Saktah #3 : Sandal Jepit

6.6K 824 84
                                        


Embun Ayudyaningtyas
Embun Citra Isnaeni
Embun Cahyanti
Embun Hadzkadina Gayatri

Pernah nggak mengalami hal unik dan menggelikan ketika sedang antusias menanti suatu pengumuman? udah nggak sabar banget mau tau nama kita masuk enggak, eh ternyata nama yang sama banyak banget. Udah gitu nama kita paling akhir lagi.

Haha, alhamdulillah, nasib punya nama yang luar biasa bagusnya. Terimakasih banget untuk papa terbaikku yang udah kasih nama secantik itu. 

Siang ini aku sedang berguling sendirian di kamar, sejak pagi menanti pengumuman penerbitan kartu keanggotaan advokat, udah nggak sabar, taunya harus tetap berlatih sabar karena banyak nama yang awalnya sama.

Tentang nama yang sama, biasanya orang cenderung akan merespon kesel karena merasa namanya pasaran. Nggak salah juga sih, karena orang itu biasanya ingin merasa spesial, ingin merasa mempunyai ciri terbaik pada dirinya. Sangat manusiawi itu. Malah bagus, berarti tingkat self love nya udah level  kerajaan.

Papa memberiku nama pasti udah mikir lama, nggak sembarangan menyusunnya dan berharap juga arti dari namaku itu bisa menjadi doa untuk anaknya. Kata mama, papa mikir nama itu udah sejak pertama tau bahwa mama hamil, udah nyiapin dua nama. Dan ternyata yang keluar itu aku.

Embun Hadzkadina Gayatri.
Embun karena papa ingin anak satu-satunya ini menjadi perempuan yang sebening embun pagi yang menyejukkan.
Hadzkadina karena papa ingin anaknya menjadi perempuan yang taat pada agamanya.
Gayatri karena papa ingin anak perempuannya tumbuh menjadi anak yang cerdas dan sejahtera.

Ketika tau arti nama itu, aku melongo sendiri. Kayak jadi beban mental banget, ada harapan besar papa dan mama dibalik nama itu. Semoga tidak mengecewakan harapan mereka.

Kalau aku sendiri tidak masalah punya nama yang sama dengan banyak orang. Nama kan doa. Yang harus dipahami bahwa bukan hanya orangtuaku yang menginginkan doa baik untuk anaknya, di luar sana pasti juga banyak orangtua yang mendoakan anaknya lewat nama terbaik.

Jadi nggak usah kesel kalau ada nama yang sama, yang terpenting itu adalah pribadi kita sendiri. Nama boleh sama, tapi karakter dan kepribadian belum tentu sama. Intinya nama bisa pasaran tapi karakter tidak. Jadilah yang terbaik versi kita sendiri.

Seperti halnya orang-orang yang berjualan, banyak yang nama toko atau jualannya sama, tapi pasti yang orang cari dan teliti adalah kualitas barangnya. Yang paling bagus itu sudah pasti jadi yang paling diminati.

Suara ketukan pintu diiringi suara mama menarikku dari konsentrasi lamunan. "Embun! Mama masuk ya?"

Aku beranjak dari kasur untuk membuka kunci pintu. "Anak perawan udah bangun, Ma! Jangan dikatain."

Mama langsung mencubit pipiku karena aku sudah mendahului ucapannya. "Suudzon sama mama sendiri! Mama kesini mau nanya sama kamu, jadi ikut jenguk Om Rizky enggak?"

"Di rumah sakit? Ikut dong, mumpung belum balik Jombang."

"Iya, masih di rumah sakit." jawab mama dengan nada yang tiba-tiba berubah. Aku mencium pipi mama kemudian bersiap berangkat ke rumah sakit.

Sebenarnya aku paham apa yang membuat nada bicara mama tiba-tiba tidak semangat begitu. Setiap mendengar nama Jombang, mama langsung berubah sedih begitu.

Bukan karena kotanya, tapi karena aku yang kekeh sekali mengambil kesempatan kerja di sana. Maklum lah, anak satu-satunya, perempuan lagi, dan harus tinggal jauh. Sebenarnya pernah ragu juga, tapi ada papa yang selalu meyakinakan aku.

Papa pikirannya lebih terbuka dari mama, papa yang paling mendukung aku jadi mandiri dan tidak lemah, beliau juga yang paling mendukung saat aku minta izin kerja jauh asal aku tetap bertanggungjawab pada diri sendiri.

10. SaktahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang