Saktah #1 : Teman Masa Kecil

9K 928 72
                                        

"Kalau kamu jujur, nggak akan dimarahi!"

"Iya Mas Iyas, aku akan selalu jujur, terima kasih. Tapi tangan Mas Iyas berdarah,"

"Nggak apa-apa, nanti diobati sama Papa Nazril!"

"Ikut aku ketemu papaku, dia bisa obatin juga!"

Samar-samar aku ingat percakapan masa kecilku ketika tidak sengaja melihat bekas luka memanjang di jempol tangan kiriku. Luka yang waktu itu membuat acara di rumah papa Nazril—kakak umiku—sedikit kacau.

Waktu itu aku tidak begitu ingat detil kejadiannya, yang aku ingat, aku membantu seorang teman kecilku membersihkan gelas yang dia pecahkan. Karena kurang hati-hati, akhirnya benda tajam itu merobek jempol tanganku hingga menimbulkan luka yang lumayan panjang dan dalam, darah menetes terus.

Aku yang sejak kecil tidak pandai mengungkapkan rasa, hanya diam saja dan menganggap luka itu bukan luka serius. Aku hanya mencucinya lalu menutupnya dengan sapu tangan milik teman kecilku tadi tanpa tahu bahwa darah terus merembes. Alhasil acara sore itu mendadak buyar karena aku pingsan akibat keluar banyak darah.

"Bang pomade nya mana?" Suara bariton milik Rey menarikku dari lamunan. Langsung saja aku menutup jendela kamar dan menghampiri sepupuku itu.

"Kata umi kalau nyari sesuatu itu pakai mata bukan mulut!"

Bukan Reyshaka namanya kalau terpengaruh dengan omelan orang lain. Pria yang berprofesi sebagai dokter itu tetap dengan santainya menyisir rambutnya hingga klimis.

"Mau kemana sih? Jangan lupa nanti kita ketemu pemilik tanah lagi buat pembayaran akhirnya!"

Reyshaka bersikap hormat di depanku. "Siap laksanakan Tuan! Hamba bertolak ke Kantor Gubernur dulu, ada undangan! Dari sana ke rumah kakek dulu terus langsung nyusul ke panti." jawabnya.

Sepeninggalan Rey, aku langsung bersiap menuju lokasi pembangunan panti. Aku dan Rey punya misi tersendiri. Jika sebagian besar keluargaku fokus jihad dengan cara menyebarkan ilmu agama melalui pesantren, aku dan Rey yang agak bebal ini memilih dalan liyane alias jalan lain dalam berjihad.

Berawal dari aku dan Rey yang sama-sama punya insomnia, akhirnya suka keluyuran malam menyusuri jalanan, bertemu dengan bermacam-macam karakter manusia hingga membawa kami bertemu dengan anak-anak jalanan yang tak terarah dan tak terurus, dan finalnya aku dan Rey sepakat berpetualang dengan mereka.

Petualangan dimulai dari mendekati mereka, lanjut sedikit demi sedikit mengarahkan mereka ke jalan yang lurus meskipun kami sendiri masih suka belok, akhirnya kami punya rejeki untuk menyewa sebuah ruko yang dijadikan tempat belajar. Semakin lama ruko itu berkembang, dan menjadi sebuah panti asuhan kecil di mana di dalamnya ada anak-anak jalanan yang menggantungkan harapannya.

Hari terus berjalan hingga bulan, dan bulan terus berlanjut hingga tahun, aku dan Rey punya cukup rejeki membeli tanah untuk membangun panti asuhan. Sekarang proses pembangunannya sudah berjalan lebih dari separuh. Meskipun terasa berat, tapi aku dan Rey punya mimpi besar di sana.

"Umi, Ilyas berangkat ke Candisari sekarang." pamitku pada umi yang sedang sibuk mengarahkan santri menyiapkan makanan.

"Hati-hati! Pulangnya malam nggak?"

Aku menggeleng sambil mencomot risoles yang sudah ditata di piring. Ngomong-ngomong aku baru sadar umi menyiapkan banyak makanan, tidak biasanya. "Mau ada tamu?" tanyaku.

"Nanti kan ada acara alumnian. Kali ini agak  banyak, soalnya santri putra dan putri acaranya bareng."

Acara alumni?

10. SaktahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang