Hari yang cukup cepat bagiku. Pagi aku langsung ke pengadilan, lanjut ketemu klien dulu di kantornya, baru di jam dua siang ini aku menginjakkan kaki di kantor tercinta.
Hawa panas dan capek langsung menguap saat di ruangan teman-teman sedang bergembira. Setidaknya seperti itu yang terlihat. Mereka sedang tertawa sambil bercanda, masing-masing memegang cup boba dan sepotong pizza.
"Kita sambut pahlawan kita.... Embuuuun!!" Teriak salah satu temanku begitu melihat aku membuka pintu dan disambut tepuk tangan dari yang lain.
Mira langsung menarik kursi dan mendudukan aku di sana, Jefri mengambilkan aku boba dan pizza, kebetulan hari ini bukan jadwalku puasa. Bukan hanya itu, sekarang Mira sudah berada di belakangku untuk memijit pundakku.
"Dasar peres kalian!!" cibirku mendapati kelakuan konyol dari teman-teman.
Mira dan yang lainnya malah semakin tertawa, termasuk Mas Rama yang sejak tadi juga cuma melihatku sambil minum bobanya, jangan lupakan senyum dan tatapannya.
"Harus baik dong sama pahlawan kantong kita, di akhir bulan begini terus kita menang kasus, dapat succes fee. Ya meskipun tetep kamu dan Mas Bos sih yang dapat gede," ujar Mira masih sambil memijit pundakku.
"Maka dari itu, karena kita hanya dapat cipratannya, nanti pulang kerja kita makan ditraktir sama kamu dan Mas Rama!" imbuh Gita.
Aku langsung memasang wajah kaget, kebiasaan banget mereka suka memutuskan sepihak. Tapi walaupun begitu aku tetap menyanggupi permintaan mereka sebagai rasa syukurku.
Jadi aku baru saja memenangkan kasus pertamaku, maksudnya kasus yang benar-benar aku sebagai penanggung jawabnya, dari awal lulus aku hanya sebagai asisten, hanya bertugas membuat draft kronologi, atau surat menyurat. Alhamdulillah kemarin dapat kasus pertama tentang perebutan hak cipta nama perusahaan, benar-benar aku yang berkuasa dari awal hingga akhir, dan menang. Alhamdulillah.
Pendapatan pengacara memang hanya dari klien, biasanya ada lawyer fee yang tetap harus dibayar klien sesuai kesepakatan, entah mau menang atau tidak, sebagai bayar jasa hukum yang kami berikan. Dan ada juga succes fee yang biasa diberikan klien ketika berhasil memenangkan kasusnya, yang ini lumayan banyak. Alhamdulillah.
Tapi bukan semata berapa nominalnya, aku lebih mensyukuri tentang keberhasilan ini. Allah kasih aku kemudahan mengurus semua ini, yang aku dan tim lakukan tidak sia-sia. Beberapa kali lembur, sampai harus kesana kemari sampai akhirnya bisa memenangkan ini. Seperti ada rasa kepuasan dan kebanggaan tersendiri bahwa aku tidak sia-sia sampai harus jauh dari orangtua.
Euforia kemenangan tadi berakhir dan masing-masing kembali ke meja. Aku duduk di tempatku sambil membalas beberapa chat yang sejak tadi pagi belum sempat aku baca. Aku fokus pada satu kontak yang berada di bawah karena tak ada chat terbaru darinya. Terakhir dua hari yang lalu ketika aku akan berangkat ke sini.
"Terimakasih ya, Embun! Buat kerja keras lo beberapa hari ini." Aku mendongak dan mendapati Mas Rama yang berdiri di depan mejaku.
"Jangan berlebihan wahai Mas Bos! Kita semua kerja keras."
Mas Rama tertawa kemudian menarik kursi sebelah untuk bisa duduk di depanku. "Ya kasus ini kan benar-benar lo yang lebih banyak urus. Thank's banget karena lo, performa perusahaan kecil kita ini jadi semakin bagus. Lo tau kan klien yang kita tangani kemarin ini cukup terkenal, jadi ya sekalian lah promosiin lawfirm kita. Gue tetep berterimakasih."
Akhirnya aku mengangguk agar bosku ini diam, aku sama sekali tidak menganggap semua ini hasil kerja kerasku sendiri, teman-teman juga banyak yang membantu.
"Gue harap lo nggak ada niatan pergi. Gue nggak mau kehilangan rekan kerja sepotensial lo."
Lagi-lagi aku hanya tersenyum dan mengangguk tanpa mau memikirkan lebih lanjut apa maksud tatapan dan senyumannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
10. Saktah
Romance"Belajar apa hari ini Gus, dengan anak-anak?" "Tajwid. Anak-anak belajar Bacaan istimewa dalam al quran, bacaan gharib." "Kenapa membaca al quran harus dengan tajwid, Gus?" "Perintah Allah. Agar kita menjaga kemurnian Al quran, melafadzkan sesuai h...
