Bulan madu biasanya dimanfaatkan oleh pengantin baru untuk lebih mengenal satu sama lain, lebih mendekatkan hubungan sambil merencanakan langkah hidup ke depan. Menghabiskan waktu di tempat indah dan menikmati beberapa hari yang begitu menyenangkan. Tapi nggak harus ke suatu tempat juga sih, karena nggak semua pengantin baru punya kesempatan pergi bulan madu, masing-masing punya cara sendiri untuk menikmati hubungan.
Aku dan Mas Iyas contohnya, mungkin karena akad dimajukan, kami sampai belum ada rencana apapun. Eh, aku sih, nggak tau kalau Mas Iya, dia kan sering tak terduga.
Alhamdulillah dapat kado dari Rey dan Shanum, dan acara bulan madu yang mendadak ini tetap terasa menyenangkan meskipun dinikmati dengan cara berbeda. Kebanyakan pengantin baru kalau bulan madu pasti menghabiskan waktu untuk berburu tempat wisata, mengabadikan foto, kuliner atau apapun yang penting berdua.
"Sebelum kita bahas lebih jauh, kamu masih ingat syarat haid itu apa aja?"
Sambil menggigit kentang goreng, aku mencoba menyelami ingatan ngajiku yang udah lama banget, semoga belum hilang.
"Wanita berumur minimal 9 tahun, darah yang keluar terus menerus minimal selama 24 jam, darah yang keluar tidak lebih dari 15 hari 15 malam, keluar setelah masa minimal suci, yaitu 15 hari 15 malam."
Mas Iyas yang duduk di sampingku tersenyum dan mengangguk. "Alhamdulillah nggak amnesia. Karena jawabannya bener, aku kasih hadiah." ucapnya.
"Apaan?"
Tanpa permisi Mas Iyas mendekat untuk mencium pipiku.Mau tidak mau aku langsung tertawa senang, gini amat hadiahnya malah bikin kram otot bibir karena senyum terus.
Nah beginilah, bulan madu ala aku dan Mas Iyas. Karena di luar sedang hujan, akhirnya kami berdua memilih berdiam diri di kamar hotel, pesan banyak makanan sebagai amunisi privat ngaji. Kebetulan aku sedang mengalami sedikit masalah tentang masa menstruasiku yang tidak normal, baru di pertengahan puasa kemarin aku mengalami siklus bulanan dan belum ada lima belas hari suci, tadi pagi waktu mau mandi shubuh, malah keluar flek. Ya sudah, akhirnya memanfaatkan sumber daya yang ada untuk membahas masalah yang sedang aku alami ini.
"Udah nyengirnya! Kembali ke pelajaran." ucap Mas Iyas.
"Lha situ yang bikin saya nyengir terus!"
Dia tertawa sembari memegang pipiku dan kembali mencoret-coret kertas untuk menjelaskan padaku.
"Kamu mulai haid kemarin tanggal berapa?"
Aku membuka kalender di ponsel dan mengingat-ingat hari pertama aku keluar darah. "tanggal 15 keluar selama empat hari, tanggal 19 shubuh aku mandi besar."
Sambil terus mencoret kertas, Mas Iyas senyum-senyum sendiri, membuat aku harus bertanya karena senyumnya aneh. "Kenapa kok malah senyum-senyum?"
"Enggak apa-apa, syukur kalau udah biasa keramas shubuh-shubuh." jawabnya dengan tenang tanpa rasa canggung.
Untuk menutupi rasa malu aku segera mencari pengalihan. "Kamu itu orang teraneh yang pernah aku temui. Di luar kakunya minta ampun, tapi sekarang berbanding terbalik."
"Biasanya gitu kalau di depan orang yang dicintai, bisa apa adanya." jawabnya dan sekali lagi tetap dengan ekpresi datar tak merasa bersalah telah membuat aku salah tingkah.
Mas Iyas memegang daguku dan mengarahkan agar aku melihat hasil coret-coretannya. "Udah dibilang jangan cengar-cengir. Lanjut nggak nih?"
"Iya dong!"
"Kamu keluar darah pertama selama 4 hari, itu hukumnya haid. Terus dari tanggal 19 sampai 26 selama 8 hari itu hukumnya suci, dan sekarang di tanggal 27 ini kamu keluar darah lagi masih dihukumi haid bukan darah kotor atau istihadloh karena jika dihitung dari tanggal 15 awal mulainya kamu haid yang lalu sampai hari ini itu baru baru ada 13 hari dan itu masih dalam masa aktsarul haidl alias batas maksimum hari haid. Bisa dipahami?"
Aku masih mematap coret-coretan tanggalan yang Mas Iyas tulis sambil mencerna penjelasannya. "Oh iya, paham. Karena batas maksimum haid itu kan 15 hari, dan bisa dibilang aku ini masih memenuhi syarat itu. Jadi ini batas darahku di hukumi haid sampai tanggal 29 ya? Kalau tanggal 30 masih keluar itu berarti bukan haid lagi tapi darah kotor atau istihadloh?"
"Yes!"
Aku menghela napas karena merasa sedikit berat, membayangkan bagaimana ribetnya melakukan sholat di saat istihadloh, harus menyumbat dengan kapaslah, harus cepet-cepet wudhu dan sholatnya lah.. Subhanallah..
Seperti tau maksud keluhanku, Mas Iyas tersenyum sembari melakukan hal yang paling dia suka, memegang pipiku. "Wanita itu guampang banget cari pahala di setiap keribetannya, syaratnya cuma ada dua, ikhlas menjalaninya dan bersyukur."
Sungguh luar biasa Allah menciptakan rasa tenang lewat berbagai cara, termasuk untukku, hanya dengan melihat senyum Mas Iyas, aku menjadi tenang. Benar kata dia, ikhlas dan bersyukur ada kunci mudah menjalani keribetan kita sebagai wanita karena dengan ikhlas kita sudah bisa menerima qadla dan qadar yang Allah berikan.
"Masalah haid rumit banget ya Mas? Kayaknya dulu aku suka nggak mudeng kalau pas ngaji, karena nggak paham jadi sering ketiduran."
Sambil menikmati jus nya, Mas Iyas tertawa pelan. "Ya begitulah, masalah wanita banyak dan rumit tapi insyaalah di balik semua itu Allah juga menyiapkan ganjaran besar. Tentang haid ini aja semisal masuk dalam mata kuliah bisa berapa SKS sendiri, banyak pokoknya. Yang ngaji aja kadang masih bingung apalagi yang enggak. Bagi muslimah, belajar bab haid ini hukumnya wajib 'ain,"
"Ada cara lain sih semisal nggak mau ngaji." ucapku ketika berusaha mensejajarkan duduk dengannya dan menikmati pemandangan puncak dari balik jendela kaca.
"Nikah sama Kang Santri," lanjutku dengan dibarengi tawa.
Mas Iyas ikut tertawa dan menjatuhkan tangannya tepat di puncak kepalaku kemudian menariknya pelan hingga aku bersandar di lengannya. Sejenak kami berdua saling bersandar sembari melihat kaca yang berembun karena hujan.
"Nikmati waktu ini, karena besok kalau udah sampai Semarang kita bakal direpotkan dengan urusan resepsi." ujar Mas Iyas.
"Aku nggak mau nyiapin apa-apa, nderek Mas Iyas aja."
"Nderek apa malas ribet?"
Otomatis aku tertawa karena maksud tersembunyiku terbaca olehnya.
"Jadi mau dekorasi bunga asli?"
Aku menggeleng dan mengeratkan pelukan di perut Mas Iyas. "Waktu itu cuma bercanda, Gus! Ya Allah! Bunga asli apalagi penuh dan sepanjang jalan, pasti mahal banget. Nggak usah, mending ditabung buat naik haji."
Tawanya terdengar lagi. "Masih ingat aja semboyan jaman dulu," ujarnya.
"Apa sih yang nggak aku ingat? Jamaah Ilyasiyah paling militan aku ini."
Dulu waktu kecil Mas Iyas sering bilang, harus rajin nabung, jangan boros jajan, mending tabung buat naik haji. Masyaallah sekali ingatanku kalau tentang Mas Iyas.
Mas Iyas kembali tertawa dan mengeratkan pelukannya, kalau diperhatikan, pria ini rasanya sekarang sering banget tertawa, hal receh pun bisa dengan mudah membuatnya tertawa alhamdulillah.
"Ngomong-ngomong kenapa Fathin ada di daftar urutan undangan paling atas?" tanya Mas Iyas
Aku meringis pelan. "Ya nggak apa-apa, pas Mas Iyas nyuruh aku ngelist nama yang mau di undang, entah kenapa yang pertama terpikir nama Fathin, dia kan sahabat Mas Iyas, harus dong dikasih pertama kali."
"Bilang aja cemburu!" balasnya pelan.
Aku mendongak melihat wajahnya. "Berarti Mas Iyas cemburu juga sama Rizwan, soalnya namanya ada di daftar teratas yang Mas tulis."
Dia tidak menjawab melainkan hanya memasang wajah datar dan menutup wajahku dengan selimut.
Karena saking menikmati momen ini, aku sampai tidak sadar kalau dia menarik selimut dan kini kami duduk bersandar tempat tidur, saling berpelukan dan berbalut selimut. Udara di puncak tidak hujan saja sudah dingin, apalagi ditambah hujan.
Ya Allah.. Hamba sangat bersyukur...
KAMU SEDANG MEMBACA
10. Saktah
Romance"Belajar apa hari ini Gus, dengan anak-anak?" "Tajwid. Anak-anak belajar Bacaan istimewa dalam al quran, bacaan gharib." "Kenapa membaca al quran harus dengan tajwid, Gus?" "Perintah Allah. Agar kita menjaga kemurnian Al quran, melafadzkan sesuai h...
