Saktah #8 : Bukan Perumpamaan

4.7K 838 100
                                        

"Tentang pertanyaan terbuka waktu itu, bagaimana jika aku yang datang melamar kamu dan meminta kamu memikirkan ulang tentang pekerjaan di sini?"

Pertanyaan paling panjang, paling mengejutkan, paling tak disangka, dan paling membuat aku sesak napas untuk beberapa detik, selanjutnya keringat dingin menyerang. Aku harus segera periksa kesehatan jantungku.

Walaupun detak jantungku sudah tak terkendali, aku tetap berusaha tenang. Nggak sia-sia selama ini belajar mengontrol emosi agar tetap tampil prima di depan lawan."Bagaimana jika? Berarti ini hanya sebuah perumpaan kan?" tanyaku.

Mas Ilyas tidak menjawab melainkan hanya tersenyum tipis.

"Gus Iyas sedang ingin melamar wanita sibuk seperti aku kah? Lalu Gus Iyas ingin menanyakan pendapatku?" tanyaku lagi.

Sungguh! Sebenarnya bukan pertanyaan itu yang ada di pikiranku. Tapi entah kenapa aku jadi kehilangan konsentrasi sehingga mengeluarkan pertanyaan yang sama sekali tidak relevan dengan pembahasan ini.

"Jawab aja!" ucapnya pelan.

Aku menatapnya sekilas lalu kembali membuang pandangan ke Rey dan sepupuku yang asyik main catur. "Sudah aku jawab waktu itu, Gus! Dan jawabannya sama."

"Berarti ditolak?" tanyanya lagi.

Aku mengangguk pelan sebagai jawaban. Sejak kecil aku sering main bersama Mas Ilyas, dan aku sungguh mengidolakan dia. Darinya aku bisa menemukan figur kakak, sahabat, dan guru. Sejak kecil juga, jika ditanya kenapa aku begini, kenapa begitu, pasti kebanyakan jawabannya karena ikut Mas Ilyas. Intinya di mataku, Mas Ilyas adalah sosok yang baik banget, cocok dijadikan panutan.

Walaupun irit omongnya tapi dia pria yang baik, bisa jadi teman diskusi yang baik, agamanya pun nggak usah diragukan lagi, tapi entah kenapa semua hal itu harus tersampingkan hanya karena dia mempermasalahkan karir. Bukannya sudah tidak jamannya lagi seorang wanita harus berdiam diri di rumah? Wanita bisa melakukan keduanya, karir dan tugasnya sebagai istri, kenapa harus mengorbankan salah satunya?

Suasana mendadak menjadi dingin, tak ada suara lagi dari Mas Ilyas, matanya menatap lurus ke arah depan. Aku paling tidak betah, duduk tapi berdiam diri seperti ini. Akhirnya aku memilih kembali membuka obrolan. "Apa yang membuat Gus Ilyas keberatan dengan wanita yang berkarir?"

Dia tidak langsung menjawab karena masih sibuk mengetik pesan di ponsel, baru setelah dia meletakkan ponsel, dia menjawab, "Bukan keberatan dengan wanita berkarir, hanya saja aku akan butuh seorang istri yang waktunya lebih banyak di sampingku, menemaniku menjalankan amanah yang lumayan berat, sama-sama berjuang untuk mengabdi. Kalau dia lebih sibuk bekerja, rasanya akan sulit."

Aku mencoba memahami berada di posisinya. Mas Ilyas menyinggung soal amanah, aku jadi tersadar bahwa dia adalah orang yang akan meneruskan kepengurusan pesantren dan pasti memang lumayan berat. Sekarang aku tau kenapa dia keberatan dengan wanita sibuk bekerja.

Saat ini aku masih berusaha mengelola perasaan, entah kenapa ada sesuatu yang bergejolak di hati. "Coba Gus Iyas bicarakan dengan wanita itu secara mendalam, sepertinya memang lumayan berat, siapa tau ada solusi antara kalian."

Mas Ilyas menoleh. "Sudah," jawabanya.

"Lalu jawabannya, Gus?"

"Seperti jawaban kamu," 

Aku semakin dibuat pusing olehnya. Sekarang pikiranku melayang jauh, kenapa pembicaraan ini menjadi tidak jelas ya? Jadi sebenarnya pertanyaan awal tadi itu beneran atau perumpaan aja?

"Aku jadi bingung, Gus!" ucapku pada akhirnya sambil mencoba meringis karena memang sudah merasa bingung dengan arah pembicaraan ini.

Mas Ilyas memutar tubuhnya, kini wajahnya lebih jelas terlihat di depan mataku. "Aku ingin melamar kamu!" ucapnya secara singkat, padat dan jelas. Sejelas tanganku yang terlihat gemetaran.

10. SaktahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang