di tepis oleh pemiliknya

"Lo ga tau rasanya ada di posisi gue Cha" lirih Chiko

Acha bangkit dari tidurnya mendudukkan dirinya

"Chiko, gimana Acha mau tau dan memahami Chiko kalau Chiko ga ngasih tau Acha kan?. It's okeii kalau Chiko gamau cerita sekarang, bahkan nanti seterusnya kalau Chiko tetap ga mau cerita it's okeii. Cuma, yang perlu Chiko tau adalah, Chiko gapernah sendiri. Acha. Ada Acha" air mata Acha semakin deras. Gadis itu mencoba memberi ketenangan untuk Chiko

Chiko meraih tangan Acha, mata gadis itu memerah. Isakannya tak dapat di tahan. Sesak rasanya memikirkan Chiko yang memendam semuanya sendiri. Chiko memeluk Acha. Acha terdiam, namun isakannya tak dapat di hentikan

"Gue ingin. Gue mau. Gue bisa aja nerusin perusahaan dan ngikutin perintah papa. Tapi Lo tau kan keinginan Aldi?" Chiko semakin erat memeluk Acha. Perasaan yang di pendam dari dulu akhirnya ia keluarkan pada Acha

" Gue sebagai abang, gue sebagai saudara Aldi satu satunya, merasa gue harus ngalah untuk urusan ini. Lo tau sendiri kan sikap ayah ke Aldi gimana? dan lo tau sendiri ambisinya Aldi kaya apa" Nafas Chiko semakin berat, perasaannya mulai lega

"Ayah dari dulu gitu. Gue gatau masalah ayah sama Aldi apa, yang jelas gue gak pengen Aldi ngerasa dia di buang. Gue ngeliat Aldi merasa dia gak disayang aja rasanya gue pengenn banget bilang ke dunia kalo dia itu pantes disayang Cha"

"Kali ini aja gue pengenn banget bahagiain Aldi. Tapi Lo tau sendiri kan. Gara gara ayah. Gara gara ayah sekarang Aldi benci gue " Chiko mengepalkan tangannya menyalurkan kebencian

"Gue sayang ayah Cha, banget malah. Anak mana sih yang ga sayang sama super Hero di hidupnya?. Tapi sikap ayah yang kayak gini buat gue  ga nyaman" Chiko mengatakan semua beban hatinya

Plong sudah isi kepala yang terdapat benang kusut sebelumnya. Tak ada beban yang terhimpit sedikit pun. Setidaknya untuk saat ini. Acha membalas memeluk Chiko dengan erat. Pilihan yang berat berada di pundak lelaki ini

Chiko merasa kehangatan datang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia memeluk Acha lebih erat. Gadis dalam pelukannya ini tak akan ia biarkan pergi. Tak akan

"Udah. Tidur lagi sini"

*

"Chikooo" Acha mencoba mencari Chiko

Ia membuka ponselnya lalu melakukan panggilan

"Ko ga di angkat sih" ia kembali mencoba menghubungi Chiko. Ia yakin Chiko sedang tidak baik baik saja

"Hm?" Panggilan ke 3 menghasilkan sautan dari seberang

"Dimana? Acha panik tau. Acha malah di tinggal. Ga mikir apa nanti Acha pulangnya gimana? Masa jalan kaki? Emang Chiko tega?!" Acha mencoba memancing Chiko agar mengatakan posisinya

"Ck. Di belakang gedung" Chiko berdecak sebal

"Yaudah jangan kemana mana, awas aja Chiko ngilang ngilang lagi. Acha gamau ya maen sama Chiko" ancam Acha

Panggilan berakhir. Acha berlari khawatir hal buruk terjadi. Di belakang gedung perlombaan ada sebuah hamparan rumput meskipun tak luas. Acha mengedarkan pandangannya. Mencari keberadaan Chiko. Ia melihat lelaki itu tengah terduduk di bawah salah satu pohon yang ada di sana. Acha shok saat melihat kepalan tangan Chiko yang berlumur darah. Matanya melotot kaget

"Chiko ini kenapa coba" Acha mengobrak abrik slim bag putihnya mengambil tisu di dalam tas

"Ga kenapa kenapa" ujar Chiko santai

"Chiko?!. Ini itu ih apa si ini kok luka luka gini" Acha membersihkan darah yang terdapat di kepalan tangan Chiko dengan di tekan tekan

"Sakit Chaa. Pelan pelan" ringis Chiko

"Ih. Bodoh banget ih. Kenapa ini?!" Acha menekan dengan kuat

"Aw aw. Dibilang ga kenapa kenapa. Sakit dodol. Pelan pelan" ujar Chiko

"Lagian ngapain coba ko bisa gini. Bilang ga bilang ga?" Tuntut Acha

"jatoh tadi"

Acha menabok Chiko. Chiko hanya tertawa merasakan tabokan Acha yang tak ada apa apanya itu

"Yang bener. Mana ada jatoh di sininya doang " Acha memelototkan matanya

"ada ini"balas Chiko tak  mau kalah

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Heyyo
Thanks for reading
Don't forget voment
Buk. Tolong bintangnya di pencet ya:')

Just BestfriendCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang