Ketapel Heli beterbangan di langit alun-alun. Mainan itu dijual satu set; benda yang diterbangkannya dan karet yang menerbangkannya. Benda yang diterbangkan bentuknya panjang berbahan plastik ringan dengan sayap dari plastik mika di ujungnya. Sementara karetnya adalah karet gelang yang agak tebal dari yang digunakan untuk mengikat nasi uduk.
Sejak tadi Arkan dan Ran hanya melihat anak-anak sekitar memainkannya, bertaruh mana Ketapel Heli yang akan jatuh duluan; punya anak laki-laki berbaju merah di arah jam dua atau milik anak cewek bergaun pink di arah jam dua belas. Ketika sudah cukup bosan bertaruh, akhirnya mereka memutuskan untuk membelinya dan memainkannya sendiri.
“Nggak dua belinya? Jadi bisa tanding sama pacarnya, tinggian siapa terbangnya,” rayu si penjual dengan senyum jenaka.
Arkan dan Ran saling pandang mendengar abangnya menyebut ‘pacar’. Hubungan yang semacam itu antara Arkan dan Ran tentu hanya ada dalam kepala si Akang Penjual ini.
“Ada diskon pasangan nggak, Kang?” tanya Ran.
“Ih, atuh si eneng, teu aya diskon-diskonan! Kecuali beli semuanya, nih.”
“Ya udah, beli satu aja, biar tambah romantis, berbagi. Kalau beli dua, tanding, nanti kita malah berantem!” canda Arkan sambil menyodorkan uang.
“Hatur nuhun nya...” si penjual berlalu, kembali menawarkan dagangannya ke pengunjung lain.
“Coba! Aku duluan dooong!” Ran menengadahkan tangannya, meminta Ketapel Heli dari tangan Arkan.
Ketika mainan itu meluncur ke angkasa dan bercahaya, Ran bertepuk tangan antusias. Ia bangkit untuk mengejar mainannya yang terbang menjauh dan perlahan jatuh di atas rumput sintetis. Tawa kecil Ran muncul saat ia memungutnya dan kembali menerbangkannya ke angkasa. Ia bahkan mengajak beberapa anak yang juga sedang main Ketapel Heli untuk menerbangkannya bersama-sama, berlomba milik siapa yang paling lama mendarat.
Bukan salah Arkan jika kini ia terlihat seperti orang bodoh karena tertawa-tawa sendiri, melihat Ran yang berlarian ke sana ke mari mengejar mainannya benar-benar jadi hiburan tersendiri. Matanya tak lepas memperhatikan Ran yang kini melangkah ringan ke arahnya. Namun tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya, membuatnya mau tak mau mengalihkan pandangannya dari Ran. Ia terperangah mendapati sebentuk wajah yang kelewat akrab untuknya di balik punggungnya. Senyum mengembang di wajah orang itu dan Arkan tak ingat bagaimana cara berbicara.
“Hei,” bibir berlipstik nude itu bergerak menyapa.
“Rani ...” alis Arkan bertaut.
“Apa kabar kamu?” tanya Rani, masih dengan senyum.
Arkan mengingat dengan baik bagaimana senyum itu mampu menghangatkan hatinya dulu. Melumpuhkan akal sehatnya, yang membuatnya berkali-kali rela memaafkannya. Ia kira selamanya senyum itu akan menghantui, sempurna mengendalikannya bagai orang baru dimabuk cinta, namun kini ia terkejut mendapati betapa tenang jantungnya di hadapan senyum itu. Tak ada lagi debaran aneh menyenangkan yang dulu ia rasakan kala menatap mata Rani, hanya ada dingin yang merayapi.
“Baik. Kok di sini? Bukannya udah pindah ke Jakarta?” tanya Arkan.
Rani tersenyum simpul, diam-diam senang mengetahui kalau Arkan masih memperhatikannya hingga tahu keberadaannya belakangan ini.
“Iya. Ke Bandung ada kerjaan. Sekalian ini diajak main sama anak-anak. Kata mereka kamu nggak bisa ikut main malam tahun baru ini karena ada acara lain. Tapi kok ketemu di sini?”
Anak-anak? Teman SMA-nya, kah?
“Iya. Gua rencananya emang mau ke sini sama teman. Kalian ngumpulnya di sini? Bukan di rumah Abi?”
KAMU SEDANG MEMBACA
SUMMIT ATTACK [Selesai]
Teen FictionHalo, sebelum ketemu Ran dan Arkan, bisa follow aku dulu? Makasih~~ Arkan Halim baru putus cinta karena cewek yang dikencaninya selama bertahun-tahun selingkuh. Ranita Hanggini tak tahan lagi dengan orang tuanya yang selalu mendikte hidupnya. Sama...
![SUMMIT ATTACK [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/270329036-64-k776898.jpg)