Malapetaka.

2.4K 252 17
                                        

Lupakan lah dendam dalam dirimu. Karena, sungguh itu hanya merugikan mu.
Dendam hanya membuatmu hanyut dalam rasa benci dan amarah .
Yang pada akhirnya hanya membuat hidup hampa dan gelisah.

***

Berberapa tahun kemudian semenjak kembalinya Alea, Rassya setiap hari banyak melamun dan tidak fokus, dia takut akan terjadi hal-hal buruk yang terulang lagi pada istrinya, sudah cukup dirinya hampir mati rasa dan terpuruk waktu itu ketika Aqeela di nyatakan meninggal dan pada akhirnya dirinya masih bisa tersenyum sampai sekarang karena Allah berbaik hati padanya untuk tetap bisa bersama dengan Aqeela, rasanya hampa dan sakit fikirannya kacau dirinya tidak ingin keluarganya juga mendapatkan imbas dari perbuatan Alea .

"Argh... "

Aqeela melihat Rassya sedang frustasi di balkon rumah, dirinya menyambar suaminya untuk mencoba menenangkannya.

"Kamu kenapa ?" Ucap Aqeela pada Rassya.

"Emh...enggak aku nggak papa kok sayang, yaudah ayo masuk dingin di sini " Ucap Rassya mengalihkan pembicaraan.

"Jangan ngalihin pembicaraan deh Sya, aku tau kamu lagi banyak masalah " Ucap Aqeela lalu melangkah mendekat ke arah Rassya yang terhentikan langkahnya.

"Ada masalah apa cerita sama aku, aku istri mu kamu harus terbuka sama aku Sya, sipa tau aku bisa bantu kamu ngadepin masalah kamu itu" Ucap Aqeela pada Rassya, lalu Rassya menoleh ke arah Aqeela.

"Sebenernya aku bingung mau cerita gimana Qeel, aku bingung mau njelasin ke kamu" Ucap Rassya pada Aqeela.

"Jadi ......." Rassya menceritakan kejadian di kantor tadi kepada Aqeela dari awal Rassya masuk kantor hingga berujung topik Alea yang ternyata sudah bebas dan juga adalah sebagai sekertarisnya.

"Jadi gitu, ya menurut aku kita memang harus hati-hati sama Alea , apalagi kata kamu dia mengubah identitasnya, kenapa gitu ya Sya banyak banget masalah di dalam rumah tangga kita yang umurnya masih di umur jagung ini hem..." Ucap Aqeela terlihat pasrah .

Rassya tersenyum seketika dirinya tidak mau terlihat murung di depan Aqeela karena dirinya sadar bahwa kalau dirinya murung maka Aqeela akan ikut murung "Hem..." . Rassya duduk di samping Aqeela lalu menatap lurus ke depan.

"Allah mungkin sedang menguji rumah tangga kita Qeel, karena Allah yakin kita mampu melewatinya," Ucap Rassya pada Aqeela, lalu Rassya menatap Aqeela "Allah menguji kita karena memang hijrah itu banyak Qeel ujiannya, kita harus terus bersabar, kamu masih inget kan Ceramah ustadz beberapa hari lalu pas kita ke penganian " Ucap Rassya lalu Aqeela pun mengangguk.

"Allah, tidak akan menguji hambanya di luar kemampuan hambanya kan ?" Ucap Aqeela pada Rassya.

"Iya, makanya itu kita harus bersabar, mungkin dengan semua masalah dan unian ini Allah ingin mengangkat derajat kita " Ucap Rassya pada Aqeela.

"Iya juga ya Sya, Astagfirullah maaf kan hamba Ya Allah, karena terlalu banyak mengeluh padahal hamba tau engkau sedang mengangkat derajat kami lewat ujian yang engkau berikan" Ucap Aqeela sambil menatap langit yang penuh dengan bintang-bintang bertaburan dan bulan yang bersinar indah dengan air mata meluruh membasahi pipinya.

"Masuk yuk, ntar kamu masuk angin, dingin di sini " Ucap Rassya lalu Aqeela mengangguk dan di gandeng oleh Rassya menuju apartemennya.

"Tuarrrr"

Suara hantaman batu dari jendela apartemen yang mengenai kaca kamar mereka.

"Astagfirullahalazim..!!!" Teriak Aqeela ketakutan sambil memeluk Rassya.

"Tenang sayang ada aku, kamu di sini biar aku cek dulu ya " Ucap Rassya, tapi Aqeela menggeleng tidak mau karena takut, dia lebih memilih di belakang Rassya.

"Yaudah, " Ucap Rassya mengelus pucak kepala Aqeela lalu berdiri dengan Aqeela di belakangnya.

"Siapa sih iseng banget" Ucap Rassya, tapi dirinya tidak menemukan sesiapa di bawah, tapi Rassya melihat ada sebuah batu dan boneka yang di tusuk dengan paku tepat di foto wajah Aqeela, Rassya menutup mulutnya lalu melempar boneka itu keluar "Sialan!!!, siapa yang berani ngelakuin ini semua!!, atau jangan jangan awas kamu Alea!!!" Ucap Rassya mengepal tangannya Aqeela pun makin ketakutan dan menangis tersedu-sedu saat membaca dan melihat boneka yang di lempar Rassya.

"Kamu tenang ya Sayang, nggak usah panik, kamu harus yakin kalau kita bakal baik baik aja okey " Ucap Rassya menghapus air mata Aqeela.

"Aku...hiks....aku....takut Sya..." Ucap Aqeela dengan isakan tangisnya.

"Kamu nggak usah takut sayang, besok aku bakal pecat Alea kamu tenang ya sayang " Ucap Rassya memeluk Aqeela dan mengelus punggung Aqeela.

Rasanya sakit hati Rassya melihat Aqeela menangis seperti ini, Rassya tidak siap jika harus kehilangan Aqeela untuk ke dua kalinya apalagi Alea juga mengancam keluarganya.

"Udah tidur di kamar kamu yang dulu aja yuk, nanti kamar ini biar petugas yg handel " Ucap Rassya dan di angguki oleh Aqeela.


Rassya menggandeng tangan Aqeela menuju kamar sebelah yang dulunya adalah kamar Aqeela.

"Udah kamu tidur sini," ucap Rassya menyuruh Aqeela tidur berbantal tangannya , Aqeela menggeleng.

"Kenapa?" ucap Rassya pada Aqeela.

"Nanti peredaran darah kamu nggak lancar dan akhirnya tangan kamu kesemutan kalo semaleman jadi bantal aku " Ucapan Aqeela yang di beri kekehan oleh Rassya "Hahaha...ya ampun sayang masih aja mikir gitu nggak lah nggak bakal" Ucap Rassya pada Aqeela.

"Pokoknya nggak mau, aku nggak mau kamu kecapekan gara-gara aku" Ucap Aqeela cemberut, Rassya menggeleng heran " Gini nih resiko kalo nikah sama mantan anak IPA , apalagi istri cantik ku ini dah jadi bidan hem..." Ucap Rassya heran karena Aqeela selalu mengatur segala nya dengan ilmu kedokteran nggak habis fikir Rassya.

"Gak papa udah lah, nurut aja ini suami lo yang minta" Ucap Rassya lalu Aqeela pun tidak ada alasan lagi untuk menolak kalau Rassya sudah bicara seperti itu.

"Hueh ...ngeselin iya deh iya " Ucap Aqeela lalu tidur berbantalkan lengan Rassya .

.

.

.

Bersambung.....

Hai....mimin udah kabulin permintaan kalian nih jangan lupa vote ( pencet bintang) dan jangan lupa share ke temen temen kalian ya jangan lupa follow akun WP mimin juga, makasih guys ......

Jodoh Pilihan Mama (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang