tigapuluhdelapan

1.6K 55 0
                                        

Saat ia berjalan menuju kelas. Acha kembali melewati ruang yang tadi ia tinggalkan. Gadis itu mengambil nafas dalam, menghembuskan dengan kasar

Gadis itu perlahan mengetuk pintu. Setelah mendengar sebuah suara menginterupsi, Acha membuka pintu dan melangkahkan kakinya untuk memasuki ruangan yang baru saja ia tinggalkan 40 menit yang lalu

"Berubah pikiran?" Ujar pak Reza dengan nada datar. Untung guru. Batin Acha berteriak. Selain Chiko, pak Reza menjadi nama kedua dalam list orang yang ingin Acha cakar wajahnya

"Hm. Kapan?" Tanya Acha

"10 hari lagi. Lombanya di Inggris, kamu disana sekitar 1 sampe 2 mingguan lah. Sekalian belajar di High School yang ada di sana. Pak Dev sudah merencanakan sekalian mumpung ada lomba beliau menitipkan anak didiknya di sana"

Sekolah SMA nya ini sekolah swasta elit yang banyak menyasar lomba lomba di luar negeri. Acha hanya mengangguk menjawab. Tak ingin basa basi untuk saat ini. Mengapa bisa gadis berprestasi seperti Acha ada di IPA 2? Bukan di IPA 1?

Ya. Acha hanya tak ingin dirinya terlihat menonjol. Ia sengaja mengepaskan nilainya agar tak terlalu tinggi. Ia malas bersaing. Dan hal itu di dukung oleh asumsi Elang dan Meta bahwa nilai bukan segalanya. Hal itu semakin membuat Acha tak ingin menjadi unggul di antara yang lain. Namun, keadaan yang lagi lagi memaksa bahwa ia harus bertanding

"Kesannya mendadak sih di kasi tau pas h -7 lomba. Ya karena pak Dev juga ngasi tau lomba dan berkas tentang kamu mendadak. Gunakan waktu berlatih sebaik baiknya"

"Iya. Sudah?" Tanya Acha. Jujur Acha sangat malas berurusan seperti ini

"Sudah hanya itu. Jangan lupa setiap pulang sekolah ada pembinaan buat lombanya" ujar pak Reza mengingatkan

"Jangan pulang dulu. Mungkin yang diikutkan hanya 3 orang saja. Lomba debat kali ini individu bukan kelompok"

"Acha minta ke bapak buat jangan kasi tau ke siapa siapa kalo Acha lomba" ujar Acha menuntut persyaratan

"Iya"

Acha mengangguk. Gadis itu pamit berlalu dari hadapan guru dengan wajah datar. Acha melewati koridor yang telah sepi karena jam KBM dimulai. Di dalam kelas XI IPA 1 lagi lagi Chiko menatap Acha dengan tatapan penuh tanya. Acha berlalu begitu saja yang menyebabkan Chiko semakin bertanya tanya

Acha mengetuk pintu kelasnya membuat guru yang menerangkan di depan menghentikan kegiatannya

"Masuk. Dari mana?" Tanya Bu Risa selaku guru kimia yang mengajar di kelasnya

" Di panggil pak Reza" Bu Risa hanya mengangguk dan memperbolehkan Acha menduduki bangkunya

Rena mengangkat alis satu dengan tatapan heran yang ia lemparkan

"Emang ada apaan?" Tanya Rena setengah berbisik pada Acha

"Gaada apa apa kok" ujar Acha. Rena yang paham bahwa Acha tak ingin membahas ini pun hanya mengangguk maklum

"Aldo dari tadi nyariin Lo" ujar Rena memberi tau

"Kenapa katanya?" Tanya Acha

"Dia nanya kok lo ga ngechat atau nelpon dia" Acha menunjukkan ponselnya yang mati

Rena mengangguk paham. Tak ingin terlalu ikut campur atas masalah Acha dengan Chiko. Rena bukan hanya sehari dua hari ia kenal dengan Acha. 1 tahun setengah bukan waktu yang singkat. Ia paham satu satu tabitat Acha bagaimana. Jika hal seperti ini. Mungkin Acha tengah marah terhadap Chiko

Jika dulu Rena tak setuju saat Acha marahan kepada Chiko. Namun kali ini Rena malah mendukung aksi Acha. Sekali kali Aldo ngerasain dijauhin Acha. Padahal dianya yg tanpa sadar ngejauhin Acha. Batin Rena

Just BestfriendCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang