Yogyakarta, Agustus 2016 ...
Arkan murung sepanjang minggu. Kerjanya guling-gulingan di kasur. Sampingannya menjadi teman bicara Eno—burung beo Pakde Wi. Hobi barunya sekarang bengong. Nafasnya terus mendesah-desah, Dewi curiga ia terserang asma. Langkahnya tak bertenaga dan bisa-bisanya ia bilang tak selera makan macam perawan yang sedang dipingit.
Melihat tabiatnya yang seperti itu, Dewi sempurna yakin bahwa sepupunya itu pasti belum balikan dengan Rani. Nampaknya anak itu dua-rius kali ini mengingat biasanya ia sudah balikan dalam kurun waktu tiga hari setelah genjatan senjata. Agaknya ancamannya tempo hari mempan juga.
"Kan, dari pada bengong, mending kamu kerjain skripsimu! Katanya mau cepat lulus kamu! Putus cinta jangan menyeh-menyeh!" hardik Dewi, ia sedang menapi beras untuk nasi uduk yang dijual Indah.
Arkan mendelik, "Heh, Dewo, kamu juga kalau habis putus pasti gini!"
"Kalau pertama kali aku wajar. Tapi ini kan keempat kali buat kamu! Nggak bosen apa?!"
Arkan tertunduk lesu, "Aku nunggu mood dulu, ini mood-nya masih mood patah hati."
Dewi misuh-misuh mendengar jawaban itu. Sebelum-sebelumnya saat putus Arkan tidak pernah segundah ini, mungkin karena tahu akhirnya mereka akan bersama lagi. Kadang ia kasihan melihat Arkan, tampangnya terlihat sebelas-duabelas dengan pantat dandang ibunya yang sudah berumur puluhan tahun, gelap. Mungkin karena kali ini ia sungguh-sungguh maka penampakan patah hatinya jadi mirip Bunga Bangkai layu. Sudah Bunga Bangkai, layu pula.
"Naik gunung, deh, yuk!" ajak Dewi akhirnya setelah berminggu-minggu suaranya serak karena terus menghardik Arkan.
Mumpung liburan semester genap dan sepupunya tidak pulang ke Bandung. Niat awal Arkan untuk mengerjakan skripsi selama liburan ini menyebabkan dirinya menunda pulang ke kampung halamannya itu. Tapi alih-alih menyusun tugas akhirnya, Arkan malah loyo karena cinta. Perkara ini jadi rumit karena mengusik target lulus 3,5 tahunnya.
"Siapa yang berangkat? MAPALA kampus kita nggak ngadain acara mendaki liburan ini," kata Arkan gontai.
"Gampang! Cari aja di Instagram, pasti banyak, tuh, open trip! Aku juga sekalian mau nyobain rasanya naik gunung!"
"Capek!"
"Ya tau! Mau nggak, nih, jadinya?"
"Emang kamu boleh sama Budhe?"
"Boleh kalau sama kamu. Ayo, tumben nih aku yang ngajakin naik gunung!"
"Nggak, ah. Nanti aku yang repot kalau kamu kamu tepar."
Dewi mendecak, ia menimpuk Arkan dengan kacang goreng yang sedang ia makan, "Aku gerah liat kamu di rumah udah kayak ODGJ! Bengong seharian! Pokoknya aku cariin, kamu tinggal iya aja!"
Arkan menghela napas pasrah, "Yowes."
-
Bogor, September 2016
Fiya menggeleng melihat Ran menitipkan peralatan mendaki gunung di rumahnya. Sebuah keril ukuran empat puluh liter, sleeping bag, matras, sepatu gunung dan sekarang anak itu sibuk mengepak beberapa potong baju yang ia bawa dari rumah ke dalam keril. Usahanya untuk menghentikan sahabatnya hingga menyebut-nyebut soal hantu gunung berubah bisu. Sama sekali tidak didengar.
"Lu emang dibolehin sama Tante Sandra?" tanya Fya.
"Lu kayak nggak tau mama gua aja, mana bakal dibolehin, yang ada gua langsung dipingit kayak siapa tu cewek di film Tangled. Bedanya gua dikurung di menara masjid kompleks!"
KAMU SEDANG MEMBACA
SUMMIT ATTACK [Selesai]
Teen FictionHalo, sebelum ketemu Ran dan Arkan, bisa follow aku dulu? Makasih~~ Arkan Halim baru putus cinta karena cewek yang dikencaninya selama bertahun-tahun selingkuh. Ranita Hanggini tak tahan lagi dengan orang tuanya yang selalu mendikte hidupnya. Sama...
![SUMMIT ATTACK [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/270329036-64-k776898.jpg)