Ada beberapa penjelasan kenapa waktu terasa begitu cepat seiring bertambahnya umur. Di usia anak-anak, mereka akan merasakan waktu berjalan lebih lama karena banyak hal yangbisa mereka pelajari, otak mereka sibuk mencerna ilmu sehingga membuat waktu berjalan lebihlama. Sedangkan manusia yang lebih dewasa terbiasa dengan pengalaman hidup sehari-hari,waktu akan terasa berjalan dengan lebih cepat, tingkat kebiasaannya akanbertambah seiring dengan usia.
Orang-orang yang sibuk kerja pasti akan merasakan waktu berjalan begitu cepat karena tak banyak lagi hal yang dipelajari sehingga otak tersugesti untuk mengerjakan rutinitas, bukan lagi tentang penyerapan ilmu.
Ribet ya aku ngomongnya?
Pada intinya, aku hanya ingin curhat bahwa saat ini aku merasakan waktu terasa begitu cepat berlalu karena aku yang sibuk bekerja. Terlebih lagi, kasus yang sedang aku kerjakan ini benar-benar menguras waktu, tenaga dan pikiran. Berurusan dengan orang yang punya uang dan kekuasaan itu butuh usaha yang sangat banyak.
Saat ini, beberapa minggu berlalu dan aku juga tim masih disibukkan dengan tarik ulur kasus pelecehan seksual yang melibatkan salah satu sanak saudara pejabat. Secara kasat mata, pejabat itu tak pernah ikut campur tapi andai saja publik tau, di belakang itu, gaduh dengan tekanan yang datang dari segala sisi. Bahkan aku pernah mendapat teror hingga ke rumah bude. Tersangka berdalih bahwa yang terjadi adalah atas dasar suka sama suka, sedangkan korban yang manjadi klien ku, tidak pernah mengakui itu, dia sampai trauma dan harus didampingi psikiater.
Kalau boleh jujur, kasus yang ini benar-benar mengusik hati nuraniku, dan untuk pertama kalinya aku stres dengan tekanan yang aku terima. Aku ingin mengeluh lelah tapi aku malu.
"Embun, bunganya udah siap semua kan?" Pertanyaan mama berhasil menarikku dari renungan.
"Sudah, Ma! Sudah di mobil semua," jawabku.
"Ya udah, berangkat yuk! Jemput papa dulu."
Tanpa banyak komentar, aku masuk mobil dan duduk manis di kursi samping pengemudi karena mama dengan sukarela bersedia menjadi sopir sampai rumah sakit, setelah itu gantian aku yang menjadi sopir dan mama sama papa leha-leha di belakang. Ya seperti itulah nasib mirisku kalau pergi sama mereka. Tapi aku bahagia.
Sabtu sore ini papa mengajak aku dan mama untuk ziarah ke makam beberapa ulama yang ada di Semarang ini, dan tentunya tujuan utama adalah keluarga Al-Anwar.
Sejak tiga tahun terakhir, agenda ziarah ini menjadi agenda rutin papa setiap bulan sya'ban menjelang ramadhan. Awalnya papa ikut Om Nazril dan sekarang papa rutin melakukannya bersama aku dan mama.
Dari rumah sakit menjemput papa yang bekerja, aku langsung mengambil alih kemudi dan membawa dua orang tercintaku ini berziarah ke beberapa tempat dan terakhir di pesantren Al- Anwar.
Begitu sampai di Al Anwar, aku sengaja memarkirkan mobil lewat pintu belakang agar langsung mengarah ke area pemakaman. Papa dan mama berjalan lebih dulu dan aku di belakang membawa keranjang bunga. Melewati komplek putri ini serasa membawaku ke beberapa tahun yang lalu saat aku masih menjadi santri di sini. Ada suara santri yang sedang bercanda, ada juga yang mengaji, dan ada juga yang lalaran. Mendengar riuh suara itu membuat hati kecilku tercubit. Aku rasa rindu dan malu yang menyusup, rindu menjadi santri lagi dan malu karena aku sudah begitu lama menyampingkan ibadahku.
Dulu ketika aku masih menjadi santri, ibadah wajib selalu terawat, masih ditambah sunahnya. Tapi sekarang, aku terlalu sibuk bekerja, aku terlalu terlena dengan pencapaian-pencapaianku karirku sehingga aku merasa begitu jauh dengan Allah. Shalat malamku hanya terlaksana ketika aku sedang tidak capek, sholat dhuha pun ketika aku sedang tidak terburu-buru berangkat kerja. Astaghfirullah...
KAMU SEDANG MEMBACA
10. Saktah
Romantik"Belajar apa hari ini Gus, dengan anak-anak?" "Tajwid. Anak-anak belajar Bacaan istimewa dalam al quran, bacaan gharib." "Kenapa membaca al quran harus dengan tajwid, Gus?" "Perintah Allah. Agar kita menjaga kemurnian Al quran, melafadzkan sesuai h...
