Untukmu Langitku

435 56 7
                                        

nangid bgt, part ini harusnya di up 7 mei kemarin... maaf semuaa

{~•~•~}

Hanya untukmu sora.’

•••

Sora tengah sibuk memindahkan baju milik jio yang baru saja ia setrika pagi tadi. Hari ini seperti biasanya sora sendirian. Hoseok pergi bekerja dan jio pergi kesekolah. Selesai memindahkan baju-baju milik jio sora beralih ke kotak berukuran cukup besar yang sengaja ia letakan dibawah kasur jio. Menarik kotak itu dan sedikit membersihkan tutupnya yang berdebu. Sudah hampir setahun sora tidak membuka kotak ini.

Menarik nafas lalu membuka kotak itu. Menampilkan beberapa tumpuk pakaian, celana, mainan, sepatu, kaus kaki dan foto milik jio beberapa tahun lalu. Sora mengambil satu foto dan bajunya. Mengangkat baju itu memperhatikkannya lekat-lekat. Tentu jio sudah tidak bisa memakai ini lagi sekarang, itu yang ada dipikiran sora.

Sora mengeluarkan beberapa barang lagi dan memperhatikkanya. Tidak lama karena sora sudah tidak tahan. Hampir saja menangis melihat semua ini. Terlalu banyak kenangan dan kejadian sebelum baju ini menempel di badan jio. Bahkan anak laki-lakinya ini akan menjadi abang enam bulan lagi. Akhirnya sora memilih untuk turun dan masuk kekamarnya untuk mandi. Sebentar lagi jio akan pulang dari sekolah.

“Bunda!” jio berlari menghampiri sora yang sudah berdiri di kursi dekat kelasnya. Sora bisa melihat jio memegang sebuah amplop ditangannya.

“Buat bunda.” jio menyodorkan amplop itu dan sora menerimananya, “Buka di mobil aja ya bun.” sora mengangguk, tersenyum lalu mencium kening jio dan berjalan sambil menggandeng tangan sang anak menuju mobil.

“Udah boleh bunda buka?” jio mengangguk antusias. Sora membuka amplop itu dengan perasaan bahagia. Membuka lipatan kertasnya dan air mata yang siap turun sudah menggenang dimatanya. Sora melirik jio yang sedang menatapnya sambil tersenyum. Mendekatkan kepalanya lalu memeluk jio erat, erat sekali, “Makasih gambarnya sayang.” hadiah dari jio. Gambaran sederhana tapi sora lemah dengan itu.

“Sama-sama bunda.” jio mencium pipi sora begitupun sebaliknya.

Malamnya…

Sora hanya berdua dengan jio di meja makan. Menyantap makan malam dengan nikmatnya, “Bunda… ayah mana?” tanya jio. Sora mendongak, “Sebentar lagi pulang sayang, tunggu aja ya sekarang abang makan dulu.” jawab sora yang sebenarnya juga heran suaminya belum pulang. Seharusnya hoseok sudah sampai rumah sejak 30 menit yang lalu.

Takberselang beberapa lama sora mendengar suara bel yang cukup brutal dari depan.

“Bunda kedepan dulu ya, abang jangan kemana-mana.” jio mengangguk lalu sora berjalan untuk membuka pintu.

Disana sora tidak mendapati siapa-siapa sampai ia melihat sebuah kotak kardus kecil berada dilantai terasnya. Sora melirik sekitar dan tidak ada orang sama sekali. Tapi sora mengambil kotak itu dan membawanya kedalam.

“Siapa bun?” tanya jio.
“Bunda ga tau, ga ada orangnya iseng mungkin.” jawab sora. Jio hanya mengangguk lalu melanjutkan sesi makannya. Tidak berniat untuk bertanya tentang kotak kardus yang sora bawa. Sora juga tidak berniat untuk membukannya, sekarang.

Malam semakin larut tapi hoseok belum juga pulang dari kantornya. Sora sudah mencoba menghubungi dan mengirimi pesan tapi tidak mendapat balasan. Sora memilih untuk tidak ambil pusing dan berfikir positif. Mungkin hoseok benar-benar sibuk dengan pekerjaannya.

“Abang mau tidur sama bunda?” tanya sora pada jio yang sedang menonton tv bersama dirinya.
“Ayah?” jio balik bertanya karena biasanya kalau ada sang ayah jio harus berebut tempat dengan sang ayah agar bisa memeluk bundanya.

YOUR MY HOPE [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang