"Assalammualaikum Bunda." ucap Kak Dinda yang tiba-tiba sudah ada di depan rumah Resya.
"Wa'alaikumussalam." Bunda Raisya langsung menghampiri pintu untuk membukanya. Saat pintu di buka, terlihat Kak Dinda sedang sulit membawa sebuah kardus yang cukup besar.
"Ya Allah Dinda, ini abis dari mana? Masuk dulu sini biar Bunda bantu." Bunda Raisya memberikan tawaran
"Gak usah Bun, biar Dinda aja." Bunda Raisya mempersilahkan Kak Dinda untuk masuk ke dalam rumah. Kak Dinda meletakkan kardus tadi di bawah lantai dekat dengan sofa ruang tamu. Kak Dinda duduk di sebelahnya dan mulai membuka kardus tadi.
"Emang ini dari siap-" belum sempat Bunda Raisya menyelesaikan pertanyaannya, Resya sudah lebih dahulu menyerobotnya.
"Lho Kak Dinda, itu apa tuh?" tanya Resya yang sedang menuruni anak tangga satu-persatu.
"Ini tuh kiriman dari Abang Kamu Sya," jawab Kak Dinda yang masih fokus membuka solasi kardus dengan cutter.
"Dari Bang Rayen? Serius? Kok orangnya gak pulang aja sih," balas Resya yang sangat berharap jika Abangnya akan pulang dalam waktu yang cepat.
"Mana bisa sayang, baru juga beberapa bulan, masa mau pulang aja, ada-ada aja kamu." Bunda Raisya membalas perkataan Resya tadi.
"Kok gak bilang sama Bunda ya Din? Malah bilang sama kamu?" tanya Bunda Raisya yang tertuju pada Kak Dinda."Oh iya, kata Rayen surprise gitu Bun, biar Dinda yang ambil hehe, lupa ngomong Dinda," jawab Dinda diselingi senyum yang lebar.
"Emang Kak Dinda lagi libur kuliah kah? sampe bisa dateng jam segini." Resya menjatuhkan tubuhnya dan duduk di sebelah Kak Dinda, memperhatikan ada apa dibalik kardus tersebut.
"Enggak Sya, aku ada kelas nanti siang, makanya dateng nya lebih awal," jawab Kak Dinda.
"Nah ini pertama buat Bunda." Kak Dinda menyodorkan kotak berwarna putih ke Bunda Raisya."Tebak Bun isinya apa?" canda Resya.
"Apa ya? Gak tau deh Bunda nanti Bunda buka," jawab Bunda Raisya pasrah, sedangkan Resya dan Kak Dinda hanya cekikikan.
"Untuk adik Abang tercinta, Resya Calista, nib Sya buat kamu, dari Abang tercinta," ejek Kak Dinda karena nama yang ada di kotak terkesan lebay.
"Tercinta dari mananya," bantahnya dengan pelan.
"Katanya buat kamu spesial, kamu gak mau langsung buka?"
"Masa sih Kak? Nanti deh aku bukanya,"
"Di dalem kardus ini tinggal punya papah, sama beberapa pajangan yang di kasih sama Rayen aja si Bun, mau disimpen dimana dulu Bun ini semuanya?" tanya Kak Dinda yang siap mengangkat kardus yang ada di depannya.
"Di simpen di pojok deket tangga aja Din, nanti biar Bunda rapihin," jawab Bunda Raisya.
"Sya? Mau ikut aku gak, jalan aja sih makan sama kita mampir beli es krim?" tawar Kak Dinda yang sepertinya ingin menghabiskan waktu senggangnya.
"Boleh Kak, aku ambil cardingan dulu sama tas ya." Resya dengan antusias berlari ke kamarnya yang berada di lantai atas.
"Bunda ikut aja yuk, kan Ayah lagi gak di rumah." Kak Dinda berusaha merayu Bunda agar tidak suntuk di rumah.
"Gak deh, kalian aja, Bunda mau masak aja, takut Ayah pulang nanti gak ada Bunda," tolak Bunda Raisya dengan selembut mungkin.
:')
Matahari sudah tenggelam dengan sempurna, adzan Isya sudah di kumandangkan, jam menunjukkan pukul 19.30, Resya juga sudah melaksanakan sholat Isya tadi. Ia memilih untuk duduk di kasur kesayangan miliknya, lalu termenung, bahkan ia tidak tahu ia sedang merenungkan apa. Dering ponsel miliknya berhasil membuat lamunannya buyar. Mau tau ini hari apa? Ini hari sabtu tepatnya sudah seminggu sejak kejadian Resya dan Reyon saat berbincang di sebuah danau dekat taman. Setelah kejadian itu Resya dengan semaksimal mungkin berusaha untuk menghibur Reyon, meskipun kadanh caranya aneh.

KAMU SEDANG MEMBACA
Forever With You
Teen FictionBagi Resya Calista, perempuan yang selalu mementingkan segala sesuatu hal yang menyangkut persahabatannya dengan Hasna meyakinkan bahwa cinta itu rumit dan menyakitkan, lalu berujung pada kesedihan. Resya hanya berharap hidupnya tidak sulit seperti...